Ilustrasi. Mentan Amran Sulaiman. (Ist)

Mentan Optimistis Saat Ini Momen yang Tepat Generasi Muda jadi Petani

JAKARTA (Independensi.com) – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman optimistis saat ini merupakan momen yang tepat bagi generasi muda untuk menjadi petani ketimbang jadi karyawan kantoran di kota-kota besar.

Pasalnya, menurut Amran, kehidupan petani sudah semakin baik. Hal itu tak lepas dari kerja keras dari pemerintahan di bawah kepemimpinan Jokowi-JK.

“Adik-adikku mahasiswa sekalian, kalian mau kan tamat kuliah menjadi petani modern?” Tanya Amran saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (2/10/2017).

Menurut dia, beberapa waktu lalu, dunia pertanian di negeri ini seakan tidak menjanjikan kehidupan yang layak. Itulah yang menyebabkan generasi muda, bahkan anak dari para petani sendiri tak mau menjadi bercocok tanam lagi seperti orang tuanya.

“Mahasiswa tidak mau bergerak di sektor pertanian, kenapa? Rugi. Akhirnya, mahasiswa bergerak ke kota. Syukur kalau memang dapat kerja di kota, kalau tidak kan bisa jadi gembel,” jelas Amran.

Amran melanjutkan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup petani yakni mengasuransikan tanaman petani ke perusahaan asuransi.

Itu artinya, jika nanti suatu waktu ada musibah, baik itu karena cuaca ataupun hama, kerugian petani akan diganti.

“Kita asuransikan tanaman milik petani. Kita kasih benih, kita kasih pupuk, kita kasih traktor. Kita cegah dengan pendekatan kesejahteraan. Buat sektor pertanian menarik, yaitu menguntungkan. Tanpa kampanye, anak muda pasti mau menekuni sektor pertanian,” jelasnya.

“Petani tidak butuh APBN, petani hanya butuh kebijakan yang berpihak untuk rakyat. Jangan peduli dihujat, yang penting petani sejahtera,” kata Menteri Amran lagi.

Diketahui untuk mengasuransikan tanaman milik petani, Kementerian Pertanian telah bekerja sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo Persero). Dimana pemerintah membayarkan asuransi Rp36.000 per hektare lahan milik petani.

Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka pihak asuransi akan mengganti Rp 6 juta per hektare untuk para petani. (berbagai sumber/rmol.co)