Penyanyi asal Batak Toba, Nahanson Trio ketika tampil di Cafe R2, Kawasan Sanur, Bali, Sabtu (4/11/2017)

Café R2 di Sanur Bali, “Internasionalisasi” Budaya dan Makanan Khas Batak Toba

SANUR,BALI – Bisnis café makin trendy di mana-mana, terutama di kota-kota besar dan juga daerah wisata di seluruh Tanah Air. Café juga diindentikkan sebagai tempat nongkrong, kongkow-kongkow, pesta minuman, tempat hura-hura hingga tempat-tempat yang diasosiasikan dengan pikiran negative atau buruk.

Suka tidak suka masih ada yang beranggapan bahwa Café itu negative, karena diaggap sebagai tempat mabuk, minum alkohol, bahkan tempat pertemuan bagi orang-orang yang sering selingkuh dan lain sebagainya. Intinya, orang yang sering keluar masuk café pastinya orang yang kurang baik, terutama café di kota-kota tujuan wisata seperti di Bali.

Tapi kesan itu, mungkin dulu. Sekarang seiring dengan kemajuan jaman dan kecanggihan informasi, maka suasana dan kesan buruk itu sudah berubah. Hal itu pula yang mau ditunjukkan pengelola Café R2. Cafe yang terletak di jalan by pas Sanur – Bali ini selalu menampilkan hal – hal yang positif dan jauh dari kesan buruk.

Togatorop, Owner Cafe R2 Sanur Bali

Café R2 mengusung konsep seni budaya daerah dan makanan daerah dalam menjalankan bisnisnya. Setiap hari café ini selalu menyiapkan penyanyi untuk menghibur para pengunjung. Sabtu, 4 November 2017 akhir pekan lalu misalnya, Cafe ini menampilkan bintang tamu langsung dari Sumatera Utara Nahanson Trio.

Bintang tamu tersebut  menyanyikan lagu – lagu Batak dengan apik, sehingga pengunjung merasa sangat nyaman dan betah berlama-lama di situ. Seperti impian pemiliknya,  Togatorop yang berasal dari Medan, Sumatera Utara ini, ingin menyebarluaskan budaya Batak lewat menampilkan seni budaya di Café R2.  “Saya ingin memperkenalkan budaya Batak di Pulau Bali, jadi ya seperti ini lah yang dapat saya lakukan.” kata bapak 3 orang anak ini.

Togatorop juga menghias cafenya dengan ulos, kain khas bernuansa adat Tapanuli. Seperti yang kita ketahui ulos merupakan salah satu pakaian adat dari Batak. Bukan hanya ulos saja, hidangan makanannya pun ada saksang, napinadar, panggang, dan masih banyak menu yang berasal dari budaya Batak.

Pangsa pasar Café R2 ini jelas bukan orang Batak saja. Karena di wilayah Pulau Bali, maka para pengunjung yang di sasar wisatawan mancanegara.  Terbukti, akhir pekan lalu,  dilihat dari pengunjung nya malam  itu yang hadir rata-rata adalah  turis dari Jepang, Australia dan negara-negara lainnya. Para turis itu sangat menyukai musik dan budaya Batak Toba. Lagu-lagu Batak kini mulai dinyanyikan di cafe atau acara musik di luar negeri.

Ini masalah keberanian saja, kata Togatorop ketika ditanya soal kenekatannya membuka Café R2 yang bernuansa Batak Toba tersebut. Apalagi makanan yang disajikan juga semua makanan khas daerah. Tidak semua berani membuka usaha seperti itu, mengingat biaya investasi di Bali sangat mahal.

“Saya berharap agar anak – anak muda tidak mau kalah dengan saya, harus berani dan mau mengembangkan budaya Batak. Jangan takut masalaah modal pasti akan ada membantu, kalau mau dan berusaha pasti ada jalan.” Jelasnya. (Carter Silverius)