Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ketika membaca puisi di Balai Pemuda Surabaya saat menghadiri ulang tahun ke- 45 Komunitas Kesenian Bengkel Muda Surabaya, Rabu (20/12/2017) malam.

Tri Rismaharini Ingin Surabaya Punya Tempat Pertunjukan Seni Seperti di New York

Surabaya (IndependensI.com) – Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Tri Rismaharini semakin diminta menjadi seniman dadakan. Bu Risma–begitu ia biasa di sapa rakyat–didaulat membaca puisi di Balai Pemuda Surabaya saat menghadiri ulang tahun ke- 45 Komunitas Kesenian Bengkel Muda Surabaya, Rabu (20/12/2017) malam.

Dalam hal bersenandung membaca puisi bukan hal baru bagi Risma. Risma sudah kerap membaca puisi di berbagai acara. Karena itu, ketika diminta membaca puisi oleh Komunitas Kesenian Bengkel Muda, tanpa canggung-canggung Bu Risma langsung maju naik panggung. “Maaf kalau bacanya jelek ya, saya sudah lama tidak baca puisi,” katanya.

Risma memilih sebuah puisi secara acak dari buku kumpulan puisi “Senandung Sanubari” karya penyair Tajuddin Nur yang diterbitkan tahun 2013. “Judulnya ‘Ya Muhaimin’,” ucap Risma.

Lantas mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya itu berdeklamasi layaknya seorang penyair membacakan puisi ‘Ya Muhaimin’ sampai tuntas, yang mendapat tepuk tangan dari para hadirin.

Para hadirin yang sebagian besar adalah seniman kemudian meminta Risma untuk membaca sebuah karya puisi lainnya. Risma menurutinya dengan membacakan puisi berjudul “Sajak malam 14”, masih karya penyair Tajuddin Nur, dari buku kumpulan puisi “Narasi Bening”, yang juga diterbitkan di tahun 2013.

Kehadiran Risma pada perayaan Ulang Tahun ke- 45 Komunitas Kesenian Bengkel Muda Surabaya yang bertempat di Kompleks Balai Pemuda Surabaya menunjukkan rasa kepeduliannya terhadap seniman Kota Surabaya.

Dalam kesempatan tersebut, mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya itu meluruskan kontroversi Pemerintah Kota Surabaya yang belakangan ramai diberitakan akan menggusur Kantor Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan sekretariat Bengkel Muda Surabaya dari Kompleks Balai Pemuda, yang selama ini dikenal sebagai tempat beraktivitas para seniman di Surabaya.

Risma pun menegaskan akan tetap membangun Balai Pemuda menjadi elit. Namun begitu, dia menjelaskan tetap akan memberi ruang kesenian di lingkungan Balai Pemuda. “Ada plaza yang tembus ke Balai Pemuda. Kami sediakan juga ruang untuk panggung kesenian,” katanya.

Menurut dia, ide menjadikan Balai Pemuda sebagai kawasan elit terinspirasi dari tata ruang di Kota New York, Amerika Serikat. “Saya ingin Surabaya punya tempat pertunjukan kesenian yang elit seperti di New York dan saya yakin pasti bisa,” ucapnya.

Intinya, Risma menekankan, jika kesenian mau dijadikan sebagi profesi yang profesional harus dikelola dengan serius.

Kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) di Jalan Kusuma Bangsa Surabaya, lanjut dia, jika kontraknya dengan Hitech Mall sudah habis, juga akan difungsikan sebagai pusat pertunjukan kesenian.

Risma ingin ada beberapa lokasi yang berbagi peran untuk pertunjukan kesenian di Surabaya, semisal Balai Pemuda untuk pertunjukan kesenian modern dan THR untuk pertunjukan kesenian tradisional. (ant/kbn)