Pertahankan Propinsi Jabar Sebagai Lumbung Pangan Nasional Kementerian PUPR Bangun 5 Bendungan

TASIKMALAYA (IndependensI.com)Daerah Aliran Sungai Citanduy memiliki potensi limpahan air sebanyak 170 meter kubik perdetik yang berarti mencapai 5,30 milyar m3/tahun yang meliputi area seluas 364.872,74 Hektar. Namun ternyata yang telah dimanfaatkan untuk kepentingan pengairan lahan sawah hingga menjadi air baku bagi PDAM Kabupaten Ciamis hanya sekitar 2,45 milyar m3/tahun, artinya setiap tahunnya sebanyak 2.85 milyar m3 terbuang sia-sia ke laut lepas di kawasan perbatasan Cilacap – Pangandaran.

Seperti diketahui, Sungai Citanduy dengan hulu sungainya yang berada di kawasan Sukahening, serta kawasan Gunung Cakrabuana, Kabupaten Tasikmalaya, ditambah sejumlah anak sungai yang mengalir dari kawasan pegunungan Syawal Kabupaten Ciamis, telah sejak lama dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian. Sungai ini tidak jarang dikeluhkan oleh masyarakat yang berada dibawahnya, karena kerapkali membuat banjir sejumlah wilayah seperti di Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya, kawasan Banjarsari – Pamarican Kabupaten Ciamis, hingga menimbulkan konflik dua wilayah antara Cilacap dan Pangandaran di kawasan sodetan muara sungainya.

Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR melihat potensi yang sangat besar ini bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga potensi air yang selama ini terbuang sia-sia ke laut lepas bisa berdayaguna bagi kepentingan masyarakat luas. Sehingga dicetuskanlah ide untuk pembuatan sebuah bendungan yang sebenarnya telah lama dipikirkan, hingga dibuat sebuah rancangan dan studi sampai penentuan lokasi pendirian bendungan tersebut.

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional, Kementerian PUPR tengah menyelesaikan pembangunan 5 bendungan yakni Bendungan Ciawi (Cipayung), Sukamahi, Kuningan, Leuwikeris dan Cipanas.

Dari kelima bendungan tersebut, 2 bendungan yakni Bendungan Leuwikeris dan Kuningan progres tanahnya masing-masing sudah mencapai 48,77% dan 84,46%.

Bendungan Kuningan yang terletak di Desa Randusari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan memiliki volume tampung total sebesar 25,955 juta m3. Air dari bendungan ini akan digunakan pada Daerah Irigasi (DI) Cileuweung seluas 1.000 hektar dan DI Jangkelok seluas 2.000 hektar. Manfaat lain adalah pengendalian banjir, sumber air baku sebesar 300 liter/detik dan energi listrik tenaga air sebesar 535 KWH.

Progres pembangunannya hingga awal Januari 2018 mencapai 75,39% dan ditargetkan rampung pada akhir 2018. Selanjutnya akan dilakukan pengisian air bendungan (impounding) pada awal 2019.

Biaya pembangunan bendungan yang membendung Sungai Cikaro, anak Sungai Cijalengkok senilai Rp 727,9 miliar yang digunakan untuk konstruksi, supervisi konstruksi dan pengadaan lahan. Untuk konstruksi pekerjaannya telah dimulai sejak 2013 oleh PT. Wijaya Karya – PT. Brantas Abipraya KSO dengan anggaran Rp 464,9 miliar.

Sedangkan untuk Bendungan Leuwikeris yang terletak di Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, memiliki kapasitas tampung 81,44 juta m3. Bendungan akan mengairi jaringan irigasi seluas 4.616 hektare dan sumber air baku berkapasitas 8450 liter/detik untuk satu juta pelanggan di Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya.

Disamping itu memberikan manfaat mereduksi banjir sebesar 450 meter kubik per detik, dan energi listrik tenaga air sebesar 2 MW. Pembangunan Bendungan Leuwikeris dimulai tahun 2016 dan ditargetkan selesai tahun 2021.

Kontrak kerja pembangunannya terbagi menjadi dua paket dimana paket pertama dikerjakan oleh PT. Waskita Karya – PT. Adhi Karya KSO senilai Rp 867 miliar. Sedangkan paket lainnya dikerjakan oleh PT. Hutama Karya (Persero) senilai Rp 385,46 Miliar