Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan, Djoko Sasono, yang bertindak sebagai inspektur upacara, mengalungkan samir kepada perwakilan lulusan BP3IP di Jakarta, Rabu (17/1/2018).

BP3IP Jakarta Wisuda 452 Pelaut Sesuai Standar Internasional

JAKARTA (IndependensI.com) – Balai Besar Pendidikan, Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) Jakarta melaksanakan Bon Voyage dan Wisuda 452 orang pelaut di Econvention Ancol, Rabu (17/1/2018). Bon Voyage dan wisuda pertama BP3IP di tahun 2018 ini dipimpin Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan, Djoko Sasono, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara dan juga mengalungkan samir kepada perwakilan lulusan.

Para wisudawan tersebut telah menyelesaikan pendidikan mereka yang terdiri atas lulusan Program Diklat Pelaut (DP) Tingkat I, II, III, dan IV bidang keahlian Nautika dan Teknika yang terdiri dari; DP Tingkat I Nautika sejumlah 14 orang; DP Tingkat II Nautika sejumlah  41  orang; DP Tingkat II Teknika sejumlah  37 orang; DP Tingkat III Nautika sejumlah  35 orang; DP Tingkat III Teknika sejumlah  30  orang; DP Tingkat IV Nautika sejumlah 172 orang; dan DP Tingkat IV Teknika sejumlah 123 orang.

Dalam laporan pendidikannya, Direktur BP3IP Jakarta Capt Mulder Mustafa, SE menjelaskan bahwa para lulusan kali ini telah mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan aturan dalam Konvensi Internasional STCW 1978 amandemen 2010 yaitu dengan metode pembelajaran yang mencakup empat kriteria kompetensi, yaitu kompetensi akademik, kompetensi profesional, kompetensi nilai dan sikap, dan kompetensi untuk menghadapi perubahan. Menurut Mulder, dengan memiliki keempat kompetensi tersebut di atas, para lulusan diyakini telah siap menghadapi tuntutan dan tantangan tugas.

The Standards of Training, Certification and Watchkeeping atau STCW merurupakan konvensi internasional tentang kemaritiman yang menyatakan bahwa masyarakat maritim mempunyai satu visi agar pelayaran itu terselenggara dengan aman, selamat dan lautan yang bersih bebas dari polusi. Konvensi STCW yang berkaitan dengan Standar Pelatihan, Sertifikasi dan Dinas Jaga Pelaut  telah dilakukan amandemen pada tahun 1995,  dan tahun 2010 yang dikenal dengan STCW Amandemen Manila 2010. Oleh karena itu Para pelaut wajib memiliki kompetensi sesuai dengan STCW Amandemen Manila 2010 untuk dapat berkiprah di dunia kemaritiman, yang diberlakukan secara penuh pada tahun 2017.

Kepala Badan Pengembangan SDM Perhubungan (BPSDMP) Djoko Sasono menjelaskan bahwa kegiatan Bon Voyage ke-40 dan Wisuda ke-13 mengusung tema “Through the 40th Bon Voyage and the 13th Graduation We Empower Indonesian Seafarers to Actively Engage in Marine Environmental Protection”. Tema ini relevan mengingat sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia berkewajiban untuk melindungi lingkungan lautnya dari pencemaran akibat aktivitas pelayaran.

“Sebagai contoh, Indonesian bersama International Maritime Organization (IMO) tengah menyusun penetapan Particularly Sea Sensitive Area (PSSA) supaya kapal-kapal yang berlayar di wilayah perairan tersebut bisa menghindari daerah yang sudah ditetapkan sebagai PSSA karena ada kepentingan Indonesia di bawahnya misalnya karena ada terumbu karang atau area konservasi”, jelas Djoko.

Pemenuhan terhadap standar internasional di bidang pelayaran yang telah ditetapkan oleh IMO dalam konvensi-konvensinya adalah kewajiban bagi negara anggotanya. Pendidikan serta pelatihan yang dilakukan oleh lembaga diklat harus memenuhi standar tersebut.

Sebagai salah satu lembaga diklat di bawah BPSDM Perhubungan, BP3IP Jakarta terus meningkatkan kualitas diklat mengikuti standar internasional. Kini lembaga diklat yang telah berusia 69 tahun ini, hingga awal 2018 telah meluluskan sebanyak 158.790 orang pelaut melalui Diklat Peningkatan tingkat I, II, III, dan IV.

Djoko berharap para lulusan yang telah mengikuti diklat di BP3IP Jakarta dapat menjadi agen Maritim Indonesia di dunia dan dapat mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Saya harap mereka (wisudawan) bisa menjadi pelaut yang tangguh, menjadi agen daripada kemaritiman Indonesia di dunia, karena kita ingin menambah jumlah pelaut berkualitas untuk segera mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia.” ungkap Djoko.