Calon Bupati Majalengka, Maman Imanulhaq (keempat dari kiri)

Kunjungi Petilasan Ki Bagus Rangin, Kang Maman Ingin Warisi Semangat Juang Tokoh Heroik itu

MAJALENGKA (Independensi.com) – Kandidat Bupati Majalengka, Maman Inamulhaq mengunjungi petilasan tokoh besar Majalengaka, Ki Bagus Rangin, di Desa Jatitujuh, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka, Senin (19/2/2018). Bagus Rangin adalah tokoh heroik yang mampu membangkitkan rakyat melawan tentara Belanda pada awal abad 19.

“Saya berharap bisa mewarisi semangat beliau. Ki Bangus Rangin patut diteladani karena semangat juangnya yang luar biasa. Beliau juga punya kepekaan yang tinggi terhadap penderitaan rakyat,” katanya.

Sejarah mencatat, dari tahun 1805 sampai 1812, Ki Bagus Rangin berulang kali memimpin pemberontakan pada imperalis Belanda di sejumlah tempat, dikenal dengan Perang Cirebon.

Perlawanan Bagus Rangin baru berhenti ketika pasukannya ditaklukan Belanda di daerah Panongan, Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. Ia kemudian tertangkap pada 27 Juni 1812 dan sepekan kemudian tentara Belanda memenggal kepalanya di pinngir Sungai Cimanuk, dekat Karangsembung, Cirebon.

Nama Bagus Rangin sekarang diabadikan sebagai nama jalan di Majalengka, Cirebon dan Bandung.

Kang Maman, panggilan akrab Maman Imanulhaq, mengatakan, dirinya mengunjungi petilasan itu agar bisa mengambil semangat juang Bagus Rangin, terutama dalam menghadapi Pilkada Majalengka 2018.

“Beliau berjuang habis – habisan tanpa pamrih karena melihat rakyat menderita,” ujar politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Sebelumnya, pada 16 Februari lalu, Kang Maman berziarah ke makam Pahlawan Nasional, KH Abdul Halim, di Pondok Pesantren Santi Asromo, Desa Pasirayu, Kecamatan Sindang, Majalengka.

Abdul Halim atau dikenal dengan K.H. Abdul Halim Majalengka adalah ulama besar yang juga tokoh pergerakan dan tokoh pendidiakn nasional. Lahir di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, 26 Juni 1887, Abdul Halim wafat di Majalengka, pada 7 Mei 1962. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono pada tahun 2008. (Putra Fernando)