Cabup Maman Libatkan Pengurus Masjid Atasi Pengangguran

Loading

MAJALENGKA (Independensi.com) – Mengurangi jumlah penganggur menjadi fokus perhatian Calon Bupati Majalengka, Maman Imanulhaq. Jika terpilih, kandidat bupati nomor urut 1 itu akan melibatkan para pengurus masjid untuk mendata dan memberdayakan para penganggur sehingga mereka punya aktivitas yang produktif.

“Kita akan berikan batuan insentif kepada para pengurus masjid. Mereka nanti akan mendata misalnya berapa jumlah orang yang nggak kerja, yang nganggur di sekitar masjid,” katanya, Sabtu (10/3/2018).

Menurut Kang Maman, sapaan akrab Maman Imanulhaq, para penganggur nantinya bisa dipekerjakan di pabrik, di sektor pertanian atau di industri kreatif.

“Saat ini masih ada 150 ribu orang miskin di Majalengka, kita ingin berdayakan mereka berbasis masjid,” ujar dia.

Kang Maman menuturkan, industri kreatif di Majalengka kini sedang tumbuh dan berpeluang membesar di masa mendatang. Sektor itu, menurut dia, mampu menyerap banyak tenaga kerja.

“Industri kerajinan ijuk di Cimuncang, misalnya, punya jaringan pemasaran sampai luar negeri,” katanya.

Calon bupati yang diusung PKB, Gerindra, PAN, PKS dan Nasdem itu menegaskan, para pengurus masjid akan diberi pelatihan sehinga mereka bukan hanya bisa mendata jumlah penganggur di sekitar masjid tapi juga tahu kemana mereka akan dipekerjakan.

“Kami akan alokasikan dana gaji bagi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) sebesar Rp.500 ribu per bulan,” ujar dia.

Kang Maman menjelaskan, timmya juga sudah mengindetifikasi desa – desa di Majalengka yang perekonomianya berpotensi dikembangkan.

“Kami sudah memetakan satu desa punya kesamaan potensi dengan desa mana. Kami akan membantu mengembangkannya. Jadi yang kami lakukan adalah pemberdayaan ekonnomi berbasis masjid dan berbasis desa,” ujarnya.

Pemberdayaan ekonomi rakyat, kata dia, merupakan program yang mendesak karena jumlah rakyat miskin di Majalengka cukup besar.

Statistik menunjukkan per awal 2017, angka kemisikinan masyarakat di Kabupaten Majalengka mencapai 12 persen, lebih tinggi dari Jawa Barat yang hanya 9 persen.

“Bahkan di Kecamatan Ligung angka kemiskinan mencapai 20 persen,” ujar Kang Maman. (Putra Fernando)