Anam sedang fitting di bengkel kerjanya. (Foto: Toto Prawoto)

Seiring Sejalan antara Teaching dan Fitting

JAKARTA (IndependensI.com) – Suatu hari seorang golfer yang biasa practice di Driving Range Pondok Cabe, Ciputat, Tangerang Selatan bertanya kepada Anam tetang keberadaan bengkel kerja fitting yang berada dalam satu ruangan dengan pro shop yang menjual perlengkapan olahraga golf miliknya yang dirintis sejak 2015.

“Siapa fitter-nya?” tanya golfer tersebut.

“Ada,” jawab Anam.

Beberapa hari kemudian, golfer tersebut kembali lagi ke Driving Range Pondok Cabe. Selain akan berlatih seperti biasanya, golfer tersebut juga membawa stick golf untuk di-fitting.

Dan, golfer tersebut benar-benar surprise, setelah mengetahui bahwa yang akan mem-fitting stick golfnya adalah Anam sendiri.

Memang, bagi para golfer yang mulai aktif bermain golf pada era 2000-an, yang mereka ketahui tentang Anam adalah seorang Teaching Pro yang telah banyak melahirkan pegolf handal di kalangan junior dan amatir terutama golfer non-atlet khususnya orang kantoran, yang menggeluti olahraga golf sebagai sarana untuk membangun link atau jaringan.

Padahal, bagi Anam sendiri, dunia fitting telah dia tekuni sebagai mata pencaharian sejak tahun 80-an, sehingga bapak dari empat orang anak lelaki ini namanya selalu menjadi rujukan bagi para golfer, terutama dan khususnya para golfer yang aktif bermain golf di lapangan golf Sawangan – baik mereka yang bermain di lapangan 9 hole maupun 18 hole.

Lelaki berusia 58 tahun ini memang sangat low profile. Paling tidak, dia tidak pernah mendeklarasikan bahwa dia memiliki keahlian sebagai fitter.

Dan, ngobrol-ngobrol masalah fitting bersama Anam, sungguh mengasyikkan, apalagi kalau yang diobrolkan adalah masalah fitting pada tahun 80-an ketika teknologi yang ada di olahraga golf – utamanya yang berkaitan dengan masalah peralatan untuk bermain golf – masih sangat sederhana, waktu dua jam rasanya masih kurang.

Itulah yang dirasakan saat IndependensI.com menemui Anam di bengkel kerjanya yang berada dalam satu lokasi dengan Driving Range Pondok Cabe, Ciputat, Tangerang Selatan beberapa waktu yang lalu.

Pasalnya, dia sangat paham nama-nama pegolf dari kawasan Asia Pacifik yang mampu bermain under dalam kisaran antara 10 sampai 15 under, “Padahal stick yang mereka gunakan terbuat dari kayu,” tukasnya.

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, Anam, yang selain dikenal sebagai fitter (ahli fitting tongkat golf) juga sebagai Teaching itu, begitu memasuki dekade 1990-an, dia lebih fokus menekuni profesi sebagai Teaching Pro.

Sungguhpun begitu dia tetap mengikuti perkembangan teknologi peralatan golf yang demikian pesat, sehingga dia pun tidak kaget ketika melihat shaft terbuat dari steel, besi, dan titanium.

Sebagai pro, sesekali dia tampil dalam kompetisi pro lokal ketika Persatuan Golf Profesional Indonesia (PGPI) yang dipimpin oleh Widarsadipradja (alm) masih berada “satu atap” dengan Persatuan Golf Indonesia (PGI) yang dipimpin oleh Sudomo (alm) dengan Sekretaris Jendral-nya yang dijabat oleh Taufik Aziz (alm).

Tapi, penampilan Anam di kancah persaingan pro lokal pada saat itu – diakui atau tidak – memang kalah moncer dibandingkan dengan Maan Nasim (legenda golf Indonesia) yang sama-sama berasal dari Sawangan.

Oleh karena itu, akhirnya dia lebih memilih menekuni profesi sebagai pengajar.

Banyak pegolf pemula atau para beginner yang “menimba” ilmu kepadanya.

Sambil menunggu kehadiran muridnya yang akan belajar bermain golf kepadanya sesuai dengan perjanjian, waktu luang yang ada dia pergunakan untuk melatih Alga, anak sulungnya.

Selang beberapa tahun kemudian, waktu luang yang ada, selain dipergunakan untuk melatih Alga, juga untuk melatih Dennis, putra kedua. Lalu disusul oleh Fahmi putra ketiga.

Ketika Alga, Dennis dan Fahmi mulai familier di kancah persaingan golf junior – bahkan Alga pernah tampil mewakili Indonesia di kompetisi junior tingkat dunia di San Diego, Amerika Serikat – si bungsu Abi pun mengikuti jejak ketiga kakaknya.

Mereka berlatih golf setelah mereka pulang dari sekolah masing-masing.

Sadar bahwa keempat putranya punya talenta yang cukup besar di olahraga golf – terutama saat Alga dan Dennis masih berusia belasan tahun dan sedang “kemaruk-kemaruk”-nya mengikuti turnamen golf junior di Jabodetabek – demi perkembangan mereka Anam sampai menggadaikan perhiasan milik istrinya bila musim kompetisi bagi pegolf junior, baik di tingkat lokal maupun nasional, tiba.

Bisa dimaklumi bila Anam sampai menempuh cara seperti itu. Pasalnya, sebagai “orang pinggiran”, Anam dan Hj Nurlaela, SPd, istrinya, tidak ingin putranya kalah sebelum bertanding, gara-gara penampilan mereka tidak “modis” seperti para pegolf umumnya.

Apalagi kompetitor mereka adalah “anak gedongan” dari kota-kota besar di seluruh Indonesia.

Pengorbanan Anam dan Nurlaela tidaklah sia-sia. Karena, selain prestasi anak-anaknya di golf sangat signifikan, prestasi akademik mereka pun patut diacungi jempol.

Alga (berdiri paling kanan) putra sulung Anam-Hj Nurlaela, SPd yang menjadi pelatih nasional saat mendampingi para pegolf Indonesia tampil di sebuah turnamen di luar negeri.

Betul bahwa Alga, Dennis dan Fahmi hingga hari ini tetap berkutat dengan olahraga golf – tapi mereka masing-masing memiliki ijazah S-1 Ekonomi Manajemen Universitas Tarumanegara, Ekonomi Manajemen Trisakti, Marketing Komunikasi Universitas Bina Nusantara, sementara Abi saat ini masih duduk di semester 6 Fakultas MIPA jurusan Geografi Universitas Indonesia.

Bahkan si sulung Alga, selain mengikuti jejak ayahnya sebagai Teaching Pro, juga dikenal sebagai pelatih nasional. Saat ini Alga sibuk melatih timnas yang akan tampil di arena Asian Games 2018.

Dennis juga mengikuti jejak kakaknya sebagai Teaching Pro dan bekerja di Ancora Sport.

Sedangkan Fahmi lebih fokus sebagai Touring Pro. Bila sedang tidak ada touring, Fahmi menjadi asisten ayahnya sebagai Teaching. Sementara si bungsu, Abi, yang saat ini masih kuliah di Universitas Indonesia, menjadi salah satu pegolf amatir andalan Pengprov PGI Banten.

Alga dan Dennis telah berkeluarga dan mandiri bersama keluarga kecil mereka masing-masing. Sedangkan Fahmi dan Abi masih masih tinggal bersama kedua orang tua mereka.

Seperti pegolf dari Sawangan pada umumnya, Anam pun tumbuh dan berkembang karena tinggal di lingkungan yang sangat kondusif sejak kecil.

Sebagai otodidak sejati, Anam banyak belajar dari orang-orang yang ahli di bidangnya.

Untuk segala hal yang berhubungan dengan masalah teaching, dia menyerap ilmunya dari Charlie L Pelupessy (alm) – salah seorang pelatih golf junior era tahun 80-an yang pernah belajar di sebuah academy of golf ternama di San Diego Amerika Serikat.

“Kalau di bidang fitting, mentor saya adalah Don Rim… Banyak hal tentang masalah yang berkaitan dengan fitting  yang saya peroleh dari dia,” katanya, terus terang.

Selain banyak menyerap ilmu fitting dari Don Rim, Anam juga memperoleh tambahan ilmu yang sama yang dia peroleh dari Henry Griffith – seorang fitter ternama kelas dunia yang berasal dari Australia – yang datang ke Indonesia dan memberikan workshop kepada para fitter lokal yang berlangsung di Pondok Cabe Golf Course pada 1993.

Ilmu fitting yang dimilikinya — terutama saat Anam lebih fokus pada Teaching – tetap dia praktekkan walaupun hanya sebatas hanya untuk memfitting stick golf yang biasa dipakai oleh keempat orang anaknya.

Dan, tanpa bermaksud mempromosikan hasil kerja ayahnya, Fahmi, yang mendampingi IndependensI.com saat berbincang-bincang dengan Anam, mengungkapkan, dia pernah memfitting sticknya di Malaysia saat dia mengikuti turnamen di negeri jiran tersebut, “Tapi hasilnya sungguh mengecewakan,” tukasnya. “Akhirnya, setelah kembali ke Indonesia, stick saya di re-fitting lagi oleh ayah,” tambahnya.

Seperti diketahui fitting memang penting. Tak hanya pegolf amatir dan profesional yang menempatkan fitting “hukumnya wajib”.

Para pegolf reguler non atlet pun – apalagi mereka yang tergabung dalam “sindikasi” yang memiliki tradisi “isi”-a hole by hole – menempatkan fitting dalam skala prioritas.

Tujuannya agar mereka terhindar dari skor plus, yang berakibat akan mengurangi deposito atau tabungan mereka.

Karena mereka berprinsip: deposito atau tabungan boleh plus, tapi skor jangan!

Uke Widarsa alias Wahyu Hendarman (kanan) saat tampil sebagai komentator televisi yang menyiarkan Turnamen Golf Indonesia Open 2017 di Padang Golf Pondok Indah.

Untuk mengetahui sampai sejauh mana pentingnya fitting, IndependensI.com pun menghubungi Uke Widarsa (Wahyu Hendarman), yang sering muncul sebagai komentator di televisi swasta lokal yang selalu menyiarkan secara langsung event akbar seperti Indonesia Masters dan Indonesia Open.

“Sewaktu saya masih aktif sebagai touring pro, saya rajin memfitting clubs saya. Paling tidak enam bulan sekali.”

“Kenapa? Karena, sebagai pemain saya harus yakin dengan ‘senjata’ (baca: stick) yang saya punya. Karena saya tidak mau kalau saya harus mengubah swing saya semata-mata karena clubs saya yang berubah. Justru clubs yang harus disesuaikan dengan swing kita sebagai pemain.”

Wahyu Hendarman, yang tidak lain adalah cucu Widarsadipradja, Ketua PGPI zaman Orde Baru, selain dikenal sebagai komentator juga dikenal sebagai Teaching – setelah dia mundur dari kancah Touring Pro akibat cedera yang dideritanya.

“Dan, sebagai Teaching Pro, jelas saya akan merekomendasikan murid-murid saya untuk memfitting clubs mereka dengan catatan bahwa mereka sudah mampu melakulan swing yang ‘sudah jadi’ alias tidak berubah-ubah alias masih beginner,” katanya.

Anam juga dalam beberapa hal melakukan hal yang sama seperti Uke.

Yang jelas, sebagai salah satu fitter yang ada di Jabodetabek, Anam, dalam menjalankan profesinya, tidak dibebani harus menjual produk-produk peralatan golf dari fabrikan ternama di dunia.

Sehingga, beban yang disandangnya sebagai seorang fitter, tidak terlalu berat.

Meskipun begitu tidak berarti bahwa dia abai terhadap kepuasan pelanggannya.

Bahkan, sebelum mem-fitting stick golf milik para pelanggan, Anam mengawalinya dengan “dialog interactif” atau diskusi yang muaranya adalah agar para pelanggannya memahami betul kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki.

“Dalam bahasa awamnya jangan sampai seseorang yang memiliki kemampuan hanya bisa mengangkat beban seberat 50 sampai 60 kilogram – memaksakan kehendaknya untuk mengangkat beban yang melebihi kemampuannya,” Anam beranalogi.

“Dalam golf power itu penting. Tapi kalau pukulannya tidak akurat, percuma saja. Kenapa? Karena dalam golf keserasian atau harmoni itu harus sinkron untuk mendapatkan akurasi yang diharapkan,” tambahnya.

Sayangnya, ketika obrolan menyinggung tentang tarif, Anam berkilah sambil berkata: “Apakah itu penting dan harus diketahui oleh orang banyak?”

Tapi, lepas dari masalah tersebut, Anam mengaku bahwa sejak dia kembali ke “habitat” lamanya sebagai fitter dua tahun lalu, dia pun tidak serta merta meninggalkan statusnya sebagai Teaching Pro.

“Terus terang kalau saya ditanya, lebih menguntungkan mana antara Teaching dan Fitting, saya jawab bahwa keduanya berjalan seiring,” katanya sambil tertawa.

Dari empat orang putranya, hanya si bungsu Abi yang dapat menyerap ilmu per-fitting-an. “Menurut saya, ini hal yang wajar, karena sejak kecil Abi memang selalu melihat saat saya mem-fitting stick kepunyaan kakak-kakaknya,” kata Anam.

Dan, sejak Anam membangun usaha khusus jual-beli peralatan golf second serta kembali lagi ke “habitat” lamanya sebagai seorang fitter di bawah nama “Family Golf”, pukul 08.00 WIB, “Atau selambat-lambat jam sembilan pagi, saya harus sudah sampai di sini… Itung-itung mirip orang kantoran gitu dah…,” tukasnya dengan logat Betawi Ora yang sangat kental. Dan, obrolan bersama Anam pun berakhir sampai di sini. (Toto Prawoto)