Suasana di Aula BLK Karangjati saat acara halal bihalal berlangsung. (Foto: Toto Prawoto)

Desa Termiskin Dengan SDM Tangguh

JAKARTA (IndependensI.com) – Masyarakat Indonesia memang memiliki banyak tradisi yang sangat unik sekaligus menarik. Salah satunya adalah tradisi Halal bihalal. Sebuah tradisi yang telah terjadi secara turun menurun sejak agama Islam tumbuh dan berkembang di negeri Indonesia beberapa abad lalu yang, uniknya di negara asal agama itu sendiri tidak mengenal istilah tersebut. Dan, sesuai dengan keberagaman warga bangsa yang terajut dalam Bhinneka Tunggal Ika, pelaksanaan  event tersebut dalam prakteknya tidak hanya sebatas pada mereka yang memeluk agama Islam, akan tetapi terbuka juga bagi mereka yang memeluk agama lain yang diakui oleh negara.

Betul bahwa kesan yang terlihat secara kasat mata dalam event tersebut adalah orang-orang yang saling berjabat tangan sambil mengucapkan permintaan maaf, yang bisa saja dilakukan pada hari-hari biasa dan dalam waktu yang berbeda. Namun, “permintaan maaf” yang diucapkan saat event Halal bihalal berlangsung, memiliki makna yang sangat dalam – lantaran hanya terjadi dalam kurun waktu setahun sekali.

Bertitik-tolak dari sebuah tradisi yang telah berlangsung selama puluhan dan atau bahkan ratusan tahun itulah maka pemerintah desa Karangjati, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada Sabtu (8/6/2019) akhir pekan lalu untuk pertama kalinya menggelar acara Malam Silaturrahmi & Halal bihalal antarwarga – baik yang menetap di desa maupun yang menetap di perantauan.

Termiskin

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu IndependensI.com pernah mengeskpos profil warga Desa Karangjati yang menjadi anggota pengurus Pelti Pengkab Banjarnegara bidang pelatihan, bernama Hari Sumasto. Berkat jalinan komunikasi yang lumayan intens dengan sarjana pertanian alumnus Universitas Widya Dharma itulah maka IndependensI.com pada Sabtu (8/6/2019) akhir pekan lalu hadir dan membaur dengan warga Desa Karangjati yang untuk pertama kalinya menggelar acara Malam Silaturrahmi & Halal bihalal pada 1440 Hijjriyah.

Acara tersebut selain dihadiri oleh tokoh masyarakat dan warga desa serta para perantau yang pulang mudik untuk merayakan Idul Fitri 1440 Hijjriyah di kampung halaman, juga dihadiri oleh para perangkat tingkat desa yang dipimpinan oleh Kusyati – Kepala Desa Karangjati, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Kusyati, Kepala Desa Karangjati yang memiliki suara merdu. (Foto: Toto Prawoto)

Ibu Yati – demikian sapaan akrab Kepala Desa (Lurah) Karangjati yang pandai menyanyi itu – dalam kata sambutannya mengatakan bahwa pihaknya merasa sangat bersyukur sekaligus berbahagia, karena acara halal bihalal yang baru untuk pertama kalinya diselenggarakan di desa yang berada di bawah kepemimpinannya tersebut, selain dihadiri oleh warga yang masih betah tinggal dan menetap di Makassar, Bandung dan Jakarta yang memiliki profesi sangat beragam: ada dokter ahli bedah, staf.

Kepala Desa yang bersuamikan seorang anggota Polri tersebut juga mengungkapkan pencapaian yang telah berhasil ditorehkan desanya sejak dia dipilih oleh warga untuk memimpin Desa Karangjati sejak 2013 lalu. Ibu Yati pun tanpa merasa “risi” dan secara terbuka mengatakan bahwa desa yang dipimpinnya adalah salah satu desa termiskin di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. “Kalau bicara pendapatan asli desa, sangat sulit mengingat lahan yang ada di sini adalah lahan tadah hujan. Dari sini tidak ada hasil pertanian seperti di desa lainnya yang berada di wilayah Kecamatan Susukan,” katanya.

Sumber Daya Manusia

Tapi, sebagai orang nomor satu di Desa Karangjati, Ibu Yati merasa bangga karena SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada di desa Karangjati sangat tangguh, dapat diandalkan dan tahan banting sesuai dengan kapasitas dan kualitas mereka masing-masing dalam menekuni profesi dan atau pekerjaannya. Warga desa yang dipimpin oleh Ibu Yati, tak hanya sebatas sebagai pedagang dan pegawai negeri, namun ada juga yang duduk sebagai Anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara.

Warga yang membaur saat menyanyikan lagu “Desaku”. (Foto: Toto Prawoto)

Bahkan dari data yang berhasil dihimpun IndependensI.com, pada era 1960-1970an ada beberapa pemuda dari Desa Karangjati yang namanya tercatat sebagai anggota kesatuan TNI-AD dan POLRI. Salah seorang di antara mereka (yang menjadi anggota kesatuan TNI-AD) pernah tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Kongo dan saat terjadi perang Iran-Irak. Sementara yang nama mereka tercatat sebagai Anggota POLRI ada yang bertugas di lingkungan Polda Metro Jaya. Setelah pensiun dan kembali ke tengah-tengah masyarakat, ada yang mengabdikan dirinya sebagai Anggota DPR-D (era Orde Baru), menjadi Komandan Satuan Pengamanan sebuah bank swasta ternama yang kantor pusatnya berada di Jakarta.

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini pun banyak anak-anak muda di Desa Karangjati – sebagaimana yang diungkapkan oleh Dedi Suromli, Ketua Panitia Halal bihalal kepada IndependensI.com – mulai tertarik menjadi youtuber. Dan, hasil karya mereka pun ditampilkan saat acara malam halal bihalal yang bertema Desaku Tempat Terindah Dalam  Hidupku berlangsung di Aula BLK Desa Karangjati pada Sabtu (08/06/2019) lalu.

Saraswati

Seperti halnya desa lain di seluruh Indonesia, Desa Karangjati pun memiliki masalah sosial yang “mengganjal” dan akan membuat citra buruk bila masalah tersebut tidak segera diselesaikan. “Ada beberapa warga kami di sini yang mengalami gangguan kejiwaan,” kata Ibu Yati tanpa tedeng aling-aling. Konsekuensi logisnya mereka menjadi warga masyarakat yang minder dan terkucil.

Akan tetapi sejak dua tahun yang lalu – perlahan tapi pasti – warga yang keluarganya memiliki gangguan kejiwaan mulai bangkit kembali setelah di Desa Karangjati terbentuk wadah kegiatan sosial bernama Saraswati kependekan dari Sehat-Segar-Waras-Kuat-Sejati. “Setiap Sabtu dan Minggu kedua mereka berkumpul dengan pendampingan dari keluarga atau orangtua masing-masing, untuk mengikuti penyuluhan oleh tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa, dan kami ajak untuk bersosialisasi satu dengan lainnya melalui kegiatan olahraga bersama,” kata Ketua Saraswati, Joko Santoso, kepada independensi.com. “Bagi anggota yang membutuhkan perawatan lebih lanjut, mereka kami rujuk ke Rumah Sakit Siaga Medika. Gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun,” tambah pak Joko, menegaskan.

Kegiatan sosial bertajuk Saraswati merupakan wadah baru bagi orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan yang ada di Desa Karangjati (bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia), menarik perhatian para pemerhati kesehatan utamanya di Kabupaten Banjarnegara. Menurut beberapa warga kepada  independensi.com, dalam waktu dekat Saraswati akan dikunjungi oleh pejabat terkait dari Pemda Kabupaten Banjarnegara. Mereka akan melakukan studi banding dan selanjutnya akan menjadikan kegiatan sosial tersebut sebagai percontohan bagi setiap desa yang berada di kabupaten yang dikenal dengan Dawet Ayu-nya itu. (Toto Prawoto)