Panitia dan peserta berfoto bersama sebelum turnamen golf Diponegoro Golf Community di Senayan, Jakarta, Minggu (15/4/2018). (Foto: Dokumentasi)

Zaenuddin dan Rudi L Rebut Gelar BGO dan BNO

JAKARTA (IndependensI.com) – Zaenuddin, pegolf berhandicap 4 dan Rudi L pegolf berhandicap 8 berhasil merebut gelar juara Best Gross Overall (BGO) dan Best Nett Overall dalam kejuaraan 8th Anniversary Diponegoro Golf Community, yang berlangsung di Senayan National Golf Club, Jakarta Pusat pada Minggu (15/4/2018).

Skor yang dibukukan oleh masing-masing pegolf adalah 75 pukulan (39-32) dan 74 pukulan (38-36).

Sementara, Bima Arya Sena, berhasil membuat pukulan Hole in One di hole #6 par 3, dan berhak atas hadiah sebuah kendaraan roda empat merk ternama edisi terbaru.

Zaenuddin, Rudi L dan Bima Arya Sena adalah tiga orang dari 121 pegolf yang berpartisipasi dalam turnamen golf HUT ke-8 Diponegoro Golf Community.

Bima Arya Sena (kiri) pencetak Hole in One.

Jumlah pegolf sebanyak itu adalah jumlah ideal dalam sebuah event yang menggunakan shotgun tee time.

“Alhamdullilah… setiap kami, DGC, menggelar event dalam rangka hari jadi, pesertanya selalu over kapasitas…,” kata Bambang Supeno, Ketua Diponegoro Golf Community. “Bahkan, masih ada sekitar 30 orang pegolf yang masuk dalam daftar tunggu dalam event anniversary tahun ini,” tambahnya.

Maryono dan juara BGO.

Jumlah peserta yang “membludak” [dan kalau tidak dibatasi akan membuat permainan menjadi tidak nyaman] tersebut adalah bukti bahwa ke-“guyub-rukun”-an yang digadang-gadang oleh Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Universitas Diponogoro (IKA UNDIP) Semarang, semakin mengkristal.

“Tidak mudah lho menggelar turnamen golf yang pesertanya lebih dari seratus pegolf,” tukas Ketua Umum PP IKA UNDIP – Semarang, Maryono. “Tapi, dengan motto guyub rukun itulah maka para pegolf berlomba untuk bisa berpartisipasi pada event anniversary kali ini,” tambahnya.

Maryono dan juara BNO.

Sesuai namanya, Diponegoro Golf Community (DGC) para anggota yang tergabung di dalamnya memang para alumni Alumni Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Para alumni tersebut banyak yang menduduki jabatan atau posisi penting menentukan, baik mereka yang bekerja di pemerintahan (pusat dan daerah), maupun mereka yang bekerja di sektor swasta, dan mereka yang menjadi enterpreneur.

Sebagai perkumpulan golf yang berdiri pada 12 Maret 2010 di Bandung, DGC dengan motto “Guyub Rukun”, sehingga antara anggota yang masih aktif di dalam segala aspek kehidupan dan mereka yang sudah pensiun — sama sekali tidak ada jarak dan perbedaan. “Yang ada adalah persaudaraan berbasis sportivitas,” tegas Maryono.

Pemotongan tumpeng oleh Bambang Supeno.

Pada event HUT ke-8 Diponegoro Golf Community, yang digelar akhir pekan lalu di Senayan National Golf Club, Jakarta Pusat, selain diikuti oleh anggota IKA UNDIP Semarang yang tersebar di seluruh Indonesia, event tersebut juga diikuti oleh para undangan yang selama ini menjadi mitra para anggota DGC dalam kiprah sehari-hari mereka di luar golf course.

Seperti pada umumnya perkumpulan golf di Indonesia, selain menggelar event tahunan yang dikaitkan dengan hari jadi perkumpulan, DGC juga rutin menyelenggarakan Monthly Medals di lapangan golf yang berbeda yang tersebar di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya.

Seperti yang disampaikan Bambang Supeno kepada independensi.com, Monthly Medals tidak hanya diselenggarakan di Jakarta, para pegolf yang tergabung di Diponegoro Golf Community yang ada di daerah pun aktif menggelar turnamen bulanan. “Setiap kali mereka menggelar kegiatan bulanan, selain mengundang mitra kerja mereka juga menggundang pejabat terkait di daerah tersebut,” ungkap Bambang Supeno.

Yang menarik, tak hanya pada saat ulang tahun DGC menggelar charity untuk membantu yayasan-yayasan yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, saat menggelar kegiatan bulanan atau Monhtly Medals pun mereka melakukan kegiatan yang sama – meski sifatnya insidentil yang biasanya dikaitkan dengan musibah dan/atau bencana yang melanda warga negeri ini.

Bahkan kegiatan charity yang dilakukan DGC tak hanya sebatas di tingkat lokal dan insidentil. Sebab, beberapa anggota DGC pun ada yang terlibat dalam aksi sosial-proyek “Jambanisasi Nasional” yang diawali dari Bumi Papua sejak beberapa tahun lalu. (Toto Prawoto)