Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani

Kata Sri Mulyani Soal Subsidi Energi yang Membengkak

JAKARTA (independensi.com) – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar Amerika, membuat  pemerintah mengajukan revisi penyusunan RAPBN 2019. Salah satu yang diubah adalah angka alokasi subsidi energi.

Dalam rapat di Badan Anggaran, kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengusulkan revisi dengan adanya perubahan kurs yang semula Rp 14.500 menjadi Rp 15.000 Postur yang terlihat membengkak dengan adanya perubahan kurs, dari Rp 14.500 ke Rp 15.000 adalah alokasi untuk subsidi energi.

Subsidi energi dari Rp 157,8 triliun menjadi Rp 164,1 triliun, terdiri dari subsidi BBM dan LPG dari Rp 100,7 triliun jadi Rp 103,8 triliun dan subsidi listrik dari Rp 57,1 triliun jadi Rp 60,3 triliun.

Untuk kenaikan ini, Sri Mulyani pun memaparkan alas an beberapa hal yang berhubungan dengan LPG dan subsidi, kami sampaikan peningkatan subsidi berdasarkan tabel kemaren untuk kenaikan subsidi tabung LPG 3 Kh dan listrik, itu pure karena ada kenaikan dolar AS,” kata Sri di Badan Anggaran, Selasa (16/10/2018).

Sementara untuk subsidi solar tidak ada penambahan karena alokasinya sudah tetap, yakni Rp 2000 per liter dan disesuaikan dengan volumenya. “Jadi solar tidak ada perubahan, tabel kemarin karena kurs,” tuturnya.

Sementara untuk asumsi makro lainnya selain nilai tukar rupiah, yang terkait dengan sektor energi masih sama. Untuk lifting minyak masih ditetapkan 775 ribu barel per hari, dan ICP (Indonesian Crude Price) di US$ 70 per barel, dan lifting gas 1.250 ribu barel setara minyak per hari (MOEBPD). Sementara untuk cost recovery tidak ada perubahan masih di US$ 10,2 triliun.