Prof DR Sumanto Al Qurtuby: Bendera Bertuliskan Tauhid Digunakan Islamis Militan Jihadis

JAKARTA (IndependensI.com)  – Advokad senior Petrus Selestinus, menilai, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tengah mencari panggung pasca dibubarkan Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017.

“Bisa dilihat dari sejumlah temuan polisi, bendera yang dibakar saat Perayaan Hari Santri perayaan Hari Santri Nasional yang jatuh pada Senin, 22 Oktober 2018, di Garut, Provinsi Jawa Barat, bertuliskan tauhid mirip milik HTI,” ujar Petrus Selestinus.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyebut sedikitnya ada satu truk bendera HTI dikirim ke Garut, Provinsi Jawa Barat untuk dikibarkan di Hari Santri Nasional, Senin, 22 Oktober 2018.

Salah satu bendera HTI, ditemukan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di perayaan Hari Santri Nasional. Bendera itu lantas dibakar dan memicu kontroversi di masyarakat.

“Iya, itu berdasarkan temuan dari teman-teman pencari fakta. Itu yang mengarah ke Garut,” kata Helmy di kantor PBNU, Jakarta, Rabu, 24 Oktober 2018.

Staf pengajar Antropologi di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi, Sumanto Al Qurtuby, dalam akun facebooknya, Rabu, 24 Oktober 2018, berjudul: Bendera Hizbut Tahrir & Sejumlah Kelompok Teroris, mengatakan, HTI bukan satu-satunya kelompok yang benderanya berlatar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid, yaitu “La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah” atau “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah”).

Menurut Sumanto, bendera dengan dasar hitam dan bertuliskan kalimat tauhid itu bukan bendera tauhid, bukan bendera umat Islam, juga bukan bendera Nabi Muhammad. Jika ada orang/kelompok yang mengatakan hal ini, hanya untuk kampanye dan propaganda belaka.

“Yang jelas bendera model beginian adalah bendera yang dipakai oleh sekelompok Islamis militan jihadis separatis dan atau teroris di berbagai negara. Meskipun tidak semua kelompok ini memakai bendera dengan desain beginian,” ungkap Sumanto.

Oleh karena itu, tulis Sumanto, di kawasan Muslim di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara, dan lainnya ketika ada aksi-aksi protes atau demontrasi berupa pembakaran bendera kelompok-kelompok ini.

Menurut Sumanto, tidak ada sejentil pun mahluk hidup umat Islam yang menganggap sebagai penghinaan terhadap kalimat tauhid, kecuali para anggota dan simpatisan ormas radikal Islamis ini, atau kalau tidak ya umat Islam yang “palenya peang”.

Selain Hizbut Tahrir, ada sejumlah kelompok Islamis, militan, jihadis, teroris, dan atau separatis di berbagai negara yang juga menggunakan bendera dengan warna dasar serupa (hitam) dan tulisan yang sama (kalimat tauhid).

Diungkapkan Sumanto, di antara kelompok ekstrimis, separatis, atau teroris tersebut adalah Al-Qaidah. Kelompok Islamis-jihadis-teroris ini dibentuk tahun 1988 di detik-detik menjelang berakhirnya “Perang Afgan” antara milisi Mujahidin (yang dibantu oleh Amerika) dengan “Tentara Merah” Uni Soviet.

Pendiri Al-Qaidah adalah Abdullah Azam, guru spiritual-intelektual Osama Bin Laden yang belakangan ia bunuh sendiri karena berbeda pendapat tentang konsep jihad. Kini, pemimpin spiritual-intelektual kelompok ini adalah Ayman Zawahiri yang dulu dipilih oleh Ben Laden sebagai ganti Abdullah Azam.

Osama perlu “guru spiritual-intelektual” karena dia orang bego dan gak berpendidikan, hanya bermodal kekayaan dan fanatisme saja.

Kelompok teroris-ekstrimis-jihadis berikutnya yang memakai bendera serupa adalah ISIS atau kalau di Barat disebut disebut ISIL (Islamic State of Iraq and Levant), atau Daesh kalau di Timur Tengah yang didirikan pada tahun 1999 oleh Abu Musab al-Zarqawi dan juga Abu Bakar al-Baghdadi.

Kemudian Jabhat al-Nusra atau Al-Nusra Front yang diririkan oleh Abu Muhammad al-Julani. Kelompok ini adalah pecahan atau sempalan dari ISIS yang bermarkas di Suriah.

Kelompok lain adalah Caucasus Emirate, sebuah kelompok militan jihadis di Federasi Rusia yang ingin menggulingkan Rusia dan mendirikan Negara Islam di Kaukasus Utara. Pendirinya adalah Ichkeria Dokka Umarov yang mendeklarasikan diri sebagai Amir.

“Di Caucasus juga ada kelompok teroris bernama Vilayat Kavkaz yang juga menggunakan bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Jaish al-Mujahirin wa al-Ansar, kelompok militan jihadis yang ikut berperang di Suriah juga memekai bendera serupa,” ungkap Sumanto.

Lalu Islamic Movement of Uzbekistan, kelompok Islamis-separatis yang didirikan tahun 1998 oleh idelog Islamis Tahir Yuldashev dan Juma Namangani. Kelompok ini bertujuan makar untuk menggulingkann pemerintahan / Negara Uzbekistan di bawah Presiden Islam Karimov.

Haqqani Network, kelompok sempalan / separatis di Afganistan juga menggunakan bendera yang sama.

Lashkar e-Taiba, kelompok teroris-Islamis di kawasan Asia Selatan yang berperasi utamanya di Pakistan juga menggunakan bendera yang agak mirip Hizt Tahrir dan lainnya, meskipun berbeda desain.

“Ini hanya beberapa contoh kecil saja. Jadi kalian jangan mau dibodohin, dikadalin, dan dikibulin oleh HTI dan kelompok sejenis yang gentayangan di Indonesia. Jabal Dhahran, Jazirah Arabia,” tulis Sumanto dalam laman akun faceboknya, Rabu, 24 Oktober 2018. (Aju)