Sosialisasi Buku Pedoman Dakwah Di Islamic Center Gresik

Cegah Munculnya Aliran Sesat, MUI Gresik Sosialisasikan Buku Pedoman Dakwah

Loading

GRESIK (Independensi.com) – Sosialisasi Pedoman Dakwah Islam Wasathiyah, dengan tujuan agar dakwah yang dilakukan para Dai maupun Mubaligh semakin berkualitas dan mampu memcerdaskan umat. Di lakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik Jawa Timur, diruang Islamic Center Gresik, Rabu (11/9).

Ketua MUI Kabupaten Gresik KH Mansoer Shodiq mengatakan, bahwa pedoman dakwah Islam Wasathiyah telah dirumuskan oleh MUI pusat. Untuk disampaikan kepada masyarakat, khususnya para Dai dan Mubaligh dalam berdakwah.
“Pedoman dakwah ini, sangat penting sebagai pedoman dalam berdakwah bagi. Menginggat selama ini, belum ada panduan dakwah yang baku. Sehingga, terkadang terjadi selisih paham diantara pendakwah dan . yang menimbulkan terkotak-kotaknya pedakwah dikalangan masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan.
“Semangat buku pedoman dakwah ini, adalah dakwah Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Yakni, dakwah yang mendukung tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila. Bukan, dakwah yang memancing kondusifitas bangsa dan negara.
Lebih lanjut menurut KH Mansoer Shodiq sosialisasi yang dilakukan MUI bukan untuk membatasi Dai maupun Mubaligh. Tetapi, justeru untuk menjadikan mereka melakukan kegiatan sesuai dengan kolidor pedoman dakwah.

“Seiring dengan perkembangan jaman, yang semakin modern dan serba digital saat ini. Sehingga dalam berdakwah pun, Dai juga akan mengikuti perubahan yang terjadi. Namun, tetap berpegang pada landasan utama Al Quran dan Hadist,” imbaunya.

”Perkembangan jaman juga menimbulkan banyak pemikiran baru, yang beragam terutama dari Dai maupun Mubaligh di era modern. Cara berdakwah dengan mengikuti perkembangan zaman, memang bagus. Bahkan, tidak dilarang asal tidak keluar dari rel pedoman dakwah dalam arti yang sebenarnya,” tegasnya.

“Makanya dengan diterbitkannya pedoman dakwah oleh MUI ini, dakwah yang disampaikan para Dai atau Mubaligh tidak melenceng apalagi keluar dari kolidor utama berdakwah. Misalnya saja, ada pendakwah yang membolehkan orang solat menggunakan bahasa arab.

Tetapi bahasa yang digunakan boleh disesuaikan dengan daerah atau negaranya masing-masing, contoh seperti itu kan tentunya menyesatkan masyarakat. Kemudian, ada kelompok (Majelis) yang mengganggap bahwa kelompoknya yang paling benar, sementara kelompok yang lain adalah salah,” paparnya.

“Hal-hal tersebut, yang kemudian menguggah MUI mengeluarkan buku pedoman dakwah. Agar esensi dakwah yang sebenarnya, tidak dikotori oleh cara, tindakan atau prilaku yang tidak benar dari para pendakwahnya,” pungkasnya. (Mor)