Diskusi. Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru) dan Ketua Kelompok Kerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata menjadi moderator dalam rangkaian sesi diskusi pengembangan 5 destinasi pariwisata super prioritas beberapa waktu lalu pada Rakornas III Kementerian Pariwisata di Jakarta. Sebagai leading sector dan core economy, Pariwisata Indonesia mampu membuka lapangan pekerjaan baru dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Humas Kementerian Pariwisata)

Andalan Utama Devisa Negara, Pariwisata Sanggup Tumbuh 25 Persen

JAKARTA (Independensi.com) – Pariwisata Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan ke depannya bukan hanya sebagai prioritas penghasil devisa namun pariwisata akan melaju menjadi andalan utama devisa negara.

Hal itu sejalan dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan Menteri Pariwisata, Arief Yahya juga ditetapkan pariwisata sebagai core economy Indonesia.

Pariwisata Andalan Devisa. Arief Yahya, Menteri Pariwisata (tengah), Hiramsyah S. Thaib, Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (10 Bali Baru) dan Ketua Kelompok Kerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata (kedua dari kiri) berfoto bersama dengan para nara sumber usai diskusi dengan tema “Quick Wins 2019 dan Rencana Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas 2020” pada Rakornas III Kementerian Pariwisata di Jakarta beberapa waktu lalu. Dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas ke depannya Pariwisata Indonesia akan menjadi andalan utama devisa negara.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Bali Baru dan Ketua Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, Hiramsyah S. Thaib mengatakan ke depannya sektor pariwisata akan terus mencatatkan pertumbuhan yang positif sebagai penghasil devisa. Itu, lanjutnya, dapat dicapai dengan dukungan infrastruktur transportasi udara, darat, dan laut untuk 4 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika Lombok dan Labuan Bajo Flores).

Di samping itu, dengan ditetapkannya Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, Borobudur, dan Labuan Bajo Flores, maka di tahun 2019-2024 pemerintah optimistis bisa terus menggenjot pertumbuhan investasi lebih besar dari periode 2009-2014, minimal tumbuh rata-rata sebesar 25%.

Ia mencatat pertumbuhan investasi tersebut akan berpotensi mendatangkan devisa dari sektor Pariwisata yang diperkirakan sebesar Rp 180 triliun setara dengan 13,3 miliar Dollar AS melalui Penanaman Modal Asing (Foreign Direct Investment). Itu akan membuka lapangan pekerjaan baru serta menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pada 10-11 September lalu menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) III tahun 2019 di Jakarta dengan agenda membahas “Pengembangan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas” melalui rangkaian sesi diskusi paparan perkembangan kawasan wisata.

Diskusi dihadiri peserta dari berbagai kalangan meliputi internal Kementerian Pariwisata, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Keuangan, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Perhubungan, Bappenas, dan BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), dan lembaga terkait lainnya.

Pada hari pertama digelar diskusi dalam 5 sesi dengan tema : quick wins 2019 dan rencana pengembangan destinasi pariwisata super prioritas 2020, dukungan aksesibilitas dan konektivitas transportasi udara, laut dan darat serta sinergi kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Selanjutnya di hari kedua diskusi mengusung 3 agenda yaitu dukungan pemerintah provinsi di pariwisata super prioritas, strategi pemasaran dan pengembangan dan peningkatan daya saing SDM, masyarakat dan industri pariwisata.

Hiramsyah menjadi moderator diskusi pada sesi diskusi hari pertama dengan tema ”Quick Wins 2019 dan Rencana Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas 2020”.

Hadir sebagai pembicara Tata Syafaat, Badan Otorita Pariwisata Danau Toba; Indah Juanita, Badan Otorita Borobudur; Fransiskus Xaverius Teguh, Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo, Flores; Edwin Darmasetiawan, PT Indonesia Tourism Development Corporation – Mandalika; dan Paquita widjaja Rustandi, PT Minahasa Permai Resort Development – Likupang.

Hiramsyah mengatakan rangkaian diskusi yang digelar dalam rakornas itu bagian dari tindak lanjut atas instruksi Presiden terkait lima destinasi pariwisata super prioritas.

Semua aspek yang mendukung percepatan pengembangan pariwisata dibahas dalam sesi diskusi. Progres pembangunan dipaparkan dengan didukung data-data dan analisa.

Kelima destinasi super prioritas tersebut adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas 15 Juli 2019 lalu.

Kawasan wisata tersebut tengah didorong pengembangan infrastrukturnya yang ditargetkan selesai pada tahun 2020 serta dipromosikan secara masif agar segera terwujud dalam waktu yang sangat cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *