Peladang berpindah

Anthropolog: Berladang Wujud Religi Konservasi Dayak

JAKARTA (Independensi.com) – Anthropolog Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Dr Ir Kristianus Atok, mengatakan, praktik berladang cara bakar wujud religi berimplikasi positif berupa konservasi masyarakat Suku Dayak di dalam menjaga keanekaragaman hayati.

“Berladang dengan cara bakar, orang Dayak membangun jaringan infrastruktur kebudayaannya, karena seluruh tahapannya mulai dari menebas, menebang, bakar, bersihkan lahan sisa bakar, menugal, membuang rumput atau merumput, panen, dan pesta syukuran selepas panen padi, tetap ada aspek religi di dalamnya,” kata Kristianus Atok, Senin malam, 18 Mei 2020.

Dikatakan Kristianus Atok, sebagian besar tahapan religi di dalam agama asli Suku Dayak ada pada proses perladangan yang sekaligus memperkaya keanekaragaman hayati. Bibit padi yang ditanam, bisa mencapai ratusan varietas milik satu keluarga saja.

Selain tanaman padi, ditanam pula berbagai jenis tanaman pangan lainnya, seperti jagung, mentimun, bayam, perenggi, labu air, dan lain-lain. Sementara pohon yang ditebang dalam bentuk tunggul minimal ketinggian 50 centimeter, karena di bekas tunggul, tumbuhan belasan anakan pohon baru.

“Setelah ditinggalkan lima sampai sepuluh tahun kemudian, dilakukan lagi perladangan di lokasi yang sama. Inilah namanya berladang dengan sistem gilir balik atau rotasi. Tidak ada unsur perusakan hutan di dalam perladangan orang Dayak,” kata Kristianus Atok.

“Atas dasar ini,” menurut Kristianus Atok, “Orang bukan pelaku peladang berpindah. Perladangan orang Dayak, menganut sistem rotasi atau gilir balik. Tolong ini digarisbawahi, kalau berladang berpindah, artinya selalu mencari lahan baru yang identik dengan merusak hutan. Ini tidak, karena setelah 5 – 10 tahun kemudian, di lokasi semula dijadikan lokasi ladang baru.”

Ini membuktikan, ujar Kristianus Atok, agama asli Dayak bersumber doktrin legenda suci Dayak, mitos suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak, sekaligus sebagai agama konservasi. Agama Dayak adalah agama konservasi.

Kristianus Atok mengingatkan aparat penegak hukum, harus memahami masalah ini, harus memahami aspek anthropologi budaya, karena aktifitas berladang dengan cara bakar, sudah ditekuni ribuan tahun orang Dayak, sebelum negara Republik Indonesia lahir.

 

Diungkapkan Kristianus Atok, penangkapan terhadap petani peladang Dayak karena buka ladang dengan sistem bakar, sangat tidak tepat, karena kebakaran hebat setiap kali musim kemarau, karena bersamaan dengan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit berskala besar.

“Kurang bijaksana kalau kebakaran hutan tiap tahun menimbulkan kabut asap, petani orang Dayak selalu dijadikan kambing hitam. Kalau melarang orang Dayak buka ladang dengan cara bakar, itu sama saja dengan upaya menghancurkan kebudayaan Dayak secara terstruktur dan masif dilakukan Pemerintah yang berpotensi menimbulkan gejolak sosial,” kata Kristianus Atok.

Kristianus Atok, wacana Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencetak sawah baru ribuan hektar di Kalimantan, sebagai upaya orang Dayak tidak lagi buka ladang dengan cara bakar, tidak bisa dipaksakan di kalangan Suku Dayak.

Kristianus Atok mempersilakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencetak sawah baru di Kalimantan, tapi hendaknya dilakukan di sejumlah kawasan yang bukan di tengah pemukiman Suku Dayak yang hidup dengan cara bertani.

Khusus untuk kalangan Suku Dayak, kata Kristianus Atok, bisa kembangkan varietas unggul khusus di lahan kering, atau disebut bibit unggul padi gunung. Ini sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Landak di Provinsi Kalimantan Barat, bekerjasama dengan Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), dan hasilnya cukup bagus dan cocok untuk petani Dayak yang proses berladang bagian dari sistem religinya.

Kristianus Atok, orang Dayak bukan anti pembangunan. Tapi orang Dayak harus dibangun sesuai dengan budayanya. Kalau di Pulau Jawa mencetak sawah sebagai program unggulan di dalam menjamin ketahanan pangan, jangan dipaksakan diterapkan di kalangan Suku Dayak di Pulau Kalimantan, karena karakternya berbeda.

“Kementerian Pertanian Republik Indonesia, harus paham akan anthropologi budaya, agar tidak menimbulkan gejolak sosial di Kalimantan. Di Thailand, Vietnam dan Kamboja yang pernah saya kunjungi, banyak sekali petani tanam padi di lahan kering, daerah gunung, dan bisa tumbuh subur. Hasilnya baik karena menggunakan bibit varietas unggul yang khusus untuk ditanam di lahan kering,” ungkap Kristianus Atok. (Aju)