Jakarta, IndependensI.com – China dan Rusia menjadi dua Negara yang terdepan dalam menciptakan vaksin virus corona. China diketahui berada di garis depan dalam perlombaan untuk mengembangkan vaksin Virus Corona. Sementara, Rusia menetapkan target September untuk meluncurkan vaksinnya sendiri.

Namun, perlombaan vaksin yang ditunjukan kedua Negara ini mendapat sindirian keras dari ilmuwan Amerika Serikat Dr. Anthony Fauci. Menurutnya, klaim vaksin corona yang ditunjukan kedua Negara harus sudah melalui tahap uji coba.

Fauci yang juga Penasihat Gugus Tugas Penanganan Virus Corona di AS mengatakan, negaranya tidak mungkin akan menggunakan vaksin apa pun yang dikembangkan di kedua negara yang sistemnya tak setransparan di negara-negara Barat.

“Saya benar-benar berharap orang China dan Rusia benar-benar menguji vaksin sebelum mereka memberikan vaksin kepada siapa pun. Klaim memiliki vaksin yang siap didistribusikan sebelum Anda melakukan pengujian, saya pikir bermasalah, ” kata pria yang juga pakar penyakit menular AS dalam dengar pendapat di Kongres AS, Jumat (31/9/2019) dikutip dari AFP.

Bulan lalu, media China mengumumkan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh CanSino Biologics digunakan kepada militer China. Hal ini merupakan vaksin Corona yang pertama disetujui untuk manusia, meski dalam populasi terbatas.

Namun, banyak ilmuwan menyinggung masalah etika karena vaksin itu belum memulai tahap akhir pengujian.

Berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO, vaksin harus melalui uji yang ketat sebelum diedarkan ke masyarakat. Pengujian itu terdiri dari uji keamanan, imunogenitas, dan efikasinya di laboratorium pada hewan percobaan dan dalam tiga fase uji klinis pada manusia.

China sendiri sudah menyebarkan vaksin ke beberapa negara untuk diuji coba langsung kepada manusia. Salah satunya di Indonesia. Universitas Padjadjaran (Unpad) saat ini tengah melakukan tahapan uji klinis vaksin produksi perusahaan China Sinovac Biotec Ltd.

PT Bio Farma (Persero), menjawab isu di masyarakat bahwa Indonesia hanya jadi kelinci percobaan vaksin China, mengatakan pihaknya hanya ingin mempercepat pengembangan vaksin itu.

“Kenapa sih harus uji klinis di Indonesia, kenapa kita dijadikan kelinci percobaan? Padahal sebenarnya mempercepat proses kita terhadap pengembangan vaksin tersebut,” kata Kepala Divsi Surveilans dan Uji Klinik Biofarma, Novilia Sjafri Bachtiar, Rabu (29/7).

Sinovac dan perusahaan China lainnya, Sinopharm, masing-masing juga telah menguji coba fase tiga vaksi di Brasil dan Uni Emirat Arab.

Negeri Tirai Bambu sendiri sempat memiliki rekam jejak skandal kesehatan. Pada 2018, lebih dari 200 ribu anak diberikan vaksin difteri, tetanus, dan batuk rejan (DPT) yang cacat yang menyebabkan kelumpuhan dalam beberapa kasus.

Sementara, Rusia hendak meluncurkan dua produk pada September dan Oktober. Vaksin pertama sedang dikembangkan oleh Gamaleya yang berbasis di Moskow dan Kementerian Pertahanan. Vaksi kedua milik laboratorium negara Vektor. Rusia tidak merilis data ilmiah yang membuktikan keamanan atau kemanjuran vaksin tersebut.