Pemberian bonus Olimpiade London 2012 oleh Menpora Zainudin Amali (tengah) didampingi Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari kepada mantan lifter nasional Citra Febrianti (kanan). (Istimewa)

Penantian Citra Berbuah Manis

JAKARTA (Independensi.com) – Kendati harus sabar menanti selama delapan tahun, mantan lifter Nasional, Citra Febrianti meraih sukses terbaiknya. Dia akhirnya mendapatkan bonus yang menjadi haknya sebagai peraih medali perak Olimpiade London 2012. Citra menerima bonus Rp 400 juta dari Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, pada acara pemberian penghargaan yang berlangsung beberapa waktu lalu di Jakarta.

Bagi Citra, penghargaan ini menjadi pengakuan bahwa dirinya adalah peraih medali perak Olimpiade 2012 dan dia berterima kasih pada semua pihak yang telah membantunya. “Pertama-tama, syukur Alhamdulillah akhirnya saya bisa menunjukkan kebenaran bahwa saya naik peringkat dan diakui sebagai peraih medali perak Olimpiade 2012. Ini menjadi prestasi terakhir yang bisa saya berikan untuk Indonesia karena saya sudah tidak bisa lagi bertanding karena cedera yang sampai sekarang belum pulih,” ujar Citra melalui rilis yang diterima.

Citra menunggu cukup lama sebelum ditetapkan sebagai peraih medali perak Olimpiade 2012. Dia bercerita bahwa tak lama setelah pertandingan berakhir, dia sudah mendengar bahwa dia akan mendapat medali perunggu karena atlet Moldova, Cristina Iovu, yang menempati peringkat tiga menghindari kewajiban tes doping. Tapi, posisinya tidak berubah hingga kontingen pulang ke Tanah Air.

Empat tahun berselang, federasi angkat besi internasional (IWF) mengumumkan bahwa peraih medali emas kelas 53kg putri, Zulfiya Chinshanslo dari Kazakhstan dan Iovu, yang menempati peringkat tiga, didiskualifikasi. Citra pun menanyakan perkembangannya pada PB PABBSI. Setelah menunggu dua tahun, atlet asal Lampung ini meminta sang kakak untuk membuat laporan. “Saya sudah kehilangan kesabaran karena faktor ekonomi, sehingga saya minta tolong pada kakak saya yang ada di Jakarta untuk membuat surat ke Kemenpora, KONI, dan KOI. Tapi tetap tidak ada hasil. Akhirnya pada 2019, saya mendatangi media dengan harapan suara saya bisa terdengar. Tapi hasilnya sama saja,” katanya lagi.

Pandemi Covid-19 membuat kondisi ekonomi Citra dan keluarganya semakin berat, sehingga dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk mencari tahu sejauh mana proses pengurusan medali peraknya. “Kesusahan ini yang mendorong saya ke Jakarta. Saat sampai di Jakarta, saya bingung sekali, tidak tahu harus ke mana karena tidak ada arahan. Akhirnya saya disarankan ke PB PABSI. Di sana, Pak Joko Pramono bilang sudah membuat laporan dan masih menunggu keputusan resmi dari IOC. Saya pun bertanya siapa yang punya wewenang untuk menghubungi IOC dan dijawab bahwa KOI yang berwenang menghubungi IOC,” ujarnya lagi.

Citra pun akhirnya mendatangi kantor KOI bersama suami dan kedua anaknya pada 4 November 2020 dan diterima Wakil Sekretaris Jenderal Wijaya M. Noeradi. “Hari itu juga langsung diproses oleh KOI. Tidak butuh waktu lama. Pak Okto langsung menghubungi IOC dan dalam waktu dua minggu hasil resminya sudah keluar dan sekarang saya mendapatkan hak saya. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada pemerintah, Menpora, dan juga Komite Olimpiade Indonesia yang telah membantu saya mewujudkan hasil ini,” ungkap Citra.

Distribusi Bantuan Dana

Sementara itu, Komite Olimpiade Indonesia bakal mendistribusikan sejumlah bantuan dana kepada cabang olahraga (Cabor) yang turut ke Olimpiade Tokyo 2020. Adapun cabor yang mendapatkan dana adalah atletik, menembak, panahan, renang, angkat besi, bulutangkis, selancar ombak, sport climbing, karate, bola basket 3X3, dan balap sepeda.

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Olimpiade Indonesia, Wijaya M. Noeradi mengatakan, bantuan ini merupakan subsidi yang diberikan oleh ANOC terkait penundaan Olimpiade Tokyo 2020. “Subsidi dari ANOC lalu didistribusikan melalui asosiasi setiap benua, sehingga Indonesia akan menerima dana dari OCA. Dana ini merupakan subsidi untuk persiapan atlet yang semakin panjang akibat penundaan Olimpiade Tokyo 2020 akibat pandemi Covid-19,” katanya pada Kamis (24/12/2020).

Wijaya mengatakan lagi bahwa Komite Olimpiade Indonesia akan memberikan 2.000 dolar AS kepada setiap cabang olahraga tersebut dan federasi-federasi nasional tersebut telah diberitahukan akan penyaluran bantuan ini.  Selain subsidi, OCA  juga menyediakan dana US$ 1,4 juta bagi NOC yang menghadapi tantanganbesar dan membutuhkan bantuan untuk menjalankan tugasnya. Namun, OCA akan melakukan penilaian dan pemeriksaan terhadap setiap proposal yang diajukan oleh NOC. Selain itu, OCA  juga menegaskan, tidak boleh terjadi duplikasi antara subsidi ANOC dengan dana dari program Olympic Solidarity.

Meski berupa bantuan, dana bantuan ANOC ini akan diaudit oleh OCA  melalui NOC Activities Continental Programme, sehingga NOC harus memastikan, subsidi ini sampai ke tangan yang tepat dan digunakan dengan benar. “Karena penggunaan dana ini akan diaudit, KOI harus memastikan bahwa cabang olahraga yang bersangkutan menggunakan dana subsidi ini dengan tepat. Pihak induk organisasi juga harus memberikan laporan tentang penggunaan dana ini agar kami bisa memberi laporan kepada OCA,” ujar Wijaya lagi. Dana bantuan ini akan diberikan secara simbolis oleh Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia, Raja Sapta Oktohari, sebelum berakhirnya tahun 2020.