Kemenko Marves Manfaatkan Bola Benih dalam Percepatan Reforestasi Mangrove

Loading

PURWAKARTA (IndependensI.com) – Kita telah mengetahui banyaknya manfaat mangrove khususnya bagi masyarakat pesisir dan kepulauan. Mangrove berfungsi sebagai penahan ombak, badai, melindungi daratan dari erosi dan abrasi. Mangrove menjadi filter alami sungai dari polutan dan menjaga kelebihan sedimen mencapai laut. Peran mangrove juga penting dalam menjaga biota laut dan berdampak besar pada ekonomi masyarakat sekitar. Keberadaan mangrove berdampak langsung bagi komunitas lokal.

Selain manfaat ekonomi, mangrove juga memiliki dampak besar terhadap masalah iklim. Studi menunjukkan hutan mangrove dapat menyerap karbon empat kali lebih banyak daripada hutan hujan (rainforest). Sebagian besar karbon ini disimpan dalam tanah di bawah pohon-pohon mangrove. Meskipun mangrove memiliki manfaat yang banyak, sedikitnya 35 persen hutan mangrove dunia telah hilang atau rusak dalam kurun waktu 1980 – 2000.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) terus mendorong rehabilitasi mangrove di Indonesia. Belum lama ini,  dalam sambutannya pada Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama Program CSR Rehabilitasi Mangrove Menko Marves Luhut Pandjaitan mengapresiasi upaya-upaya mempercepat rehabilitasi mangrove menggunakan teknologi drone.

Menindaklanjuti arahan Menko Marves, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan terus memonitor kesiapan penerapan teknologi drone untuk penanaman mangrove. Oleh karena itu, Kemenko Marves Bersama tim melakukan peninjauan ke sejumlah lokasi di wilayah Jawa Barat guna survei kesiapan benih mangrove untuk diolah menjadi “seed balls” atau “bola benih” dan survei lokasi yang sedianya menjadi pilot project reforestasi mangrove dengan pemanfaatan drone.

“Pada kunjungan ini, kami mengunjungi beberapa lokasi di daerah Jawa Barat guna melihat kondisi dan kesiapan benih yang sudah ada serta meninjau lokasi untuk uji coba penanaman mangrove menggunakan drone,” terang Plt. Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Produk Kehutanan dan Jasa Lingkungan Zainuddin pada hari Jumat (27/8/2021).

Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Litbang Hutan (BLI/BSI KLHK) Prof. Maman Turjaman yang turut hadir dalam kunjungan, syarat benih mangrove yang potensial untuk revegetasi mangrove dengan drone yaitu benih yang berukuran kecil di bawah 3 cm, dengan berat maksimal 15 gram, ketersediaannya melimpah, dan memiliki kesesuaian silvikultur.

Menurut Prof. Maman, jenis flora mangrove yang sesuai dengan syarat tersebut ada pada jenis Avicennia sp. dan Sonneratia sp. Guna mempercepat reforestasi mangrove, penanaman benih dilakukan dengan menggunakan bola benih atau seed ball. Benih tersebut nantinya akan dibungkus menjadi bola yang akan ditembakkan dari drone. Seed ball sendiri merupakan bola-bola yang berisikan benih yang dibungkus dengan lumpur yang diambil dari kawasan mangrove serta ditambah bahan amelioran seperti charcoal, clay, dan kompos.

“Nanti prosesnya itu, drone akan menembakkan benih yang sudah dibungkus menjadi seed ball, benih tersebut kemudian akan beradaptasi 1-2 tahun, kemudian anakan mangrove yang mampu beradaptasi akan tumbuh baik setelah masuk tahun ke-3,” kata Prof. Maman.

*Tetap Melibatkan Masyarakat*

Pembuatan seed ball akan melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani Hutan (KTH). LMDH dan KTH akan mengikuti pelatihan pada akhir September mendatang selama 1 hingga 2 hari, kemudian baru bisa dilepas membuat seed ball sebanyak 30.000 – 50.000 seadball untuk diujicobakan pada sekitar  3 hektar lahan.

“Pelatihan ini akan melibatkan masyarakat sekitar, jadi ini akan menjadi ketrampilan tambahan anggota LMDH atau KTH. Kita yang akan memberikan pelatihan bermitra dengan rekan-rekan dari BPDAS Citarum-Ciliwung KLHK dan Perhutani,” terang Plt. Asdep Zainuddin.

Penggunaan drone dalam reforestasi mangrove ditujukan untuk menebar benih mangrove dari udara ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau, terpencil, dan masih jarang penduduknya, sehingga sulit untuk diakses oleh manusia.

“Tidak hanya itu, selama proses berlangsung, monitoring dan evaluasi pun dapat dilakukan dengan menggunakan drone untuk memudahkan pemantauan,” lanjut Plt. Asdep Zainuddin. Penggunaan drone juga diperlukan dalam terestrial check yang umumnya memakan waktu yang cukup lama. Namun, dengan adanya drone, maka pemeriksaannya jadi lebih efisien dan akurat.

Penyiapan benih mangrove direncanakan dapat diselenggarakan pada bulan September. Tidak hanya itu, pengadaan bahan dan pelatihan  pembuatan seed ball  pun rencananya dapat dilakukan pada akhir  bulan September. “Bila sesuai target, rencananya aplikasi drone sowing bisa dilaksanakan pada bulan September hingga November,” tutur Plt. Asdep Zainuddin.

Pada kesempatan ini, peninjauan dilakukan mulai dari Selasa (24-08-2021) hingga Jumat (27-08-2021). Beberapa wilayah yang didatangi diantaranya ialah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pakis Cikeruh, Desa Karya Bakti, Kecamatan Batu Jaya, Kabupaten Karawang, RPH Cibuaya, Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, serta Kelompok Tani Mangrove Lestari, Desa langensari, Kecamatan blanakan, Kabupaten Subang. Peninjauan ini dilakukan oleh tim yang terdiri dari Kemenko Marves, KLHK, Perhutani, Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Aero Terra Indonesia, dan Citra Bumi Indonesia.

“Saat ini, pemerintah sedang berupaya merehabilitasi mangrove dengan target seluas 600.000 Ha, yang akan dijalankan pada tahun 2021 hingga 2024,” terang Plt. Asdep Zainuddin. Program tersebut akan dijalankan di 9 provinsi di Indonesia, salah satunya ialah Jawa Barat.

Pemanfaatan drone dan seed ball untuk pelestarian hutan akan disertifikasi untuk memastikan kualitas dan standar mutu produk buatan Indonesia ini. Pada akhirnya, metode ini diharapkan dapat diduplikasi untuk wilayah lainnya bahkan teknologi ini dapat diekspor.

Kepala Bidang Pengendalian Pemanfaatan dan Pelestarian Hutan Fatma Puspitasari menegaskan bahwa selain Indonesia, negara-negara lain seperti  Malaysia, Myanmar, Guatemala, Brazil, Kenya pasti memerlukan teknologi seperti ini untuk reforestasi hutan dan mangrove. Namun, Fatma juga menegaskan rehabilitasi mangrove merupakan program strategis nasional sehingga untuk bisa memenuhi target reforestasi mangrove 600.000 Ha sampai tahun 2024 perlu banyak dukungan.

“Untuk Indonesia saja kita masih perlu banyak dukungan agar area-area yang rusak tapi sulit dijangkau dapat direforestasi dengan teknologi ini. Misalnya untuk  pulau-pulau kecil, atau pemulihan lahan hutan yang rusak karena bencana, atau karena perilaku tidak bertanggungjawab,” pungkas Fatma. (Chs)