Fenomena Dukungan Masyarakat di TikTok, Pengamat Nilai Fenomena Prabowo Layak Jadi Presiden

Fenomena Dukungan Masyarakat di TikTok, Pengamat Nilai Fenomena Prabowo Layak Jadi Presiden

Loading

Jakarta (INDEPENDENSI.COM)- Debat ketiga Pilpres 2024 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/1) malam, masih ramai diperbincangkan masyakarat.

Tiga calon presiden yang beradu gagasan adalah Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo. Tema debat seputar pertahanan, keamanan, geopolitik, hubungan internasional, dan politik luar negeri.

Dalam debat, Prabowo Subianto terlibat beradu argumen dengan Anies Baswedan beberapa kali. Mereka berdebat sengit hingga Ganjar Pranowo merasa menjadi orang yang mendinginkan suasana. Di aplikasi TikTok, masyarakat tengah ramai memberikan dukungan untuk Prabowo. Muncul FenomenaPrabowo dari masyarakat yang menyatakan kesedihannya atas serangan yang begitu keras dan personal.

CEO hingga S3 (sebutan kreator Tiktok selain Tiktokers) terlihat tidak malu-malu menumpahkan air mata hingga banyak menyampaikan simpati dan dukungannya terhadap sosok yang didampingi Gibran Rakabuming Raka tersebut. Prabowo dinilai mendapatkan serangan bertubi-tubu bahkan personal dari paslon lain.

Puluhan warganet dari platform media TikTok kemudian memberikan semangat kepada Prabowo melalui video pendek yang rata-rata datang dari para perempuan. Misalnya saja akun dengan nama Tasya, Yewla, Indriyani Noer Arief dan Yuka serta Tirta Siregar.

Akun Menteri BUMN Erick Thohir, @Erick Thohir bahkan menulis “i’m with you pak”. Kemudian mendapatkan tanggapan dari @dhani_saputra, “menurut saya debat tadi malam tidak menunjukkan pak Prabowo kalah tapi menunjukkan karakter asli 01&03. Suara saya bersama mu pak Prabowo.”

Ada juga komentar dari Iyan Otaya, “saya hilangkan pemikiran saya untuk golput, dan saya siap dukung pak Prabowo.”

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Dedi Kurnia Syah pun mengurai sisi lain dari kontestasi debat. Hal tersebut tentunya tidak dapat dipandang biasa karena ramai diperbincangkan dan menjadi massif.

Bahkan menjadi suatu fenomena semakin besarnya dukungan dari masyarakat terhadap pasangan Prabowo-Gibran.

Apalagi, pengaruh debat bisa memperkuat pilihan terkait kontestasi pemilu dan bisa pula sebaliknya.

Pasalnya, debat tidak hanya menyajikan janji-janji mengenai visi, misi, dan program yang akan dijalankan, tetapi juga respons cepat yang didasarkan pada kemampuan berpikir analitis, kritis, serta komprehensif dalam menghadapi situasi yang tidak terduga dan penuh tekanan. Seperti itulah yang akan dihadapi nanti sehari-hari ketika menjabat sebagai pemimpin.

Sedangkan terkait reaksi publik, hal tersebut bermanfaat dalam mengukur dan mengetahui antusiasme publik yang menyaksikan debat, mengetahui penilaian mereka terhadap jalan debat dan performa kandidat, serta dampak debat terhadap pilihan capres-cawapres.

Penilaian terhadap performa kandidat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek kelancaran dan kejelasan pemaparan, aspek penguasaan materi yang didiskusikan, serta aspek penampilan di atas panggung.

“Cukup rasional mengingat Anies memang ada sedikit menyinggung urusan personal, yakni harta Prabowo. Itu ranah privat, tidak seharusnya dijadikan analogi. Prabowo yang menanggapi urusan personal itu, hingga perdebatan semakin riuh hanya dalam urusan privat,” katanya dalam keterangan resminya.

“Di satu sisi boleh melakukan protes atau memberikan dukungan, karena nuansa debat tentu tidak bisa dikendalikan,” tambahnya.

Di bagian lainnya, Pengamat Politik Ujang Komaruddin menilai publik kurang menyukai gaya Anies Baswedan. Dia menduga strategi yang dilakukan oleh Anies dengan menyerang Prabowo saat debat itu juga sebagai usaha menggaet para pendukung Prabowo di Pemilu 2019 silam.

Padahal, menurut Ujang, masyarakat cenderung menilai dengan hati dalam memilih pemimpin dan memenangkan hati masyarakat lebih sulit ketimbang memenangkan pikiran.

“Bahwa yang memenangkan hati rakyat itu lebih susah, saya melihat bahwa Anies harus hati-hati dalam debat terakhir dan tidak terlalu banyak menyerang. Sejatinya, tampil lebih soft saja karena orang awam melihat Prabowo karena hati dan perasaan,” tutur Ujang.

Terpisah, Direktur Riset Populi Center Usep S. Achyar menilai Prabowo Subianto layak menjadi presiden kedelapan untuk meneruskan kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, Prabowo memiliki sejumlah keunggulan, seperti pengalaman dan kompetensinya di dunia politik termasuk saat menjadi sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).

Bahkan menurut Usep, Prabowo telah menunjukkan kinerja yang baik menjadi Menhan. Sejumlah prestasi penting telah diraih Prabowo, seperti berhasil melaksanakan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI, antara lain pembelian 24 Jet Tempur F-15EX.

“Kemampuan itu yang dianggap memiliki keunggulan untuk memimpin negeri ini di 2024. Prabowo juga telah mempromosikan perkembangan industri pertahanan lokal melalui kerja sama dengan perusahaan milik negara (BUMN), seperti produksi kendaraan taktis Maung,” tutur Usep.

Lebih jauh, Prabowo juga aktif dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan pasokan air bersih. Hal ini terbukti dengan keberhasilan Prabowo dalam membangun sumur bor dan meresmikan 74 titik mata air yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk Lombok, Sumbawa, Yogyakarta, Banyumas, dan Pulau Moa.

“Dengan prestasi tersebut, tidak heran jika Prabowo mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat. Jadi, secara umum, kinerjanya juga dinilai cukup baik oleh masyarakat,” tambah Usep.(bud)