Camat Pondok Gede, Zainal Abidin Syah (bertopi dinas) hadir dalam kegiatan Workshop “100 Rumah Merdeka dari Sampah” di Komplek Sinar Kasih, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi, Sabtu (8/8/2026). (Independensi/Foto-foto: Tyo Pribadi)

Gerakan 100 Rumah Merdeka dari Sampah di Bekasi Jadi Calon Pilot Project

Loading

BEKASI (Independensi.com)  – Gerakan “100 Rumah Merdeka dari Sampah” di RW 02 Komplek Sinar Kasih, Jatimakmur, Pondok Gede, Kota Bekasi, diproyeksikan menjadi pilot project pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Bekasi.

Sekjen Sekolah Sampah Nusantara, Titik Nuraeni.

Hal itu mengemuka dalam Workshop “100 Rumah Merdeka dari Sampah” yang digelar di Pendopo 20 Tahun Sinar Kasih, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut mengusung semangat “Mulai dari Rumah Kita, Untuk Masa Depan Kita.”

Gerakan ini mendapat apresiasi dari pemerintah setempat. Camat Pondok Gede dan Lurah Jatimakmur bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi menilai inisiatif warga RW 02 memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai model pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di wilayah lain.

Direktur Bank Sampah Induk Patriot (BSI/BSIP) Kota Bekasi, Mulyanto Diharjo.

Antusiasme warga terlihat sepanjang kegiatan. Peserta mengikuti edukasi pemilahan sampah, pengelolaan sampah organik menggunakan komposter, pengelolaan sampah anorganik, hingga penguatan partisipasi masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah dari sumbernya.

“Gerakan “100 Rumah Merdeka dari Sampah” tidak dirancang sebatas pembagian komposter dan trashbag. Program ini diarahkan menjadi embrio sistem pengelolaan sampah yang efektif, efisien, ramah lingkungan, sesuai regulasi, dan berbasis ekonomi sirkular,” ungkap Subkoord Perencanaan Teknis Bidang PSPLB3 dan Japung Penyetaraan Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda, Marlena Widiawati. ST, melalui keterangan tertulis.

Marlena mengatakan, sistem tersebut dibangun melalui sejumlah aspek, mulai dari regulasi hingga tingkat RT dan rumah tangga, pendanaan, kelembagaan seperti Bank Sampah dan TPS3R/TPST, partisipasi masyarakat, teknologi tepat guna, hingga pengembangan ekonomi sirkular. Dengan pendekatan itu, pola pengelolaan sampah diharapkan berubah dari sekadar “angkut dan buang” menjadi “pilah, olah, manfaatkan, dan sirkular.”

Perencanaan Teknis Bidang PSPLB3 dan Japung Penyetaraan Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda, Marlena Widiawati. ST.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, inisiator gerakan yang juga praktisi lingkungan hidup, Titik Nuraini  menegaskan, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas pengolahan. “ Kita tidak sedang membangun sekadar program sampah. Kita sedang membangun sebuah sistem. Sistem yang dimulai dari rumah, didukung regulasi, kelembagaan, pembiayaan, teknologi dan partisipasi masyarakat, kemudian diarahkan menuju ekonomi sirkular,” ujar Titik.

Sebagai tahap awal, gerakan tersebut menyasar 100 rumah di RW 02. Setiap rumah didorong memiliki satu komposter, satu trashbag atau wadah pemilahan, serta satu komitmen untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Konsep ini, menurut wanita yang akrab disapa Enny ini menempatkan rumah tangga sebagai momentum awal perubahan. Sampah dipilah sejak dari sumber sebelum masuk ke sistem pengelolaan berikutnya.

Para peserta workshop berfoto bersama.

Lebih jauh Enny selaku pendiri dan Sekjen Sekolah Sampah Nusantara mengatakan, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan sampah. Menurutnya, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi dapat menjadi sumber daya apabila dikelola sejak dari sumbernya.

“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan sampah di kota, maka kita harus mulai menyelesaikannya dari rumah. Karena rumah adalah sumbernya, dan masyarakat adalah kunci keberhasilannya,” kata Enny. Ia berharap gerakan tersebut dapat berkembang secara bertahap. Dari 100 rumah diharapkan tumbuh menjadi gerakan satu RW, kemudian satu kelurahan, Kecamatan Pondok Gede, hingga dapat direplikasi di wilayah lain di Kota Bekasi.

Apresiasi

Sekretaris RW 02 Komplek Sinar Kasih, Winiati Pratiwi, S.H.,menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang ikut mendorong gerakan tersebut agar berkembang menjadi budaya masyarakat. Menurutnya, program ini juga mendapat dukungan dan pendampingan dari unsur pemerintah, Bank Sampah, dunia pendidikan, masyarakat, serta para mitra Sekolah Sampah Nusantara yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

“Keberhasilan program nantinya tidak hanya dilihat dari jumlah sampah yang berhasil diolah. Perubahan perilaku warga, berkurangnya sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA), kualitas kompos, penguatan Bank Sampah, nilai ekonomi yang dihasilkan, serta keberlanjutan sistem juga menjadi indikator penting,” ujar Winiati.

Sedangkan Camat Pondok Gede, Zainal Abidin Syah, S.T, M.M. mengatakan, sebagai pilot project, gerakan “100 Rumah Merdeka dari Sampah” diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama antara masyarakat dan pemerintah. Evaluasi dan penyempurnaan akan dilakukan secara bertahap, termasuk dalam aspek kelembagaan, teknologi, infrastruktur dan partisipasi masyarakat.

“Gerakan ini menjadi contoh bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, lingkungan terkecil, dan komitmen masyarakat,” ungkap Zainal Abidin.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *