![]()
GRESIK (indeoendensi.com) – Pemerintah Desa (Pemdes) Sukorejo Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik Jawa Timur, memanfaatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelolanya menjadi motor penggerak ekonomi desa melalui pengembangan peternakan burung puyuh.
Kepala Desa (Kades) Sukorejo, Fatkhur Rahman menyatakan bahwa pemerintahannya berkomitmen mendukung penuh pengembangan usaha BUMDes sebagai salah satu instrumen peningkatan kesejahteraan warga.
“Kami ingin BUMDes menjadi motor penggerak ekonomi desa. Karena itu, kami kembangkan usaha burung puyuh agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik dari sisi ketahanan pangan maupun peningkatan pendapatan khususnya bagi warga Sukorejo,” ujarnya, Kamis 3 September 2026.
Gus Rohman sapaan akrab Kades menjelaskan, BUMDes Sukorejo saat ini memiliki kandang dengan kapasitas 350 ekor burung puyuh yang tengah diternak. Apalagi dalam sehari mampu menghasilkan telur sekitar 3,5 kilogram atau kurang lebih sebanyak 80 butir telur.
“Telur dari peternakan BUMdes kami ini, telah dipasarkan ke para tengkulak yang merupakan warga Desa Sukorejo sendiri dengan harga dibawah harga pasaran. Yakni seharga Rp 31 ribu perkilogram, sebab jika tengkulak mengambil telur puyuh dengan harga pasaran harganya Rp 35 – Rp 37 ribu perkilom,” tuturnya.
“Kenapa kami jual dengan harga di bawah harga pasar, supaya warga Sukorejo juga bisa menikmati hasil peternakan BUMdesnya, untuk mereka jual secara mandiri dan memulai usaha kecil yang bisa menambah penghasilan sehari-hari. Karena target kami adalah mengangkat perekonomian warga, bukan mencari keuntungan semata,” tegasnya.
Dikatakan Gus Riohman, agar telur yang dihasilkan peternakannya habis terjual, dirinya juga mengajak kerja sama dengan sejumlah donatur untuk ikut ambil bagian dengan membelinya yang disesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Para donatur yang saya ajak kerjasama ada 15 orang, mereka ada yang membeli telur Rp 100 ribu – Rp 200 ribu. Namun, telur yang mereka beli kemudian kami masak, untuk di jadikan Makan Telur Puyuh Bergizi Gratis (MTPBG) yang kita bagi-bagikan ke warga kurang mampu, anak yatim hingga anak-anak yang belajar di TK atau PAUD di Desa Sukorejo,” ungkapnya.
Kades yang telah mengabdikan diri selama tiga periode ini, berharap bisa melakukan pengembangan peternakan burung puyuh rintisannya itu. Supaya bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi warganya, serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat maupun memperkuat ketahanan pangan desa.
“Untuk saat ini peternakan burung puyuh milik BUMDes Sukorejo ini, saya sendiri yang kelolah di bantu seorang sukarelawan. Kenapa saya kelolah sendiri, karena kami belum mampu untuk membayar orang untuk dipekerjakan,” imbaunya.
“Meskipun saya yang kelolah sendiri, tapi hasil peternakan ini tidak saya nikmati sepeserpun. Justeru hasil yang kita dapatkan saya kembalikan ke masyarakat Sukorejo, sebab tujuan saya seperti itu,” tukasnya.
Ditanya terkait biaya untuk membeli pakan dan perawatan berasal dari mana, jika hasil peternakan di kembalikan semua ke warga. Rahman menjelaskan bahwa uang hasil penjualan telur puyuh, telah diatur untuk pembelian semua kebutuhan demi keberlangsungan peternakan yang dikembangkannya itu.
“Tentunya saya sudah mengatur semua kebutuhan agar stabilitas program peternakan burung puyuh ini tetap stabil dan terjaga. Bahkan, setiap bukan kami simpan uang hasil penjualan telur puyuh sebesar Rp 300 ribu sebagai kas. Tujuannya jika ada burung puyuh yang mati, bisa langsung kami belikan burung yang baru, sebab umur burung puyuh ini pendek berbeda dengan ayam,” tandasnya.
Menurut Rohman, untuk membeli pakan maupun obat-obat yang diperlukan dalam menunjang keberlangsungan peternakan yang dikembangkannya termasuk beli burung puyuh penganti yang mati dengan harga perekor antara Rp 9 – 10 ribu hingga penerangan atau listrik butuh biaya sekitar Rp 425 ribu perbulannya.
“Perlu diketahui bahwa semua uang hasil penjualan telur puyuh hasil ternak BUMDes Sukorejo ini, tercatat dalam buku untuk bisa dipertanggung jawabkan dan diketahui oleh seluruh masyarakat secara transparan,” pungkasnya. (Mor)

