Dr A.A. Gede Putra Raih Cumlaude Terkait Disertasi “Media Sosial, Spiritualitas, dan Konsumerisme”

Loading

Denpasar (Independensi.com) – Disertasi Promovendus Anak Agung Gede Putra dengan judul “Media Sosial, Spiritualitas, dan Konsumerisme: Studi Kasus Pemasaran Pembelajaran Spiritual pada SOUL”. Disertasi Ditulis untuk Memperoleh Gelar Doktor dalam Program Studi IImu Agama dan Kebudayaan, Fakultas IImu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Pendekatan atau ide yang dikemukakan (yaitu penggabungan pemasaran dengan spiritualitas) yang mengantarkannya meraih nilai Cumlaude (Sangat memuaskan).

Penelitian tersebut mengkaji spiritualitas digital yang umumnya berfokus pada praktik keagamaan daring dan penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi spiritual. Namun, kajian yang mengungkap bagaimana makna spiritual dikonstruksi, dikomodifikasi, dan dipasarkan dalam ekosistem digital masih terbatas.

Kesenjangan tersebut mendorong penelitian terhadap SOUL (Spirit of Universal Life) melalui kerangka The Maker–The Market–The Meaning (3M) untuk menganalisis strategi pengemasan spiritualitas di media sosial, proses komodifikasi makna, serta implikasinya terhadap pembentukan subjektivitas spiritual audiens.

Penelitian ini mengusulkan konsep managed spirituality: spiritualitas yang dikelola melalui kurikulum dan teknologi diri. Konsep ini menyorot ambivalensi praktik tersebut yang bersifat emansipatoris namun berpotensi membatasi. Temuan menunjukkan bahwa komodifikasi makna tidak selalu bertentangan dengan spiritualitas autentik dalam konteks ekonomi spiritual digital di Indonesia.

Salah satu Penguji Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana yang juga mantan Koordinator Staf Khusus, yang memimpin Tim Komunikasi Presiden, Ari Dwipayana memberikan apresiasi terhadap temuan disertasi ini bahwa Di sini spiritualitas tidak sekadar dipahami sebagai pengalaman batin, tetapi sebagai sesuatu yang diproduksi di mediasi, dipasarkan, dikonsumsi, sekaligus dimanfaatkan kembali oleh konsumen, oleh konsumennya. Jadi saya mengucapkan selamat atas karya akademik yang keren ini.

Sementara itu, Budayawan dan pengelana global Putu Suasta menekankan kebaruan, yakni penggabungan pemasaran dengan spiritualitas (pemaknaan, sakral, transformasi, pemakanan), model pemasaran baru yang bisa dipakai oleh lembaga (mis. universitas, rumah sakit, organisasi keagamaan), dan menempatkan ini sebagai pembaruan model. Dirinya bahkan menyinggung contoh sukses Muhammadiyah yang membangun tata kelola + kepercayaan yang mengubah spiritualitas jadi sebuah integritas dan akhirnya menjadi aset organisasi yang berkembang pesat.

Bahkan pemerhati kebijakan publik dan penggiat UKM, I Gusti Made Arsawan menilai bahwa ada realita perubahan pada relasi, ekonomi, dan keagamaan juga punya dasar yang masuk akal secara konseptual, karena spiritualitas sering terkait dengan praktik ekonomi dan relasi sosial dalam kajian akademik. (hd)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *