Airbag Bermasalah, Ratusan Ribu Mobil Honda Ditarik

JAKARTA (IndependensI.com) – Honda akan menarik lebih dari 245.000 unit mobilnya yang beredar di China. Penarikan besar-besaran itu terkait kekhawatiran atas keandalan airbag buatan Takata.

Honda dan mitranya di China, Guangqi Honda, akan mulai menarik kendaraan yang berpotensi bermasalah mulai 23 Oktober 2017. Mobil yang ditarik termasuk Accord, Fit, City, Crosstour, dan Everus S1.

Mereka akan mengganti airbag yang bermasalah tanpa biaya alias gratis.

Takata, produsen airbag asal Jepang, sudah menarik sekitar 100 juta airbag buatannya dari beberapa pembuat mobil dunia. Sekitar 70 juta di antaranya dilakukan di Amerika Serikat. Airbag itu ditakutkan tidak bisa mengembang secara sempurna dan pecah, sehingga dapat berakibat fatal buat pengendara.

Masalah itu terkait dengan sejumlah kematian dan cedera di seluruh dunia. Di China, airbag yang rusak terpasang di lebih dari 20 juta kendaraan. Sebagian besarnya sudah ditarik.

Bulan lalu, Honda mencapai kesepakatan bernilai US$605 juta dalam tuntutan hukum atas airbag yang rusak pada jutaan kendaraan di Amerika.

Honda, juga Nissan, Toyota, BMW, Mazda, dan Subaru sepakat mengganti airbag buatan Takata yang diduga tidak berfungsi semestinya. Takata sendiri kini sudah bangkrut.

Berbagai model Honda terdampak oleh perkara ini termasuk Civic, Accord, dan CR-V, dengan tahun produksi mulai 2001.

Kerusakan airbag dikaitkan dengan 16 kematian dan sejumlah cedera di seluruh dunia. Airbag buatan Takata dikaporkan mengembang terlalu cepat sehingga pecah dan melukai pengendara dan penumpang.

Masalah ini memicu penarikan mobil besar-besaran sepanjang sejarah dengan jumlah sekita 100 juta unit kendaraan di seluruh dunia.

Pada Februari 2017, Takata mengaku bersalah atas tuduhan menyembunyikan kerusakan barang buatannya. Perusahaan itu pun harus membayar denda US$1 miliar. Pada Juni 2017, Takata menyatakan pailit.

Kebangkrutan itu membuat produsen mobil menanggung biaya penarikan kendaraan dan penggantian airbag, meski Takata sudah menyediakan dana US$875 juta pada Januari 2017.