Foto bertanggal 16 September 2013 ini memperlihatkan pesawat C Series parkir di Mirabel, Quebec, Kanada. Airbus bergabung dengan Bombardier dalam pembuatan pesawat kelas menengah ini untuk menembus pasar Amerika Serikat. (AFP)

Boeing Gandeng Embraer untuk Menghadapi Airbus

JAKARTA (IndependensI.com) – Boeing siap menghadapi babak baru persaingan di industri penerbangan dengan menggandeng pembuat pesawat Brasil, Embraer. Kesepakatan kerja sama ini dilakukan untuk menanggapi aliansi Airbus dan Bombardier.

Airbus bergabung dengan Bombardier untuk membuat pesawat C Series guna mengakali proteksi yang diberlakukan pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. Departemen Perdagangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Airbus setelah menerima pengaduan Boeing.

“Apa pun yang baik untuk Airbas adalah buruk untuk Boeing,” kata Jim Corridore, pengamat di CFRA Research, Rabu (18/10/2017), menyimpulkan reaksi banyak pengamat terhadap kerja sama Airbus-Bombardier.

Airbus, produsen pesawat Eropa, mendukung Bombardier, yang bermarkas di Kanada, membuat pesawat C Series. Pesawat ini dirancang untuk mengangkut 100-150 orang penumpang.

Airbus akan memegang 50,01 persen saham tanpa perlu menyetorkan saham di muka. Imbalannya, Airbus akan membantu pemasaran dan penjualan pesawat jenis baru ini.

Boeing membantah kerja sama dengan Embraer semata untuk mengimbangi langkah pesaingnya. Perusahaan AS itu mengatakan dua kesepakatan ini tidak bisa dibandingkan karena Bombardier menerima subsidi bernilai miliaran dolar dari pemerintah Kanada.

“Pengumuman kesepakatan ini tidak ada dampak atau efeknya terhadap kami,” kata kepala bagian legal Boeing, J Michael Luttig, dalam pernyataannya.

“Semua kewajiban yang diberlakukan terhadap C Series (yang diperkirakan mencapai 300%) tetap harus dibayarkan. Hal itu berlaku untuk pesawat atau suku cadang C Series. Jika tidak, pesawat itu tidak diperbolehkan masuk ke negara ini.”

Meski Boeing membantah, para pengamat industri penerbangan mengatakan masuknya Airbus di pembuatan C Series menambah tekanan terhadap para petinggi Boeing.

“Kami rasa Airbus ingin menyaingi pesawat berbadan sempit Boeing dan memperluas pasarnya di Amerika Utara dan China,” kata Chis Higgins, pengamat di Morningstar.

Boeing 737 Max 8

Kesepakatan ini dengan instan memberikan Airbus jajaran pesawat baru berukuran kecil hingga 2025. Pesawat dengan hanya satu gang di antara bangku penumpang itu dibuat untuk menyaingi Boeing 737 Max 8 di kelas hingga 200 penumpang.

Higgins memperkirakan C Series akan lebih laku dibanding Max 8. Alasan utamanya karena C Series akan lebih dulu tersedia.

“Kami rasa peluang peluncuran program baru dari Boeing dalam periode 12 bulan mendatang sudah semakin kecil. Kini peluangnya tinggal sekitar 50 persen,” kata Higgins.

“Boeing harus cepat menjalankan program pembuatan pesawat jenis ini jika ingin menjadi pemain yang diperhitungkan, dengan teknologi baru,” kata Michel Merluzeau.

Pada Juni 2017, Boeing mengatakan tengah mempelajari “pasar pesawat kelas menengah” yang kabarnya sedang digemari maskapai penerbangan. Konsep pesawat itu punya kapasitas lebih besar yaitu sekitar 220 hingga 270 penumpang.

Boeing punya pilihan untuk secara langsung menghadapi aliansi Airbus-Bombardier. Sebab Embraer sudah punya pesawat E2, yang juga hanya punya satu gang di antara jajaran bangku penumpang (single-aisle). Embraer punya tiga versi E2 yang akan terbang mulai 2018 dan 2020. Boeing dan Embraer juga sudah bekerja sama dalam pembuatan pesawat militer KC-390.

Boeing mengadukan Bomberdier ke Departemen Perdagangan AS dengan tuduhan persaingan tidak adil. Bombardier dituduh menerima subsidi yang memungkinkan perusahaan itu menjual pesawat ke maskapai penerbangan AS, Delta Air Lines, dengan harga lebih murah.

Untuk melawan kasus ini, Airbus dan Bombardier berencana membuat pabrik C Series di Alabama. Di negara bagian AS ini, Airbus sudah punya pabrik pesawat.