Featured Video Play Icon

Bigo Live Dorong Pemuatan Konten Bermutu

JAKARTA (IndependensI.com) – Bigo Live (bigo.tv) banyak dikenal karena kontennya yang “panas”. Jejaring video streaming itu pun giat mendorong pemuatan konten bermutu untuk melepaskan diri dari citra negatif.

Contry Manager Bigo Live Indonesia, Kelly Zhang, mengatakan pihaknya sudah melakukan berbagai cara agar platform-nya bebas dari konten negatif.

“Kami memiliki tim pemantau yang terus mengawasi konten yang dimasukkan para broadcaster. Bigo Live paling cepat mendeteksi konten negatif. Hanya dalam hitungan detik, kami sudah bisa mendeteksinya,” kata Zhang saat ditemui IndependensI.com di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Gondangdia, Jakarta, Sabtu (21/10/2017).

Contry Manager Bigo Live Indonesia, Kelly Zhang

“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kominfo, bahkan selalu mencontohkan platform lain agar mengikut langkah Bigo dalam menyaring kontennya,” ujarnya.

Zhang menyadari penyensoran bukan satu-satunya cara untuk memerangi konten negatif. Bigo pun aktif melakukan kegiatan yang mendorong pemuatan konten positif.

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan kontes menyanyi Bigo Live Star. Ajang ini membantu para penyanyi rumahan untuk mewujudkan mimpi menjadi bintang.

Bigo berada di RPTRA yang berada di kolong rel kereta Commuter Line itu dalam rangka mendukung kegiatan Sekolah Kolong Cikini (Sekoci). Bigo memberi dukungan dalam bentuk pemeriksaan kesehatan untuk anak-anak oleh dokter Ganesha Shamsudin dan dokter Sheila Salsabila. Bigo juga memberikan donasi sebesar Rp84 juta.

Anak-anak, yang kebanyakan adalah pemulung, pengamen, dan penjual tisu, dihibur oleh Aviwkila. Band duo ini mendapat dukungan oleh Bigo untuk mewujudkan mimpinya.

“Aviwkila adalah salah satu broadcaster ternama di platform Bigo Live. Kami kagum dengan penampilan dan bakat mereka. Kami kemudian memutuskan untuk membantu mereka mewujudkan mimpi meereka agar dapat menjadi bintang terkenal,” kata Zhang.

Zhang berharap broadcaster lain mengikuti jejak Aviwkila. Dia yakin masih ada bakat-bakat terpendam di antara 10 juta orang Indonesia pengguna Bigo.