Gubernur Ismailia, Yassin Taher (kanan), mengunjungi para korban serangan teror di Rawda, Mesir, Sabtu (25/11/2017). Lebih dari 300 orang tewas setelah gerombolan teroris menjerang Masjid Rawda jelang salat Jumat, 24 November 2017. (AFP)

Korban Pembantaian di Mesir Bertambah

JAKARTA (IndependensI.com) – Jumlah korban tewas akibat serangan bom dan tembakan di Masjid Rawda, Mesir, terus bertambah.

Pemerintah Mesir menyebutkan serangan terhadap penganut Sufi, yang hendak melaksanakan salat Jumat, kini berjumlah 305 orang termasuk anak-anak. Aksi teror keji itu menjadi serangan paling berdarah di Mesir.

Tentara Mesir mengatakan pesawat tempur mereka sudah menghantam tempat persembunyian milisi di kawasan Sinai Utara. Serangan itu merupakan aksi balasan Kairo terhadap pemberontak yang diduga melancarkan teror.

Berdasarkan keterangan kantor Kejaksaan Mesir, Minggu (26/11/2017), setidaknya 30 orang bersenjata yang mengenakan kostum ala militer, mengibarkan bendera ISIS ketika mengepung masjid dan menyerang umat yang hendak bersembahyang.

Gerombolan itu meledakkan bom dan melepas tembakan secara membabi buta. Setidaknya 27 orang anak-anak tewas dalam serangan tersebut.

ISIS tidak menyatakan berada di balik teror itu. Tapi gerombolan bersenjata itu yang diduga kuat melakukannya. ISIS adalah kelompok Islamis fundamentalis yang selama ini memandang penganut Sufi melenceng dari ajaran Islam.

Pemakaman para korban berlangsung hingga tengah malam. Tidak sedikit korban yang dimakamkan masiah dengan pakaian yang berlumur darah.

Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menyatakan tiga hari berkabung nasional dan bertekad membalas serangan tersebut. Aksi teror di Rawda tercatat sebagai yang paling mematikan di dunia setelah serangan terhadap menara kembar World Trade Center, New York, pada 11 September 2001.

Beberapa jam setelah Al-Sisi berpidato di televisi, jet tempur Mesir berhasil menggempur beberapa kendaraan yang digunakan teroris. Juru bicara militer mengatakan serangan tersebut menewaskan para penumpang kendaraan.