Pemuda Ini Sebut Rela Jadi “Polantas” Demi Sejengkal Perut

PEKANBARU (IndependensI.com) – Sekitar pukul 13.00 WIB Minggu (17/12/2017) Kota Pekanbaru diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Setelah hujan reda disepanjang ruas jalan pun terlihat macet parah, salah satu titik macet di daerah jalan Subrantas Panam Pekanbaru.

Di jalan Soebrantas ada tikungan untuk jalan memotong bagi pengendara motor dan mobil, disitulah seorang pemuda yang setia bernama Arifin jadi “Polantas” dadakan untuk mengatur lalu lintas. Yang pasti pantauan Independensi.com jalan ini jarang dijaga Polisi lalu lintas. Justru yang sering yang menjaga disitu seorang Pemuda.

Ketika disapa oleh Independensi.com, pemuda ini sejenak berhenti melakukan aksinya untuk mengatur lalu lintas. “Aku mengatur lalu lintas untuk demi sesuap nasi bang” kata Arifin memulai pembicaraan.

Lokasi ini jarang dijaga Polisi, hanya kadang-kadang saja. Lebih sering saya menjaga dan mengatur lalu lintas disini ketimbang Polisi, tapi kalau dijaga Polisi areal ini tidak saya jaga” katanya. Intinya, saya hadir di sini membantu kelancaran arus lalu lintas. Itu saja bang. Kalau ada yang memberikan uang, ya terima. Kalau pun tidak ada yang tidak apalah.

Arifin memang bukan tipe pengatur lalu lintas macam “Pak Ogah” yang suka memaksa yang melintas memberi uang, ataupun menciptakan kondisi agar lalu lintas menjadi macet dan ada kesempatan mencari uang. “Polantas swasta macam itu” biasanya dibenci orang. Tapi Arifin cuma mengatur lalu lintas dikala macet dan banyak pengguna kendaraan yang membutuhkan pengaturan supaya lancar. Karena petugas Polantas resmi tidak ada, maka Arifin hadir di situ. Selintas, dari penampilannya fisik Arifin seperti tidak orang normal.

Siapa Arifin? Seorang warga yang melintas Ibu Niswa yang mengaku berdomisili di Kubang Pekanbaru. Dia mengaku sering melihat pemuda itu beraksi membantu lalu lintas dari pada polisi. Polisi tidak ada. Niswa pun mengaku bahwa pekerjaan pemuda ini lebih mulia daripada Polisi.

“Lihatlah pemuda ini, rela jadi “polantas” demi lancarnya pengendara. Pemuda ini hanya terima uang receh dari pengendara. Pemuda ini kalau kita lihat dengan kasat mata tampak agak kurang normal, tapi pemikirannya normal. Dia tau kalau lalu lintas macet lalu diaturnya, bukan sepeti Polisi waras katanya, tapi ketika lalu lintas semrawut malah Polisi tak ada, inilah faktanya,” kata Niswa mengkritik Polantas Pekanbaru. (Mangasa Situmorang)