George Weah, mantan pemain sepakbola dan calon presiden Liberia dari Koalisi untuk Perubahan Demokratis (CDC), memperlihatkan surat suara di tempat pemungutan suara di Monrovia, Liberia, 26 Desember 2017. (AFP)

Dari Sepakbola Menuju Istana

JAKARTA (IndependensI.com) – Hasil penghitungan suara belum diumumkan secara resmi tapi George Weah sudah mengklaim kemenangannya dalam pemilihan presiden Liberia.

Mantan pemain Chelsea dan Manchester City itu unggul atas wakil presiden petahana, Joseph Boakai, pada putaran kedua pilpres. Pada Oktober lalu, Weah memenangi putaran pertama dengan 28,4 persen suara. Waktu itu, Boakai di urutan dua dengan 28,8 persen.

Pemungutan suara yang digelar pada Selasa (26/12/2017) menandai pemindahan kekuasaan pertama yang terjadi secara demokratis setelah beberapa dasawarsa dan dua perang saudara.

Pemenangnya akan menggantikan perempuan pertama yang terpilih sebagai kepala negara Liberia yaitu Ellen Johnson Sirleaf. Dia sudah berkuasa di republik tertua di Afrika itu sejak 2006.

“Rakyat Liberia sudah menentukan pilihannya dengan jelas… dan bersama-sama kami amat yakin atas hasil proses pemilihan ini,” cuit Weah di Twitter.

Popularitas Weah sebagai pemain sepakbola ikut membantunya merintis jalan menuju istana. Dia adalah satu-satunya orang Afrika yang pernah dinobatkan sebagai Pemain Sepakbola Terbaik FIFA dan meraih Ballon d’Or.

Laki-laki berusia 51 tahun itu juga pernah malang melintang di klub papan atas Eropa seperti Paris Saint-Germain dan AC Milan pada 1990an sebelum tampil di Inggris bersama Chelsea dan Manchester City.

Legenda hidup Chelsea, Didier Drogba, sudah langsung mengirim ucapan selamat.

Argentina, Uruguay, dan Paraguay Bersatu Demi Piala Dunia 2030

Weah bukan presiden pertama yang berasal dari lapangan hijau. Presiden tiga negara Amerika Selatan yaitu Mauricio Macri, Horacio Cartes, dan Tabare Vazquez pernah menjadi pengurus sepakbola.

Macri, yang memimpin Argentina sejak Desember 2015, adalah presiden klub Boca Juniors pada 2005.

Vazquez sempat 10 tahun menjadi presiden klub Progreso (1979-1989). Klub ini menjuarai Liga Uruguay pada 1989.

Cartes adalah mantan presiden Club Libertad dan pernah memimpin departemen tim nasional di Asosiasi Sepakbola Paraguay saat kualifikasi Piala Dunia 2010.

Ketiganya kini menyatukan kekuatan untuk mewujudkan mimpi menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030.

 

Pemindahan Kekuasaan

Kantor Presiden Sirleaf mengatakan sudah mempersiapkan tim untuk “pemindahan kekuasaan eksekutif secara wajar dan teratur dari presiden yang terpilih secara demokratis ke penerusnya.”

Pendahulu Sirleaf, Charles Taylor, meninggalkan Liberia pada 2003 untuk menghindari hukuman atas perbuatannya mendanai gerombolan pemberontak di negara tetangganya, Sierra Leone. Dua presiden sebelum Taylor tewas terbunuh.

Berbagai pertikaian selama tujuh dasawarsa terahkir di Liberia mencegah terjadinya pemindahan kekuasaan secara demokratis sejak 1944. Setidaknya 250.000 orang tewas dalam dua perang saudara antara 1989 dan 2003.

Sirleaf, yang terpilih pada 2005, mampu memimpin negeri itu bangkit dari reruntuhan perang dan melewati wabah virus Ebola 2014-2016. Namun dia dinilai gagal mengentaskan kemiskinan dan memberantas korupsi.

Meski keadaan Liberia sudah lebih baik, Weah tetap akan menghadapi tantangan yang berat. Kandidat yang diusung Koalisi untuk Perubahan Demokratis (CDC) itu dituntut memperbaiki perekonomian nasional.

Liberia adalah salah satu negara termiskin di dunia. Wabah Ebola yang dibarengi turunnya harga komoditas global memukul perekonomian negara itu. Namun Bank Dunia memperkirakan perekonomian Liberia bisa pulih dari -1,6% di 2016 menjadi 2,6% di 2017.

Di luar masalah persatuan bangsa yang rapuh dan minimnya sumber daya alam, masalah lain yang harus dihadapi Weah adalah tingginya tingkat korupsi. Negara ini punya indeks korupsi 3,3 dalam jenjang 0 (korupsi tertinggi) hingga 10 (tanpa korupsi).