Banteng Moncong Putih Mulai Paranoid di Kandang Sendiri?

Oleh : Sigit Wibowo

JAKARTA (IndependensI.com) – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah menunjuk pasangan Ganjar Pranowo dan Yasin Maimoen sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur pada Pilkada Jawa Tengah 2018. Yasin Maimoen atau yang biasa disebut Gus Yasin adalah putra tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kyai Maimoen Zubair.

Penunjukan ini diumumkan langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu 7 Januari 2018. “Kita fight sekarang, kita jadikan lagi. Untuk Jateng yang pertama tetap Pak Ganjar Pranowo,” kata Megawati.

Mengenai penunjukan Yasin Maimoen sebagai cawagub, Megawati mengaku sudah berkomunikasi dengan Kiai Maimoen Zubair yang merupakan kyai sepuh PPP. Megawati memuji sosok Gus Yasin. “Orangnya keren lho, umurnya 35, putra Kiai Maimoen Zubair,” kata Megawati.

Dukungan terhadap cawagub dari ormas Islam ini tampaknya tidak solid di internal partai banteng moncong putih. Hal ini terbukti dengan pernyataan Megawati saat mendeklarasikan Ganjar Pranowo. Megawati sempat menceritakan bahwa di PDI Perjuangan terdapat kebijakan yang bersifat memaksa, bahwa siapapun yang ditunjuk sebagai calon, kader lainnya akan dipaksa untuk patuh pada keputusan ketum. Artinya, kalau menolak akan dipecat, dan ini sah dalam konteks melakukan konsolidasi.

Para Kader “Shock”

Jawa Tengah secara tradisi dan historis adalah “kandang” bagi kaum nasionalis. Di masa kejayaan Soekarno, Jawa Tengah adalah wilayah yang paling fanatik mendukung Soekarno dan PNI. Kefanatikan Jawa Tengah mungkin hanya bisa dikalahkan oleh Bali. Soekarno memang keturunan campuran Jawa Timur (ayah) dan ibu (Bali), namun pendukung utama Soekarno lebih kuat di Jawa Tengah dibandingkan di Jawa Timur.

Keberadaan orang-orang nasionalis pendukung PNI pada masa Soekarno hingga PDIP bisa ditelusuri akar tradisi dan sejarahnya 500 tahun sebelumnya. Wilayah Jawa pedalaman atau Jawa bagian selatan adalah daerah-daerah yang menolak masuk Islam di masa masa akhir sejak Kerajaan Majapahit diruntuhkan oleh serangan Pasukan Kesultanan Demak.

Sementara orang-orang pesisir pantai utara Jawa adalah orang-orang keturunan Cina Hanafi yang menjadi pendukung utama Demak pada saat melakukan agresi ke Majapahit. Sementara orang-orang Bali sebagian adalah pelarian dari orang-orang Majapahit yang berasal dari trah Kediri.

Majapahit bagi orang-orang Jawa adalah simbol kebanggaan dan kejayaan karena pada masa inilah Nusantara menjadi negara yang makmur dan sejahtera. Soekarno seperti tokoh Maha Menteri Gajah Mada yang memiliki wawasan kebangsaan yang luar biasa. Dua orang ini merupakan putra-putra terbaik yang pernah dilahirkan ibu pertiwi.

Kebanggaan Soekarno terhadap Kerajaan Majapahit dan Gajah Mada dibuktikan dengan perintah kepada Sejarawan Prof Dr Slamet Muljana untuk meneliti tentang Kerajaan Majapahit kenapa tiba-tiba bisa menghilang begitu saja. Buku penelitian Slamet Muljana pernah dilarang pada masa Soeharto karena dianggap menimbulkan keresahan masyarakat dan mengancam stabilitas nasional pada masa Orde Baru.

Basis Pendukung PDIP

Basis pendukung PNI dan PDIP sebenarnya adalah orang-orang Islam KTP atau abangan dan Non-Muslim. Orang-orang Islam KTP dan Non-Muslim ini jika dicermati leluhurnya adalah keturunan orang-orang agama Jawa (Kanung), Siwa-Buddha yang tidak mau masuk Islam pada saat Majapahit runtuh oleh serangan Demak pada tahun 1478.

Keturunan orang-orang ini kemudian bertransformasi menjadi Kejawen dan Non-Muslim pada masa penjajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, mereka umumnya adalah orang-orang menjadi pendukung partai-partai Non Islam seperti PNI, PKI, Partai Katolik, Parkindo. Pada saat itu KTP tidak ada kolom agama dan kolom agama di KTP dilakukan setelah era Orde Baru.

Partai-partai politik ini sejak awal kemerdekaan menolak pemberlakukan hukum syariat Islam (Piagam Jakarta) dan menentang pembentukan negara Islam di Indonesia. Mereka adalah anak keturunan orang-orang Majapahit yang sudah selesai dengan masalah perbedaan. Mereka adalah para pendukung Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika karena itulah rumus untuk menjadi bangsa yang jaya seperti masa Majapahit.

Saat ini PDIP terlihat paranoid dan mulai gamang di kandang sendiri. Kekalahan calon yang diusung PDIP dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi pemicu partai banteng moncong putih ini semakin tidak percaya diri. Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah pilkada paling brutal dalam mengeksploitasi sentimen SARA. Akibatnya pemilihan seorang gubernur ditentukan oleh agama dan bukan ditentukan rekam jejak dan kinerja figur yang berkompetisi.

Penunjukkan cawagub Jawa Tengah dari unsur kelompok agamis menunjukkan PDIP menjadi partai yang sangat pragmatis sekaligus paranoid. Fenomena ini seperti mengingatkan kepada raja terakhir Majapahit Brawijaya V yang menggali kuburnya sendiri dan berakhir tragis setelah mengakomodasi atau mengundang orang-orang yang datang dengan tujuan meruntuhkan istananya.

Penulis adalah wartawan tinggal di Bogor