Pesawat Monarch Airlines diparkir di Bandar Udara Birmingham di Birmingham, Inggris, Senin (2/10/2017). Maskapai penerbangan Inggris itu pailit setelah tidak mampu membayar utang. (AFP)

Maskapai Penerbangan Inggris Gulung Tikar

JAKARTA (IndependensI.com) – Maskapai Inggris, Monarch Airlines, gulung tikar setelah mengalami keruguian tahunan 100 juta pound (US$133 juta).

Penerbangan yang melayani rute jarak pendek itu dinyatakan pailit. Ribuan karyawan Monarch di-PHK dan ratusan ribu penumpangnya terlantar.

“Kemarin adalah hari penuh duka buat kami dengan 2.000 orang kehilangan pekerjaan dan kami semua amat prihatin terhadap nasib penumpang dan terhadap diri kami sendiri,” kata CEO Monarch Airlines, Andrew Swaffield, kepada BBC Radio 4, Selasa (3/10/2017).

Otoritas Penerbangan Sipil Inggris mengeluarkan skema repatriasi darurat untuk menerbangkan 110.000 orang pemegang tiket Monarch. Tindakan ini diperkirakan menghabiskan uang negara sebesar 60 juta pound.

Penumpang berjalan dekat meja check-in Monarch Airlines di Bandar Udara Birmingham di Birmingham, Inggris, Senin (2/10/2017).

Monarch mengalami krisis keuangan seiring anjloknya penumpang di pasar andalan mereka yaitu Turki, Tunisia, dan Mesir. Ketiga negara itu dihantam rangkaian serangan teror dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, Monarch harus menghadapi persaingan sengit dengan maskapai penerbangan lain. Banyaknya pemain di jalur populer seperti Portugal dan Spanyol juga membuat Monarch sulit mendapatkan penumpang.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, penurunan harga tiket hingga 25 persen menciptakan “tantangan ekonomi besar” untuk kelompok usaha ini, kata Swaffield.

Akibatnya, kerugian besar pun tidak terelakkan.

“Angkanya lebih dari 100 juta pound” (kerugian yang sudah diproyeksikan untuk tahun depan)… dan kami tidak bisa mencari cara mengurangi kerugian itu secara signifikan,” kata Swaffield.

“Kami tidak bisa menemukan solisi dan kami mencapai akhir perjalanan pada Sabtu malam, mengambil keputusan, dan menyampaikannya pada Senin pagi,” ujarnya.

“Kami sudah berbicara dengan beberapa sumber, mencari berbagai cara untuk menyelamatkan perusahaan, termasuk menggalang modal untuk menutup kerugian, menjual perusahaan dan sebagian perusahaan. Kami kemudian menyimpulkan bahwa kami tidak punya harapan lagi,” kata Swaffield.