Calon Wakil Gubernur Sumut, Sihar Sitorus (kiri) dan Calon Gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat (kanan) yang diusung PDIP belum mendapat tiket maju ke Pilkada Sumut 2018, karena belum mendapatkan jatah kursi sesuai aturan Piilkada yakni 20 kursi.

PPP Masih “Jual Mahal”, Posisi PDIP di Sumut Masih Genting

JAKARTA (IndependensI.com) – Posisi  calon wakil gubernur Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam pilkada Sumut kini ditentukan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Hal itu disebabkan jumlah kursi yang dimiliki PDIP untuk mengusung calon sendiri tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan Undang Undang Pemilu, di mana harus memiliki 20 kursi. Sementara PDIP hanya memiliki 16 kursi, sehingga membutuhkan 4 kursi lagi,

Dengan demikian PDIP harus berkoalisi dengan partai PPP yang merupakan salah satu partai yang sampai saat ini belum memastikan dukungannya. Partai-partai lain kini sudah memiliki kandidat lain yang diusung, sehingga praktis PDIP harus ‘merayu” PPP agar mau berkoalisi. Di sisi lain, PPP juga menjalin komunikasi dengan koalisi partai pengusung kandidat lain di Pilkada Sumut. Posisi PDIP di Sumut sangat genting. PPP tampaknya sengaja mengulur-ulur waktu karena posisinya sangat menentukan.

Sekiranya PDIP tidak mampu meyakinkan PPP, maka bisa jadi PDIP di Pilkada Sumut kehilangan kesempatan alias gagal mengajukan calon sendiri. Kecuali ada partai lain yang “mbalelo” dari koalisi yang sudah disepakati dan bersedia membangun koalisi baru dengan PDIP untuk mengusung calon yang ditawarkan PDIP.

Hingga berita ini diturunkan belum ada kata sepakat antara PDIP dengan PPP. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PPP, Ahmad Baidowi mengatakan, partainya belum membuat keputusan dukungan terhadap pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur (cagub-cawagub) di dua provinsi yakni Sumatera Utara dan Lampung. “PPP masih melakukan komunikasi dan lobi dengan partai politik lain untuk memastikan dukungan, hingga sebelum detik-detik terakhir,” kata Ahmad Baidowi, di kantor DPP PPP, Menteng, Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Menurut Ahmad Baidowi, PPP sampai saat ini masih terus melakukan komunikasi politik dan lobi dengan partai politik lain untuk mencapai kesepakatan dukungan, yang diharapkan pada Rabu (10/1/2018) siang atau sore sudah ada kesepakatan. Untuk Pilkada Sumut, PPP menawarkan cagubnya sendiri, sehingga pasangan calon yang diajukan oleh PDIP Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus terancam dibongkar. Kecuali PPP mau mengalah dan mendukung calon yang diajukan oleh PDIP tersebut.

Untuk posisi pasangan calon gubernur Sumatera Utara, kata Baidowi, PPP telah dilobi oleh Partai Demokrat dan PDI Perjuangan untuk turut mengusung pasangan cagub-cawagub yang masing-masing diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

Baidowi menjelaskan, Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat, yang juga calon gubernur Sumatera Utara dari partai tersebut telah mendatangi kantor DPP PPP dan menawarkan untuk mengusung dirinya pada pilkada Sumatera Utara. Namun PPP belum menerima pasangan calon yang ditawarkan oleh PDIP tersebut. “Kami harapkan, PDI Perjuangan dapat memberikan posisi cawagub kepada PPP, tapi ternyata PDI Perjuangan sudah memutuskan pasangan cagub-cawagub,” katanya.

Pasangan cagub-cawagub PDI Perjuangan untuk pilkada Sumatera Utara yang telah dideklarasikan pada Minggu (7/1) adalah, Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus. Di sisi lain, menurut Baidowi, PPP juga telah dilobi Partai Demokrat untuk mengusung pasangan cagub-cawagub yang diusung partai tersebut yakni JR Saragih dan Ance Selian. “PPP masih terus melakukan komunikasi. Pilihannya, ada dua opsi, apakah akan turut mengusung pasangan cagub-cawagub dari PDI Perjuangan atau pasangan cagub-cawagub dari Partai Demokrat,” katanya. (kbn)