Ilustrasi. (Dok/Ist)

Diberi Penghargaan, King Koreksi Margaret Court

MELBOURNE (IndependensI.com) – Legenda hidup tenis putri asal Amerika Serikat (AS) Billie Jean King mendapat penghargaan sebagai “Women of The Year” oleh asosiasi tenis Australia, berkenaan dengan gelaran grand slam Australian Open yang ke-50 di Melbourne Park, Melbourne, Australia, Minggu (14/1). Penghargaan ini adalah kali pertama dari Negeri Kangguru bagi mantan petenis tangguh yang kini berusia 74 tahun itu.

Bersamaan dengan penghargaan ini, King menyuarakan agar penggunaan nama petenis Australia, Margaret Court yang diabadikan sebagai lapangan utama di Melbourne Park agar diganti. Court yang kini berprofesi sebagai pendeta pada tahun lalu mengeluarkan pernyataan kontroversial, bahwa dirinya sangat anti pada perkawinan sesama jenis kelamin dan hubungan seks sesama.

Baginya, persoalan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) adalah yang harus diperangi. Bahkan, dirinya enggan menggunakan maskapai lokal Australia, Qantas yang memberikan dukungan pada perkawinan sesama jenis kelamin. Dia juga menyebut di kancah tenis putri kelas dunia penuh dengan lesbian dan transgender yang bisa merusak orientasi seksual para generasi muda. Court juga menyebut beberapa pemain seperti Martina Navratilova yang diduga punya kelainan orientasi seksual.

King sendiri memilih untuk tidak menikah dan menjalani hidup sebagai gay perempuan. Pada 2003 lalu, King sangat mendukung masuknya nama Court untuk diabadikan sebagai nama stadion tenis utama di Melbourne Park. Namun saat dirinya tahu Court sangat menentang LGBT, King enggan memberikan dukungan dan bahkan meminta asosiasi tenis Australia untuk mengganti namanya.

“Saya sangat salut dengan prestasinya. Dulu namanya sempat dilupakan oleh tenis Australia. Saat nama Rod Laver diabadikan sebagai nama stadion, saya langsung protes kepada mereka, kenapa tidak Margaret juga diberikan penghargaan. Dia itu punya 64 gelar grand slam,” ujar King . Namun demikian, setelah Court mulai “menyerang” kaum LGBT, King pun dengan keras memberikan perlawanan. “Saat dia mulai menyerang komunitas LGBT, saya langsung tidak lagi menghormatinya. Ini adalah soal perasaan hati dan jiwa yang sangat mendalam,” ujar King.

Lebih jauh King mengaku tidak ada masalah dengan Court secara pribadi. Bahkan bila nanti bermain pada ajang eksibisi dan Court hadir di lokasi, King tidak akan mempersoalkan. King hanya meminta agar Court dalam memberikan pernyataan di media massa harus dipikirkan terlebih dahulu.

Kabarnya, tekanan mengganti nama lapangan Margaret Court semakin keras. Beberapa petenis akan memboikot acara pembukaan Australia Open, Senin (15/1), apabila nama lapangan tenis itu tidak diperbaharui. Court sendiri mengaku tidak akan hadir dalam acara pembukaan. Tidak ada infomasi yang diperoleh pihak panpel dari yang bersangkutan atas ketidakhadiran tersebut. Menurut sebuah sumber Reuters, Court yang kelahiran Perth ini tengah menjalani liburan dan senang melakukan kegiatan menangkap kepiting.