Cristina Kirchner (kiri) dan Julio de Vido (clarin.com)

Mantan Presiden Argentina Dituduh Korupsi

JAKARTA (IndependensI.com) – Mantan presiden Argentina, Cristina Fernandez de Kirchner, dijerat dengan tuduhan korupsi, Jumat (2/3/2018). Dia diduga menerima suap dari kontrak pekerjaan umum di kantong politiknya di Patagonia.

Jaksa federal Julian Ercolini juga memerintahkan pengadilan untuk mantan menteri Julio de Vido dan juragan konstruksi Lazaro Baez. Kedua orang itu dikenal dekat dengan Cristina Kirchner dan suaminya, mantan presiden Nestor Kirchner.

Suami-istri Kirchner berkuasa di Argentina antara 2003 dan 2015.

Cristina Kirchner, De Vido, dan Baez dituduh melakukan persekongkolan jahat dalam “kejanggalan” pembuatan kontrak pekerjaan umum di Provinsi Santa Cruz. Cristina juga diduga menerima keuntungan dari kontrak bernilai US$2,4 miliar yang diberikan kepada kelompok usaha konstruksi Austral milik Baez. Data tersebut dikeluarkan Pusat Informasi Kehakiman Argentina (CIJ).

Cristina Kirchner dan Lazaro Baez

Tanggal pengadilan Cristina belum ditetapkan. Berdasarkan undang-undang yang berlaku di Argentina, Cristina – yang kini menjadi senator – bisa diadili dan dihukum, tapi imunitas parlemen melindunginya dari sanksi kurungan penjara. Baez dan De Vido saat ini sudah ditahan.

Beberapa bulan lalu, Cristina bersikeras menyatakan dirinya tidak bersalah. Sebagai bentuk protesnya, pengacara berusia 65 tahun itu pernah mengatakan siap maju ke pengadilan untuk memberikan “klarifikasi yang definitif dan terbuka”.

Bos Oxfam Guatemala Diadili

Berakhirnya 12 tahun kekuasaan Kirchner pada 2015 membuka pintu untuk penyelidikan terhadap Cristina. Dia terkait dalam setidaknya dua skandal lain yaitu memerintahkan bank sentral menjual dolar di bawah harga pasar jelang akhir pemerintahannya, dan perannya dalam menutupi dugaan keterlibatan Iran pada pengeboman pusat Yahudi di Buenos Aires pada 1994.

Cristina, yang terpilih sebagai senator pada Oktober 2017 dan memimpin koalisi Persatuan Rakyat, adalah lawan politik utama Presiden Mauricio Macri. Kubu Kirchner menduga kasus ini diangkat untuk menjatuhkan mereka.