Tim penolong bekerja di lokasi jatuhnya pesawat, yang dioperasikan Cubana de Aviacion, di Havana, Kuba, Jumat (18/5/2018). Pesawat Boeing 737 itu jatuh beberapa saat setelah lepas landas dari bandar udara Jose Marti. (Foto: AFP)

Penerbangan Kuba Berisiko Tinggi

JAKARTA (IndependensI.com) – Sebanyak 110 orang tewas dalam jatuhnya pesawat Boeing 737 di Havana, Kuba, pada 18 Mei 2018 lalu. Petaka itu diduga terjadi setelah pesawat mengalami kerusakan tidak lama setelah lepas landas dari bandar udara Jose Marti.

Pesawat yang dioperasaikan maskapai Cubadan de Aviacion itu disewa dari perusahaan Meksiko, Damojh. Dua mantan pilot Damojh mengungkapkan bahwa Damojh sudah sering menerima keluhan soal keselamatan penerbangan.

Salah satu pilot menyebutkan bahwa sekitar delapan tahun lalu, satu pesawat yang disewakan Damojh tiba-tiba menghilang dari radar. Pilot lain menyebutkan buruknya perawatan pesawat.

Ovidio Martinez Lopez, pensiunan pilot yang pernah bekerja di Cubana, menulis di Facebook bahwa pesawat lain yang disewa dari Damojh sempat menghilang dari radar saat melintasi Santa Clara pada 2010 atau 2011. Lopez mengatakan hingga saat ini tidak tahu penyebab insiden tersebut.

Kapten dan kopilot penerbangan tersebut kemudian dihukum skorsing karena “masalah dan minimnya pengetahuan teknis”. Lopez, yang pernah 40 tahun menjadi pilot Cubana, mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun “banyak awak kabin” yang tidak mau terbang dengan beberapa pesawat Cubana.

Pilot lain, Marco Aurelio Hernandez, mengaku sudah sering mengeluhkan buruknya perawatan pesawat Damojh.

“Saya mengalami beberapa insiden di perusahaan ini, seperti kerusakan mesin atau masalah sistem kelistrikan, setelah lepas landas dari Meksiko,” kata Hernandez seperti dikutip surat kabar Meksiko, Milenio, Senin (21/5/2018).

Pemerintah Meksiko mengatakan segera melakukan audit keselamatan terhadap Damojh.

Sebagian besar korban tewas adalah warga negara Kuba. Sebanyak 10 orang di antaranya adalah 10 orang pendeta Kristen dan istri mereka.

Pemerintah Kuba masih menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat. Di lokasi petaka, tim penyelidik terus mengumpulkan potongan pesawat.

Kotak hitam yang merekam data penerbangan sudah ditemukan dalam kondisi prima. Otoritas penerbangan Kuba berharap kotak hitam itu bisa membantu mereka mengetahui penyebab petaka ini.