Bosan Menunggu Perawat, Pasien Miskin Terpaksa Ganti Sendiri Tabung Infus

PEKANBARU (IndependensI.com) – Seorang Pasien miskin yang tak bersedia disebut namanya, mengaku kecewa perlakuan oknum perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu – Riau.

Pasalnya oknum perawat di RSUD yang bertugas pada pasien itu, disebut kurang perduli dalam pelayanan. Mungkin karena pasien BPJS jadi kurang dianggap dan tidak pantas mendapat pelayanan yang baik. Sangat mengenaskan, kata pasien ini tentang perilaku perawat di RSUD Indrasari Pematang Reba.

“Keluhan saya ketika saya habis cairan infus, saya lapor pada perawat satu kali, dua kali tiga kali, dan bahkan saya jumpai perawat supaya tabung cairan infus diganti. Saya hanya disuruh masuk keruangan dan perawat itu berjanji akan datang. Saya tunggu toh juga tidak datang, akhinya saya ganti sendiri tabung infus saya. Sudah tiga Kali saya memasang sendiri. Pelayanan perawatnya di sini kurang perduli, tapi pelayanan dokter bagus,” ujarnya

Menuriut istri pasien ini, hingga kini tetap juga oknum perawat itu kurang perduli pada pasien. “Sampai sekarang perawat masih kurang perduli sama suami saya” katanya, Rabu (12/9/2018)

Hingga berita ini diturunkan Dirut RSUD Indrasari belum bisa dikonfirmasi oleh IndependensI.com. Sementara itu, anggota DPRD, Rijal Zamzani dari Partai PKS mengakui perlakuan kurangnya pelayanan di RSUD Indrasari. Pengalaman kurangnya pelayanan oleh RSUD dialami Rijal Zamzami ketika anaknya operasi di RSUD Indrasari.

“Jangankan kalian, anak aku operasi disitu tak bagus pelayanannya.  Saya diam saja. Saya tidak bilang saya anggota Dewan, besoknya saya panggil Dirutnya dan diberhentikan anak (oknum perawat) itu”

Namun soal pelayanan yang kurang di RSUD itu, menurut  Rijal memang harus dibenahi. Namun tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi selalu dikaitkan dengan direksinya.

“Janganlah dibesar-besarkan masalah kecil, dikit-dikit ke Dirut, dikit-dikit ke Dirut. Itulah sistem pelayanan kita. Kita (pasein-red) bukan lah Bupati yang yang ditunggu 24 jam, itulah sistem, terlalu kecil persoalan itu.  Kecuali ada ditemukan penjualan oksigen, infus, kalau ada buktinya, baru bisa dilaporkan. Jadi kalau soal pelayanan itu biasa dan sistem,” ujarnya. (Mangasa Situmorang)