Melestarikan Tradisi NU

Loading

IndependensI.com – Ketika Dr. Alwi Shihab dan Saifullah Yusuf mengajukan gugatan ke Pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tahun 2005 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ada yang sedikit unik. Di mana setiap sidang selalu ada sekitar 50-an orang yang tekun mengikuti sidang, katanya pendukung Penggugat, Alwi-Saifullah.

Yang digugat waktu itu, Abdurrachman Wahid (Gus Dur), Sekretaris Dewan Syuro Arifin Junaidi, Wakil Ketua Umum Mahfud MD dan Sekretaris Jenderal Muhaimin Iskandar. Gus Dur cs sebagai tergugat kuasanya dikoordinir Luhut MP Pangaribuan dengan sejumlah rekannya diantaranya Leonard Simorangkir, Nursyahbani Katjasungkana, Ikhsan Abdullah dan Firman Wijaya, dan lain-lain.

Suatu saat, seorang dari Tim Kuasa Hukum Gus Dur mengeluhkan kehadiran pendukung penggugat, meminta tanggapan Ikhsan Abdullah sebagai “orang” PKB dan NU (Nahdlatul Ulama) berkomentar, “tidak apa-apa itu, mereka tidak akan mengganggu. NU itu biasa berbeda pendapat tetapi tetap satu. Seorang kyai saja bisa punya isteri beberapa orang tinggal dalam satu rumah biasa, damai”.

Pertanyaan seoranng rekan ke Ikhsan Abdullah itu beralasan untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memang selama persidangan, pendukung Alwi-Saifullah tetap hadir dan jumlahnya sama dan tekun mengikuti sidang. Artinya tidak mengganggu, tidak seperti yang lain suka gaduh atau menggumam berkomentar.

Tetapi ketika pembacaan putusan Majelis Hakim dan memenangkan Gus Dur cs, para supporter Alwi Shihab-Saifullah Yusuf itu, katanya justru “sembah sujud” atas putusan itu. Ketika dikemukakan hal itu kepada Ikhsan Abdullah, sambal tertawa terbahak-bahak dia mengatakan “saya sudah katakan, NU itu biasa berbeda pendapat”.

Memang perlu disimak “gaya Nahdliyin” ini, karena selalu dengan “santai” menghadapi persoalan dan ujung-ujungnya damai. Hal itu kita ungkapkan, melihat belakangan ini seolah dipersepsikan bahwa terjadi “perseteruan” antara KH Ma’ruf Amin yang telah ditetapkan Joko Widodo sebagai calon pendampingnya di Pilpres 2019.  Padahal ketika pendekatan termasuk mempersiapkan beberapa persyaratan telah dilakukan Prof. Mahfud MD.

Hubungan kedua tokoh ini membuat pendukung Mahfud MD seolah dipersepsikan pihak lain “mengurangi” dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf, dan sering juga digoreng kiri-kanan serta atas bawah. Ternyata, bagaikan hujan satu hari menghapus kemarau tiga bulan setelah Ma’ruf Amin berpelukan di JCC beberapa hari lalu,

Kebesaran jiwa dan kenegarawanan Mahfud ditunjukkannya dengan pelukan hormat sesama Nahdliyin. Dari sejumlah komentar yang perlu kita kemukakan adalah ucapan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi, “Itulah tradisi di NU”.

Kita patut mensyukuri semakin meningkatnya kesadaran kita bersama perlunya hidup rukun dan damai sebagai sesama anak bangsa, mengikuti tradisi NU boleh berbeda pendapat tetapi penyelesaiannya tetap damai dalam persatuan dan kesatuan.

Juga kita mensyukuri proses “ber-rangkul-an”-nya Presiden Joko Widodo-Prabowo Subianto di tribun kehormatan ketika pertandingan silat perorangan putra Asian Games 2018 berlangsung, dimana Hanifan Yudani Kusumah yang memperoleh medali emas berlari memberi hormat kepada pembesar bangsa sekaligus merangkulnya dililit merah putih.

Adalah wajar dan harus kita merasa dipermalukan oleh si anak muda petarung silat yang diajar menumbangkan lawan, tetapi mampu memberi kenyamanan hanya dengan satu gerakan, merangkul. Para politisi dan cendekiawan atau tokoh masyarakat yang sering bersuara sumbang serta benar dan pintar sendiri, hendaknya belajar atau mengajar sopan dan santun dari cucunya.

Kita tidak ada niat untuk mem-bully “tempe setipis kartu ATM”, tetapi kita hanya ingin menyinggung ke-NU-an para Nahdliyin dan tidak ada kaitannya dengan “itulah tradisi di NU”, yaitu ketika Sandiaga Uno bakal calon Wapres pasangan Prabowo Subianto bersilaturahmi ke Ibu Sinta Nuriah Gus Dur, diberi oleh-oleh tempe mendoan, tentu tidak “setipis kartu ATM”.

Tidak perlu diulas, dibahas apalagi digoreng-goreng, mengapa Ibu Sinta Nuriah “menghadiahi” Sandiaga Uno dengan tempe mendoan itu. Mungkin saja itu kebetulan ada atau memang di kawasan Ciganjur, tetangga Ibu Sinta Nuriah ada pengrajin tempe mendoan.

Hanya yang ingin kita ingatkan, agar para petinggi bangsa dan masyarakat kita ini hendaknya menggunakan hal-hal yang wajar dan sopan. Kalaulah ada ibu-ibu yang mengeluh memberikan kiasan, seharusnya para pembesar itu justru berkewajiban menjelaskan dan mencerdaskan, tidak justru sebaliknya. (Bch)