Manajemen rekayasa lalin di Jalan KH Noer Ali Kalimalang oleh Dishub Kota Bekasi. (ist)

Rekayasa Lalin di Jalan Kalimalang Kendaraan Macet Parah

BEKASI (IndependensI.com)- Sejak pemberlakuan rekayasa lalu lintas yang diberlakukan Dinas Perhubungan Kota Bekasi di ruas Jalan KH Noer Alie Kalimalang mulai simpang Galaxy hingga simpang Caman, berdampak  pada  kemacetan lalu lintas cukup parah.

Papantauan, Rabu (10/10/2018) siang,  kemacetan sudah terdeteksi di sekitar simpang Galaxy, baik dari arah Kamala Lagoon, Jakasampurna, juga perumahan Galaxy.
Sejak titik tersebut, kendaraan yang melintas harus menurunkan laju kecepatan dan merayap di antara ratusan kendaraan lain, baik sepeda motor maupun mobil, juga angkutan barang.

Rekayasa lalu lintas di jalan sisi Kalimalang tersebut diberlakukan Dishub Kota Bekasi sejak Sabtu (9/10/2018). Kebijakan rekayasa diambil untuk keperluan pemasangan konstruksi tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu tahap lanjutan.

Dengan diberlakukannya rekayasa tersebut, kendaraan dari arah Galaxy yang akan menuju Jakasampurna atau Bekasi Kota, diputar lebih jauh hingga ke simpang Caman. Di titik ini kendaraan baru bisa berputar menuju jalur sebelahnya.

Sebelum diberlakukannya rekayasa, kendaraan cukup memutar di jembatan enam. Namun untuk keperluan pemasangan konstruksi tersebut, jembatan ini terpaksa ditutup dari lalu lalang kendaraan demi alasan keselamatan pengguna jalan juga kelancaran pelaksanaan proyek.

Rekayasa juga diberlakukan untuk kendaraan dari arah Kranji atau asal jalur menuju Bekasi yang akan ke Jakarta. Sama-sama diputar juga, yakni di Simpang Galaxy.

Kedua rekayasa yang diberlakukan tersebut mengharuskan pengendara menempuh jarak tambahan sejauh 1,7 kilometer. Namun yang membuat jarak tersebut terasa sangat jauh ialah kondisi kemacetan yang terjadi. Tanpa diberlakukan rekayasa saja, kepadatan kendaraan di jalan sisi Kalimalang menjadi pemandangan rutin, utamanya di pagi hari, mulai dari simpang Galaxy hingga jembatan enam.

Namun dengan diberlakukannya rekayasa, kemacetan pun bertambah panjang, yakni hingga titik di bawah tol Jakarta Outer Ring Road. Situasi diperparah dengan kehadiran para pedagang kaki lima yang menjajakan aneka barang di badan jalan sisi Kalimalang.

Tak hanya itu, kemacetan yang biasanya terjadi pada pagi hari, kini berlangsung juga hingga siang bahkan sore hari. Perjalanan sejauh tiga  kilometer pun harus ditempuh selama 30 menit menggunakan sepeda motor.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Bekasi Johan Budi mengatakan, meskipun keperluan pemasangan konstruksi hanya butuh penutupan jembatan enam yang digunakan sebagai titik putar kendaraan dari arah timur menuju barat, tapi Dishub pun memberlakukan rekayasa untuk arah sebaliknya.

“Jika kendaraan dari barat ke timur tidak ikut diputar di simpang Galaxy, kemacetan yang terjadi di sekitar simpang Caman akan sangat parah,” katanya.

Johan menyadari tingginya volume kendaraan yang melintas di ruas jalan tersebut. Oleh karena itu Dishun meminta pelaksana proyek tol Becakayu hanya menutup jembatan enam selama tiga bulan. “Semula mereka minta 3,5 bulan, tapi hanya kami setujui tiga bulan,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, rekayasa lalu lintas di jalan tersebut terkait adanya pembangunan jalan tol layang Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) seksi 2a mulai Caman-Ujung Jalan Ahmad Yani Kota Bekasi.(jonder sihotang)