Agus Triono dan Uke mengapit Hari Bagus usai menerima Bendera PGA Indonesia yang diserahkan oleh Pimpinan Sidang, Zulharmen Tabusalla.

Tri Tunggal Yang Tidak Diragukan Kredibilitasnya

DEPOK (IndependensI.com) – Dibandingkan sebelumnya, Rapat Umum Anggota (RUA) V PGA Indonesia 2018 yang berlangsung di Sawangan, Depok pada Senin (26/11/2018), sangat berbeda.

Karena, sejak asosiasi golf profesional terbentuk pada 1976 sampai kepengurusan periode 2014-2018 berakhir, model kepemimpinan yang diterapkan adalah sistem presidensial dimana Ketua Umum menjadi pimpinan tertinggi dalam organisasi.

Berdasarkan pengalaman, model kepemimpinan presidensial, beban berat berada di pundak seorang Ketua Umum.

“Melalui RUA V PGA Indonesia 2018, kami ingin ada suatu perubahan,” kata Nano S Magfur, anggota Indonesia Club Manager Association (ICMA) yang saat ini menjadi GM Sawangan Golf Hotel & Resort, Sawangan, Depok, saat memaparkan kepemimpinan model presidium di hadapan peserta Rapat Umum Anggota V PGA Indonesia yang dihadiri 120 anggota yang berasal dari Jabodetek dan sekitarnya serta korwil (Kordinator Wilayah) yang berada di Jawa dan Sumatera.

“Jika seorang Ketua Umum sebagai pimpinan tertinggi mengandalkan kekuatannya sendiri yang sangat terbatas, yang akan menjadi korban adalah organisasi dan juga para pemiliknya. Hal ini sudah terbukti pada kurun waktu empat tahun terakhir,” tambahnya.

Lebih jauh Nano mengungkapkan bahwa pihaknya menginginkan ada suatu perubahan yang mendasar untuk menghadapi tantangan yang semakin berat di masa mendatang.

Dia menginginkan agar beban pimpinan dipikul bersama dengan mengubah bentuk kepemimpinan PGA Indonesia dari sistem presidensial  ke model presidium yang terdiri atas tiga orang yang berkedudukan sama. “Di dunia organisasi hal ini lazim dipergunakan,” katanya.

Nano, pro yang sangat berpengalaman di bidang manajemen tersebut menyadari bahwa terlepas dari kepentingan para peserta RUA, memang Anggaran Rumah Tangga PGA Indonesia Pasal 20 menyatakan bahwa RUA adalah pemegang kekuasaan tertinggi yang berwenang memilih dan  menetapkan Badan Pengurus Pusat melalui pembentukan formatur. Akan tetapi, model kepemimpinan Presidium PGA Indonesia lebih cocok, karena selama puluhan tahun tahun kita hidup di alam otoritarian.

“Ke depan model kepemimpinan presidium ini lebih efektif untuk menghadapi tantangan zaman seperti sekarang ini… Mengenai Pasal 20, siap untuk diajukan perubahan apabila presidium sudah terbentuk,” katanya.

Dalam pemaparan singkatnya sepanjang dua setengah halaman mengenai model kepemimpinan presidium di hadapan peserta Rapat Umum Anggota V PGA Indonesia 2018, Nano mengungkapkan bahwa di dalam rancangan tata tertib pemilihan Badan Pengurus Pusat PGA Indonesia 2018 – 2022 para peserta diarahkan untuk memilih presidium yang dilakukan secara musyawarah untuk mencapai mufakat.

Adapun proses pemilihannya dilakukan melalui tiga tahap yakni tahap pengusulan bakal calon presidium, tahap penetapan calon presidium dan tahap pemilihan presidium.

Nano menegaskan, calon presidium yang memperoleh suara terbanyak dengan urutan pertama sampai ketiga ditetapkan sebagai anggota presidium sekaligus sebagai anggota formatur. Sedangkan calon presidium yang memperoleh suara terbanyak ditetapkan sebagai ketua tim formatur.

Tapi, pada Rapat Umum Anggota V PGA Indonesia yang untuk pertama kalinya dalam sejarah pro di tanah air akan menggunakan model presidium dalam perjalanannya di kemudian hari, “Tidak pemilihan suara secara langsung dan atau voting, Mas,” tukas Nano saat independensi.com pada keesokan hari mengonfirmasi siapa yang memperoleh suara terbanyak dari tiga calon presidium.

“Presidium terpilih secara aklamasi. Forum menyetujui tiga nama untuk berada di dalam presidium. Mereka adalah Hari Bagus, Wahyu Hendarman dan Agus Triono,” tambah Nano lewat WA kepada IndependensI.com.

Rapat Umum Anggota V PGA Indonesia 2018 yang pimpinan sidangnya diketuai Zulharmen Tabusalla — seperti yang diharapkan oleh Nano S Magfur yang dalam RUA tahun ini duduk sebagai wakil Ketua Panitia — berlangsung dalam suasana yang sangat “sejuk”, sesejuk udara Sawangan, dan “damai” seperti burung-burung yang beterbangan ke sana ke mari dan hinggap di pohon-pohon rindang yang tumbuh subur di sepanjang tepi fairway Sawangan Golf Course…

Tapi, bagi sementara orang yang terbiasa menghadiri rapat umum anggota, yang dalam menjalankan roda organisasi menggunakan sistem presidensial, RUA PGA Indonesia tahun ini terkesan “antiklimaks”.

Ketika seorang wartawan menanyakan hal tersebut kepada Wahyu Hendarman — biasa disapa dengan sebutan Uke — cucu dari salah seorang bankir bernama Widarsadipradja, yang pada zaman Orde Baru pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Golf Profesional Indonesia (PGPI – kini PGA Indonesia), salah seorang dari tiga orang anggota presidium yang terpilih secara aklamasi itu berkata:

“Kalau dikatakan anti klimaks, menurut saya, tidak.” Sambil “mengumbar” senyum khasnya Uke menambahkan: “Begitulah faktanya… Yang jelas, dengan kepemimpinan yang merujuk pada sistem kolektif-kolegial, semua pihak ikut memiliki organisasi yang menjadi wadah profesi mereka. Dalam perjalanannya nanti, aspirasi mereka juga akan kita respon. Meskipun begitu nantinya mereka juga harus menghormati keputusan yang dibuat oleh presidium …”

Sementara, beberapa orang senior pro anggota PGA Indonesia yang diminta komentar mereka oleh IndependensI.com terkait dengan terpilihnya Hari Bagus, Wahyu Hendarman dan Agus Triono sebagai formatur menyatakan bahwa mereka sepakat secara aklamasi memilih mereka sebagai “Tri Tunggal” karena didasari oleh fakta bahwa kredibilitas mereka sebagai “Tri Tunggal”  dalam percaturan golf profesional di Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

“Tri Tunggal ini terpilih sebagai presidium dalam rangka reorganisasi di kepengurusan profesional golfer Indonesia 2018 – 2022. Semoga dengan model kepemimpinan presidium akan memacu lebih cepat prestasi golfer pro di Indonesia kini dan di masa mendatang menuju globalisasi,” kata Haji Ishak, salah seorang senior pro yang lebih intens menekuni profesinya sebagai Teaching Pro di Marinir Driving Cikandak, Jakarta Selatan. “Awakku percoyo karo yakin ambe’k Tri Tunggal kuwi, Cak,” kata Teaching Pro yang sangat fasih menulis dan berbicara menggunakan bahasa Inggris, mengakhiri obrolannya dengan bahasa Jawa logat Jawa Timur kepada IndependensI.com. (Toto Prawoto)

One comment

Comments are closed.