Hari Ibu: Just another Commodity

Loading

Oleh: Altobeli Lobodally

IndependensI.com – Hari ibu, tak ubahnya perayaan hari-hari lainnya. Industri masih tetap ‘mengintip’ menanti peluang bisnis.

Industri makanan misalnya. Hari ini mereka beramai-ramai memasarkan produk bertemakan ucapan terima kasih kepada ibu. Online shop sejak pagi mulai ramai membuka lapak siber mereka.

Altobeli Lobodally

Dunia siber memang penuh dengan lika-liku ‘kepalsuan’. Jika para pebisnis siap memasarkan produknya atas nama kasih ibu, lain lagi dengan para selebgram, youtuber dan para selebritis dunia siber lainnya.

Para selebritas dunia siber, sebagian besar asyik menunjukkan kisah pribadi dengan ibunya. Bagi ibundanya yang masih hidup, menyiapkan bingkisan, meminta maaf, bahkan hingga menyiapkan pesta kejutan, menjadi suguhan akun mereka.

Bagi para selebritas dunia siber yang telah ‘kehilangan’ ibunya, mereka juga tak kalah akal. Mereka memposting sejumlah foto kebersamaan bersama ibunya dahulu, dengan kata-kata yang syahdu, tentu saja dengan harapan mendapatkan likes, subscribes dan mendongkrak followers mereka. Sehingga akun mereka akan diverifikasi dan mendapatkan tambahan endorsement.

Tapi, ‘strategi’ mereka ternyata tak hanya itu. Bagi selebritas yang telah kehilangan ibunya, mereka juga mempersiapkan video mengunjungi makam ibunya. Tentu saja lengkap dengan sajian air mata, ucapan terima kasih, dan juga rasa rindu yang mendalam.

Perayaan hari apapun, kini tak ubahnya sebuah peluang bisnis bagi siapapun. Apa yang dilakukan selebritas di dunia siber, sebenarnya hanya melakukan re-package dan menggunakan medium lain saja. Media lama yang telah dianggap ketinggalan seperti televisi, sebenarnya juga telah melakukannya sejak lama.

Setiap acara dikemas sesuai dengan hari yang tengah diperingati. Jika hari ibu, tentu saja Ftv akan memutar tema-tema hari ibu, begitu juga dengan ajang pencarian bakat, atau sebuah konser musik. Lengkap dengan kisah klasik drama mengharu biru dari setiap lakon di dalamnya.

Apakah departemen pemberitaan, tidak ‘terseret’ ke dalamnya? Seperti biasa, segmen-segmen terakhir sebuah pemberitaan televisi sudah siap mengemas realitas dibalik hari ibu. Penjualan makanan dengan tema hari ibu, atau pernak-pernik lainnya. Atau jika saman sudah berubah, divisi pemberitaan justru menyajikan kisah di dunia siber mengenai hari ibu.

Membungkus sebuah hari peringatan sebagai sebuah komoditas, sebenarnya bukan barang baru, baik bagi sebuah industri maupun para lakon di dalamnya. Mereka menyadari keuntungan yang mengintip di baliknya.

Jika apa yang mereka lakukan untuk ibu mereka, adalah sebuah ketulusan akan cinta dan kasih mereka rasanya kita perlu memberikan apresiasi yang tinggi. Terlepas apresiasi kita akan membuahkan keuntungan. Namun, jika memang setiap konten yang disiapkan memang menuju kepada keuntungan, mungkin kita perlu bertanya. Sampai hatikah ‘menjual’ ibu kita sendiri?

Jadi, bersiaplah menerima banyak ucapan hari ibu di media siber di tangan anda. Karena hari ibu juga hanyalah sebuah komoditas lain, yang telah lama ‘dijual’ media. Apapun bentuk media-nya.

*Penulis adalah Pengajar Komunikasi Kalbis Institute