Mission Accomplished: Dekat dengan Rakyat di KRL, Jokowi Aman

JAKARTA (IndependensI.com) – Sampai saat ini masih ada yang geleng-geleng kepala dan tak habis pikir atas keberanian Jokowi pulang kerja dari Jakarta ke Bogor dengan menggunakan CommuterLine pada Rabu, 5 September 2019.

Hari itu, agenda kerja Jokowi amat padat.

Pagi hari di Istana Negara, menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional, Jokowi bersilaturahmi dengan Perempuan Arus Bawah yang mengusung tema ‘Bersama Memperkuat Bangsa’.

Pukul 10.30, Jokowi memimpin Sidang Kabinet Paripurna

membahas Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2020, serta Kebijakan Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal Tahun Anggaran 2020. Di sini Jokowi menekankan, meski tahun ini adalah tahun politik, perencanaan untuk tahun depan tetap harus digarap serius.

Pukul dua siang, Jokowi sudah ada di Sekolah Luar Biasa Negeri Lebak Bulus. Kali ini agendanya menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada ribuan anak didik.

Jam empat sore, masih di Jakarta Selatan, Jokowi bergeser ke GOR Bulungan, Blok M. Acaranya, sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Dari sinilah kejutan itu terjadi.

Jokowi memilih pulang ke Bogor dengan meninggalkan fasilitas mobil ‘Indonesia 1’-nya. Hanya ditemani Komandan Pasukan Pengawal Presiden Mayjen Maruli Simanjuntak, Jokowi naik KRL Commuterline Jakarta-Bogor. Padahal, di jam sore petang hari seperti itu, merupakan ‘peak hours’ nya KRL. Bisa dipastikan mereka yang naik dari stasiun-stasiun di tengah rute perjalanan Jakarta-Bogor tak akan kebagian tempat duduk.

Jokowi naik dari Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Juga tak tampak pengawalan mencolok di sana. Seorang bapak menyalami Jokowi saat hendak memasuki mesin tapping tiket KRL. Pun demikian di ruang tunggu saat menanti KRL datang.

Suasana lebih ‘tegang’ tentu saat berada di dalam KRL. Bisa kita bayangkan betapa stresnya Danpaspampres menyaksikan penuh sesaknya orang dari berbagai latar belakang itu. Mungkin pikir Maruli, “Bagaimana caranya mensterilkan KRL ini ya…”

Sebagai salah satu perwira terbaik TNI Angkatan Darat yang kencang pengalaman di Kopassus, mata awas Maruli terus ‘mengamankan’ bosnya.

Jika hal ini terjadi di film-film Hollywood, pada saat yang bersamaan akan datang helikopter Air Force One langsung melintas di atas kereta yang ditumpangi presiden. Semua kemungkinan masalah disisir dan dibersigkan. Semua resiko evakuasi disiapkan.

Kita percaya, Paspampres melakukan itu. Meski secara tertutup. Meski rencana Jokowi terbilang super dadakan. Buktinya, Jokowi aman selamat hingga petang hari di Stasiun Bogor. Para petugas PT Kereta Api Indonesia dari Tanjung Barat hingga stasiun akhir Bogor pun bernafas lega. Sementara Jokowi sendiri? Tersenyum, tertawa, dan asyik bergelantungan berpepetan dengan para penumpang KRL Commuterline.

Sesingkat apapun rencana itu keluar, pasti Paspampres sudah melakukan ‘mission planning’. Assesement akan potensi bahaya (safety and security) yang bisa terjadi, dan spektrumnya pun dideteksi. Bisa dari serangan teror sampai pada pencopetan, maupun dehidrasi karena kepanasan. Di samping itu, Paspampres sudah pasti telah melihat trend keamanan jalur KRL tersebut, misalnya, kapan terakhir kali terjadi kecelakaan kereta, di jalur mana, dan seberapa sering.

Paspampres kita prajuritnya terdiri dari orang-orang pilihan dari pasukan Kopassus, Raider, Kostrad, Marinir, Yontaifib, Denjaka, Kopaska, Kopaskhas dan Den Bravo 90. Anggotanya dipastikan terbaik baik dari mental, fisik, inteligensi, dan lain-lain.

Paspampres punya tim bernama Detasemen Penyelamatan (Denmatan), tak kalah dengan US Secret Service punya Counter Assault Team (CAT) dan US Diplomatic Security punya Quick Reaction Force (QRF).

Dalam kondisi ini, di mana posisi Denmatan? Tentu ini jadi rahasia Paspampres, tapi ‘kemungkinan’ mereka diposisikan di ‘choking points’, misalnya di stasiun-stasiun sepanjang jalur Jakarta – Bogor, dan di akses penyeberangan di mana kereta tersebut melintas. Bisa juga mereka ditempatkan di gerbong masinis. Tentunya secara covert alias berpakaian preman.

Bak film-film Amerika tadi, Denmatan Paspampres juga siap dengan helikopter untuk antisipasi apabila diperlukan evakuasi lewat udara.

Posisi Jokowi yang berada tepat di samping pintu kereta juga bukan sebuah kebetulan, karena ini adalah posisi paling gampang untuk evakuasi saat dibutuhkan. Demikian pula posisi Danpaspampres yang tidak berada tepat di belakang Jokowi, tapi berhadap-hadapan, sehingga bisa punya observation view yang lebih luas.

Intinya, misi itu sukses. Jokowi, sang pemimpin negeri ini, kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dan calon presiden pada Pilpres 2019, aman sampai tujuan di tengah desakan massa anker alias ‘anak kereta’.

Jokowi berkali-kali menunjukkan diri, bahwa ‘energi terbaik’ bagi dirinya adalah dekat dengan rakyat. Saat ‘overload’ dengan rapat dan permasalahan politik pelik, baginya obat terbaik adalah berbaur dengan masyarakat kecil. Dalam kunjungan ke pasar, bersalaman dengan warga, dan juga naik angkutan umum seperti KRL, Jokowi menemukan semangat baru. Seperti baterei ponsel yang menjadi penuh kembali setelah ‘dicharge’ dengan bertemu rakyat kebanyakan.

Dan yang paling penting, mission accomplished. Jokowi jadi segar, rakyat merasa dekat dengan pemimpinnya, serta clear, semua safe and secure!