Berkat tangan dingin Pande Putu Yasa, Perum PPD yang nyaris di likuidasi, kini kembali menjadi raja jalanan di Ibukota

Dahsyat! Kini Perum PPD Bisa Menuai Laba Rp 18,5 Miliar

JAKARTA (Independensi.com) – Perum PPD pada tahun 2018 mengantongi lama Rp 18,52 miliar. Laba ini meningkat sekitar 550% dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 3,38 miliar.

Ini merupakan laba tertinggi yang pernah diterima PPD, setelah berpuluh-puluh tahun dirundung karugian bahkan pernah terancam dibubarkan.

Tahun 2013 menjadi tonggak penting dan sekaligus titik balik dari rugi miliaran rupiah menjadi meraih untung, meski hanya Rp158 juta. Namun tahun berikutnya, gahun 2014 meraih Rp280 juta, tahun 2015 Rp2,19 miliar, tahun 2016 Rp9,74 miliar, tahun 2017 Rp3,38 miliar dan tahun 2018 Rp18.52 miliar.

Keuntungan yang diraih PPD dan wajah bus PPD yang saat ini kinclong seakan tidak percaya atau sedang bermimpi. Karena perusahaan yang begitu terpuruk dan bahkan sudah dianggap bangkrut, ternyata dapat bangkit dan bahkan kembali berjaya menguasai jalanan di Ibukota.

Tahun 1990-an dan 2000-an, wajah PPD selalu saja kental dengan citra sebagai perusahaan merugi besar, pelayanan buruk dan sering diwarnai demo pegawai.

Persoalan yang membelit BUMN itu terbilang kompleks, dari masalah SDM, gaji rendah, kebocoran keuangan, kondisi armada, inefesiensi, hingga utang menumpuk. Perusahaan ini pun kedodoran membayar gaji 11.000 pegawai dan uang pensiun.

Untuk menutupi pembayaran utang, gaji dan pensiun, Perum PPD dipaksa menjual asset. Walhasil, sejumlah lahan depo dilepas. Antara lain lahan kantor pusat di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat yang dibeli PT Angkasa Pura II.

Kantor pusat PPD lalu pindah ke depo di pertigaan Halim Perdanakusuma. Belum lama dibangun dan ditempati, tempat ityu kembali dijual. Kali ini ke grup Blue Bird. Kantor pusat kembali dpindahman ke Depo Cawang.

Setelah rencana merger dengan Perum Damri batal, rencana likuidasi pun mulai menggema. Adalah Pande Putu Yasa yang memimpin PPD mulai tahun 2012 diberi amanat untuk melikuidasi.

Pria, yang sepanjang hidupnya berkarir di Perum PPD, tersebut tampaknya mengalami konflik batin mendapatkan tugas itu. “Saya ditugaskan memproses penutupan Perum PPD, dan menjual asset untuk menutupi biaya sebagai efek dari likuidasi,” cerita Putu yang kini dipercaya sebagai Dirut Perum.PPD.

Batinnya tak bisa menerima. Perusahaan tempatnya mengabdi selama ini harus ditutup
Apalagi Ia yang ditugaskan memprosesnya.

“Belum lagi saya harus menjual asset, yang bukan tidak mungkin membuka peluang bagi saya terseret kepada persoalan hukum,” Pande Putu Yasa

Tekad untuk menyelamatkan Perum PPD ditranformasi oleh Putu Yasa dengan menggelar sejumlah agenda perbaikan terbilang radikal. Dia mengobarkan semangat pegawai untuk menyelamatkan perusahaan tempat mereka mencari nafkah dan menghidupi keluarga.

Tidak sedikit dari mereka yang pesimistis PPD dapat diselamatkan karena kondisinya sudah teramat parah. “Namun saya yakinkan mereka bahwa kita harus bisa menbangun lagi PPD. Perbaikan dengan kesisteman, terukur, sistematis dan terkontrol dengan baik harus diyakni dapat menyelamatkan PPD,” cetusnya.

Perbaikan PPD digenjot Putu juga melalui komunikasi intensif dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan. Meyakinkan bahwa PPD masih dapat diselamatkan. “Ternyata kami mendapatkan dukungan luar biasa dari Kementerian BUMN dan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.

Perum PPD kembali menggeliat, bahkan meraih posisi lagi sebagai ‘Raja Jalanan.’ Dari jarang terlihat di jalanan Jakarta, kini berseliweran di kawasan Jabodetabek.

Dalam operasional bus ini, PPD dibantu oleh Dirjen Perhubungan Darat dan Badan Pengelola Transportasi Janodetabek (BPTJ). “Dengan 1.000 bus saat ini, kami tak hanya mengoperasikan bus Transjakarta, tetapi juga JR Connexion dan JA Connexion, yang melayani publik dari permukiman dan pusat perbelanjaan ke lokasi lain, termasuk Bandara Soekarno-Hatta,” jelasnya.

Dari sekitar 1.000 bus, dia mengungkapkan sebanyak 495 armada melayani 34 rute Transbusway melalui konyrak dengan PT Transjakarta.

Perum PPD juga mengoperasikan bus Transjakarta Premium. Ekspansi hingga ke Karawang. Dalam ekspansi bisnis ini PPD bekerja sama dengan sejumlah pengembang, termasuk Adhi Karya dan Podomoro Group.

Sekarang PPD memiliki 1.000 bus dengan jumlah pegawai sekitar 400 orang.