Langkah Strategis Kementan Dalam Menghadapi Liberalisasi Perdagangan

JAKARTA (IndependensI.com)  – Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian (Kementan), Ade Candradijaya menyatakan bahwa liberalisasi perdagangan global masih menjadi ancaman serius bagi pengembangan sektor perunggasan nasional di Indonesia.

“Permasalahan mendasarnya adalah rendahnya daya saing. Karenanya harus segera diperbaiki,” kata Ade dalam Focus Group Diskusi yang digelar di Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta (2/9).

Karena itu, Ade melaanjutkan, peningkatan efisiensi produksi dan perbaikan kualitas produk pertanian merupakan faktor kunci dalam meningkatkan daya saing menghadapi liberalisasi perdagangan global

“Kuncinya memang disitu, dan harus benar-benar kita jalankan,” katanya.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Banun Harpini, menjelaskan bahwa daya saing industri perunggasan nasional sangat berkaitan dengan ketersediaan pakan yang masih impor.

“Disinilah diperlukan kebijakan dan program terobosan yang tepat agar dapat memberikan insentif dalam meningkatkan daya saing produksi pakan,” katanya.

Sementara itu, Pakar Perdagangan Internasional IPB, Prof. Firdaus menyampaikan pentingnya kelayakan Usaha dan Daya Saing Perunggasan Indonesia. Apalagi kehadiran WTO dan liberalisasi perdagangan akan semakin membuka geliat pasar global.

“Masuknya kompetitor asing ke dalam pasar dalam negeri membuat peningkatan daya saing perunggasan nasional menjadi penting. Sayangnya, keunggulan daya saing industri perunggasan Indonesia dari waktu ke waktu secara berlahan mengalami penurunan,” katanya.

Menurut dia, penurunan ini terlihat dari nilai Domestic Resource Cost (DRC) yang mendekati satu pada tahun 2018 yaitu sekitar 0.95 atau menurun dari nilai 0.85 pada tahun 2001.

“Rendahnya daya saing komoditas peternakan ini disebabkan karena tingginya biaya produksi dan biaya pakan,” katanya.

Peneliti Balai Penelitian Ternak dari Badan Litbang Pertanian yang juga menjabat anggota Dewan Pakan Indonesia, Prof Arnold Sinurat menekankan pentingnya ketersediaan pakan pada Industri Perunggasan Indonesia.

Sebab, Kata dia, hal ini berkaitan langsung dengan tingginya proporsi biaya pakan yang mencapai 69 persen hingga 80 persen dari total biaya produksi yang ada.

“Alasanya sederhana, yakni karena sebagian besar bahan baku pakan masih diimpor. Oleh karena itu, saya menyarankan agar memilih alternatif bahan pakan yang dapat diolah dari sumber daya lokal, misalnya dari kelapa sawit,” katanya.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli, penggunaan bungkil inti sawit (BIS) pada ayam broiler dapat menurunkan biaya pakan dari Rp.6121 kilogram  menjadi Rp.5887 kilogram. Selain BIS, solid sawit dan inti sawit juga berpotensi untuk dijadikan bahan pakan lokal.

Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian Prof. Ismeth Inounu menambahkan bahwa dalam upaya meningkatkan daya saing ini, semua pihak harus mewujudkan harmonisasi kebijakan yang bersifat lintas kementerian serta mendukung lingkungan investasi yang kondusif.

“Makanya perlu integrated farming system dalam sektor perunggasan di Indonesia. Kemudian meningkatan riset dan inovasi bahan pakan lokal khususnya sawit sebagai bahan pakan unggas alternatif,” tukasnya.