Heryus, Maza, Wita, Renny, dan Hilda bersama-sama membaca naskah Ayahku Pulang karya Usmar Ismail.

Kerinduan Sekaligus Ingin Berbagi

JAKARTA (IndependensI.com) – Sejak Oktober lalu para senior aktivis seni Bulungan bersilaturahmi di kediaman Renny Djajoesman di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kumpul-kumpul yang dilaksanakan setiap Senin tersebut tak hanya untuk saling melepas kerinduan, melakoni proses kehidupan melalui jalur kesenian

Betul bahwa mereka tidak menafikan perkembangan teknologi yang berkembang pesat seperti saat ini di mana mereka bisa saling menyapa dan bertukar informasinya setiap saat, kapan saja dan di mana saja. Namun, tetap saja merasa masih ada yang “kurang” kalau tidak bertemu langsung, face to face.

Oleh karena itulah maka – untuk sementara – disepakati bahwa copy darat (kalau boleh menggunakan istilah yang digunakan oleh rekan-rekan dari ORARI) dilaksanakan setiap Senin. Dan, seorang lady rocker sekaligus aktris teater yang juga seorang pembaca puisi sekaligus pembaca cerpen handal bernama Renny Djajoesman, sangat welcome tempat tinggalnya dijadikan tempat berkumpul rekan-rekan sesama aktivis seni Bulungan.

Copy Darat

Awalnya memang ada yang usul agar pertemuan tersebut dilaksanakan di Gelanggang Bulungan. Namun, karena situasi dan kondisinya kurang mendukung, akhirnya disepakati bahwa pertemuan dilaksanakan di rumah Renny yang, penampilannya saat ini – seperti kata pepatah – “jauh panggang dari api” itu. Dan, ada satu hal yang tidak atau belum berubah sejak dulu sampai sekarang dari Renny Djajoesman yakni humor dan tawanya: ngecablak, lepas, ngakak.

Para aktivis seni Bulungan yang rata-rata saat ini telah berusia 50 tahun ke atas tersebut, satu pun belum ada yang pensiun. Karena seniman memang tidak mengenal masa pensiun.

Dengan keahlian yang mereka kuasai, mereka tetap eksis sebagai jurnalis, penulis, pelukis dan pemain teater. Sehingga menjadi sesuatu yang sangat wajar apabila dari pertemuan yang awalnya sekadar “copy darat” untuk melepas kerinduan tersebut, muncul gagasan ingin berbagi terhadap sesama di bawah “payung” bernama Bulungan Bangkit.

Sebagai langkah awal mereka akan memproduksi pertunjukan teater. Rencananya pertunjukan yang mereka produksi selain akan dipentaskan di Jakarta juga akan dipentaskan di beberapa kota di Jawa. Bahkan pertunjukan teater tersebut akan dipentaskan di lembaga-lembaga dan atau yayasan yang bergerak di dunia pendidikan.

Peduli Kegiatan Seni Budaya

Sebelum produksi dimulai mereka juga akan mengirimkan proposal ke beberapa sponsorship yang memiliki kepedulian terhadap kegiana seni dan budaya di republik ini. Tak hanya dikirim lewat email atau pos, mereka pun akan mendatangi langsung pihak-pihak yang mereka kenal, baik itu yang berada di lingkungan pemerintahan maupun yang berada di lingkungan swasta.

Produksi pertunjukan teater yang akan mereka garap lebih bersifat “pengenalan” tentang bagaimana cara bermain teater yang baik dan benar. Sudah pasti bahwa mereka pun tidak akan kembali seperti dulu ketika mereka tampil di panggung dengan memainkan naskah-naskah surealis dan absur yang durasinya antara 120 sampai 180 menit.

Oleh karena itulah maka pertunjukan teater yang akan mereka produksi pun lebih menekankan pada nilai-nilai edukasi. Dan, setelah melalui proses diskusi yang lumayan hangat, akhirnya mereka sepakat memilih naskah realis yang “ringan tapi berbobot” dengan durasi paling lama 60 menit karya H Usmar Ismail berjudul Ayahku Pulang.

Diam di Tempat

“Kalau ngikutin omongan orang bisa jadi kita malah diam di tempat dan tidak akan berbuat apa-apa. Sampai kapan pun,” kata Uki BS – “sesepuh” aktivis seni Bulungan ketika IndependensI.com menanyakan mengapa yang diplih naskah berjudul Ayahku Pulang.

Lebih jauh Mas Uki – sapaan akrabnya – mengatakan:“Sorry, Boss. Hari gini kalo masih ada yang menganggap naskah berjudul Ayahku Pulang adalah naskah ecek-ecek… Yang beranggapan seperti itu patut dipertanyakan kredibilitas dan proses kreatifnya sebagai orang teater… Ingat, Bro, memainkan naskah realis itu jauh lebih sulit daripada memainkan naskah surealis dan absurd.”

Untuk membuktikan kebenaran ucapannya, Mas Uki menegaskan: “Lihatlah di Hollywood, pertunjukan teater beraliran realis di sana masih disukai oleh banyak penonton baik lokal maupun turis dari manca negara. Dan, dari panggung-panggung pertunjukan teater realis yang ada di Hollywood, lahir bintang-bintang film ternama yang terkenal ke seluruh dunia.”

Senin pekan lalu proses pembacaan naskah Ayahku Pulang sudah dimulai. Yang hadir saat itu antara lain Maza Yudha (Jurnalis-Cerpenis), Wita Yudharwita (Aktris Panggung-Karyawati Bank Swasta Ternama), Hilda Sabri Sulistyo (Aktris Panggung-Jurnalis), Renny Djajoesman, dan H Heryus Saputro (Teatrawan-Jurnalis-Penyair).

“Tolong dicatat. Saat ini baru reading,” kata Mas Uki, mengingatkan.

Yo, yo, yo!

(LIKE WUWUS)