Pengungsi Timur Tengah

Vatikan Bahas Pengungsi Timur Tengah di Italia

VATIKAN (Independensi.com) – Kepala Negara Vatikan, Paus Fransiskus, membahas masalah pengungsi yang berimplikasi berkurangnya jumlah umat Kristen di Timur Tengah, sebagai dampak perang berkepanjangan oleh munculnya apa yang disebut Negara Islam dan bentuk-bentuk terkait ekstrimisme jihadis.

Media resmi Negara Vatikan, https://www.vaticannews.va/, Kamis, 20 Februari 2020, melaporkan, Paus membahas hal dimaksud, dalam kunjungan puncak di Kota Bari, Italia, Minggu, 22 Februari 2020.

Vatican merasa terpanggil membahas masalah kemanusiaan yang terjadi Timur

Tengah, agar bersama negara lain, segera ditempuh langkah konkret penyelesaiannya.

Menurut Vaticannews.va, di Bari, Paus Franciskus berpidato di pertemuan itu dan menerima dokumen terakhir.

Migrasi dan penganiayaan terhadap orang Kristen di sejumlah negara di Timur Tengah, dibahas dalam kunjungan kerja Paus Fransiskus di Bari, Italia.

Migrasi menjadi pusat perhatian mengingat jumlah orang yang mencoba memasuki Eropa baik dari Turki atau dari Afrika Utara. Banyak dari mereka diperdagangkan, dieksploitasi dan terperangkap dalam celah-celah kebijakan yang tidak memadai untuk pendaftaran, penerimaan, dan integrasi.

Bari merupakan kota yang terletak di sebelah tenggara Italia. Bari berperan sebagai Ibu Kota Provinsi Bari sekaligus Region Puglia di dekat Laut Adriatik. Bari adalah pusat ekonomi terpenting kedua di daratan utama Italia Selatan setelah Napoli, dan terkenal sebagai kota pelabuhan dan kota universitas, juga sebagai kota Santo Nicolas.

Kota Bari, mengalami pengurangan populasi sebanyak 320.000 jiwa, pada 2009, seluas 116 kilometer persegi, sedangkan kawasan perkotaan yang tumbuh cepat terhitung terdapat 653.028 jiwa seluas 203 kilometer persegi. Sisanya, 500.000 orang menetap di kawasan metropolitan.

Bari terdiri dari empat sektor perkotaan. Di utara adalah kota tua di semenanjung di antara dua pelabuhan modern, dengan Basilika Santo Nicolas yang megah, Katedral San Sabino (1035–1171), dan Kastil Swabia yang dibangun untuk Frederik II, yang kini juga menjadi distrik kehidupan malam utama.

Di selatan adalah kuarter Murat (dibangun oleh Joachim Murat), jantung modern kota ini, yang dirancang pada perencanaan segi empat dengan jalan-jalan lebar di tepi laut dan distrik perbelanjaan utama (via Sparano dan via Argiro).

Zona permukiman modern mengelilingi pusat kota Bari, hasil dari pembangunan yang kacau-balau pada dasawarsa 1960-an dan 1970-an menggantikan pinggiran kota tua yang telah dibangun di sepanjang jalan along yang melebar dari gerbang-gerbang di benteng-benteng kota.

Dan lagi, pinggiran kota yang lebih luar dibangun secara cepat pada dasawarsa 1990-an. Kota Bari telah memugar bandar udara yang dinamai sama dengan Paus Yohanes Paulus II, Bandar Udara Karol Wojtyla, dengan koneksi ke beberapa kota di Eropa.

Selama kunjungannya ke kota pantai Bari, Paus Franciskus, berpartisipasi dalam sebuah konferensi dengan para uskup dari negara-negara Mediterania dan merayakan Misa di depan Basilika Santo Nikolas.

Ini akan menjadi kunjungan keduanya ke kota itu setelah yang terjadi pada Juli 2018 di mana ia berdoa untuk perdamaian di Timur Tengah, bersama dengan Patriarkh Ekumenis Bartholomew I.

Acara yang diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Italia, the Italian Bishops’ Conferenc (CEI), fokus pada masalah yang dihadapi wilayah ini.

Presiden CEI, Kardinal Gualtiero Bassetti, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung dalam gaya “sinode”, dengan perumusan proposal bersama untuk dokumen akhir.

Paus melakukan perjalanan ke Bari untuk bertemu para Uskup Mediterania

Paus Fransiskus, mengatakan tujuannya adalah untuk menyoroti Mediterania sebagai pertemuan peradaban, tempat di mana agama Kristen berkembang dan “oleh karena itu, sebuah perbatasan perdamaian.”

Berasal dari Afrika Utara, Eropa dan Timur Tengah, para peserta mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan migrasi, evangelisasi kaum muda, pengangguran, pertukaran budaya dan penciptaan perdamaian.

Konferensi 5 hari

Pekerjaan dimulai pada hari Rabu sore, 19 Agustus 2020, ketika para peserta berkumpul untuk pembukaan konferensi.

Dalam kunjungan kerja yang sudah dimulai sejak Rabu, 19 Februari 2020, di Bari, Paus, turut membahas topik: “Menyampaikan Iman kepada Generasi Mendatang” dan tema hari Jumat adalah “Hubungan Antara Gereja dan Masyarakat: Mobilitas, Kewarganegaraan, Kebebasan Beragama, Ketidakadilan Agama”.

Pada hari Sabtu, 22 Februari 2020, sebuah pertemuan diadakan untuk kesimpulan umum yang akan diringkas ke dalam dokumen akhir, diikuti oleh acara publik di Teater Petruzzelli di Bari yang berjudul “In the Same Boat”. (Aju)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *