Tjilik Riwut, tokoh Suku Dayak lahir: 2 Februari 1918 di Kasongan dan meninggal dunia di Banjarmasin 17 Agustus 1987. Pernah menjadi Gubernur Kalimantan Tengah tahun 1958 - 1967 dan mendapat anugerah penghargaan sebagai Pahlawan Nasional.

Orang Dayak, Belajarlah dari Karakter Tjilik Riwut

PONTIANAK (Independepensi.com) – Karakter dan jatidiri manusia Dayak, contohlah dan belajarlah dari pribadi Tjilik Riwut.

Tjilik Riwut (lahir: 2 Februari 1918 di Kasongan, dan meninggal dunia: 17 Agustus 1987, di Banjarmasin), Gubernur Kalimantan Tengah, 1958 – 1967 dan Pahlawan Nasional.

Tjilik Riwut mengingatkan orang Dayak sebagai pribadi manusia Suku Dayak di Benua Asia yang menganut trilogi peradaban kebudayaan, yaitu hormat dan patuh kepada leluhur, hormat dan patuh kepada orangtua, serta hormat dan patuh kepada negara.

Trilogi peradaban kebudayaan masyarakat di Benua Asia dimaksud, menurut Tjilik Riwut, membentuk karakter dan jatidiri manusia Suku Dayak beradat (berdamai dan serasi dengan leluhur, berdamai dan serasi dengan alam semesta, berdamai dan serasi dengan sesama, serta berdamai dan serasi dengan negara).

Pembentuk karakter dan jatidiri manusia Dayak beradat, kata Tjilik Riwut, lahir dari sistem religi atau sumber doktrin atau berurat berakar dari legenda suci Dayak, mitos suci Dayak, adat istiadat Dayak dan hukum adat Dayak, dengan menempatkan hutan (terutama situs pemukiman dan situs pemujaan) sebagai sumber dan simbol peradaban).

Tjilik Riwut, figur yang pertama kali memperkenalkan Agama Kaharingan ketika menjadi Residen Sampit (Kalimantan Tengah) tahun 1942 yang bersumber doktrin dari legenda suci Dayak Uud Danum, mitos suci Dayak Uud Danum, adat istiadat Dayak Uud Danum dan hukum adat Dayak Uud Danum.

Bagi Tjilik Riwut, Agama Kaharingan sebagai filosofi etika berperilaku bagi setiap orang Dayak Uud Danum, sementara Agama Katolik yang dianut sebagai sumber keyakinan iman bagi Tjilik Riwut.

Antara sumber keyakinan iman (Agama Katolik) dan sistem religi Dayak Uud Danum, bagi Tjilik Riwut, mesti dimaknai di dalam konteks yang berbeda, agar terlepas dari tudingan mencampur-adukkan ajaran agama.

Karena Tjilik Riwut berpendapat, seorang Dayak Uud Danum yang sudah memeluk Agama Katolik sebagai sumber keyakinan iman, misalnya, tidak semerta-merta berubah menjadi Suku Yahudi, hanya lantaran Agama Katolik bersumber doktrin dari legenda suci Suku Yahudi, mitos suci Suku Yahudi, adat istiadat Suku Yahudi dan hukum adat Suku Yahudi.

Sementara status Dayak Uud Danum bagi seorang Dayak Uud Danum, melekat di dalam dirinya sampai akhir hayat, serta di batu nisan pun tetap berstatus Dayak Uud Danum.

Menurut Tjilik Riwut, karakter dan jatidiri sebuah suku bangsa di manapun di dunia, termasuk Dayak Uud Danum, selalu bersumber dari sistem religi dari suku bangsa yang bersangkutan. (Aju)