Riset Bersama IDI-Kementan, Tonggak Kemandirian Dengan Memanfaatkan Potensi Alam

JAKARTA (Independensi.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Daeng M Faqih menyampaikan dukungannya terhadap penelitian dan pengembangan tanaman Eucalyptus yang telah dilakukan oleh para peneliti Kementerian Pertanian (Kementan).

“Kawan-kawan peneliti dari Kementerian Pertanian sudah melakukan penelitian awal, dan hasilnya menunjukan baik. Kalau mau dipakai untuk pengobatan untuk manusia dari hasil penelitiannya harus dilanjutkan. Ini yang dikerjasamakan, kita akan support” demikian ungkap Daeng di sela-sela Penandatangan Nota Kesepahaman antara Badan Litbang Pertanian dengan Ikatan Dokter Indonesia yang dlakukan di auditorium gedung D, kantor pusat Kementerian Pertanian, Rabu (08/09)

Lebih lanjut Daeng menegaskan, kerjasama yang dilakukan merupakan awal kebangkitan kemandirian dengan penggalian potensi alam yang dimiliki bangsa Indonesia, mengingat bahan obat dan yang digunakan oleh masyarakat saat ini mayoritas masih berasal dari impor, sehingga apabila dapat diproduksi sendiri akan lebih baik.

“Ini murni berangkat dari kekayaan alam Indonesia, ini yang strategis, ini yang perlu didorong untuk menjawab kemandirian kita, dan IDI menganggap itu penting. Tonggak awal komitmen dan kemampuan, supaya kemandirian industri kesehatan tergerak, kita nggak masalah munculnya dari mana. Kebetulan munculnya dari Kementerian Pertanian” jelas Daeng.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyampaikan bahwa pihaknya melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), telah melakukan penelitian dan pengembangan awal untuk melahirkan varian dari produk eucalyptus sebagai  jawaban terhadap kondisi bergelutnya masyarakat dengan wabah Covid-19.

“Litbang kami ini di dalamnya punya laboratorium untuk meneliti, lalu ada tanamannya, dan penelitinya juga ada. Kalau tidak bergerak potensi ini akan percuma. Protokol kesehatan tetap dipakai, dan ini ada pencegahan virusnya, kita perlu uji lanjutan bersama IDI” terang Mentan.

Penandatangan Nota Kesepahaman antara Badan Litbang Pertanian dengan Ikatan Dokter Indonesia yang dilakukan ini merupakan sinergitas lintas sektoral mendukung konsep One-Health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan bagi masyarakat.

“Kerjasama antara Kementan dan Ikatan Dokter Indonesia kali ini dilakukan, harapannya terdapat tahapan riset lanjutan yang dilakukan secara bersinergi sesuai dengan kompetensinya” tambah Mentan.

Pada kesempatan yang sama, Sekertaris Badan Litbang Pertanian, Haris Sihabudin memberikan penjelasan terjadap varian produk eucalyptus yang telah dikembangkan oleh Balitbangtan.

“Ada empat varian produk yang telah didaftarkan sebagai paten di Kemenhukum HAM, Formula Aromatik Antivirus, Inhaler, Serbuk, dan minyak atsiri eucalyptus.” Papar Haris.

Sebagai informasi, Formula Aromatik Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003578, Ramuan Inhaler Antivirus Berbasis Eucalyptus dan Proses Pembuatannya dengan nomor pendaftaran paten P00202003574, Ramuan Serbuk Nanoenkapsulat Antivirus Berbasis Eucalyptus dengan nomor pendaftaran paten P00202003580, dan Minyak atsiri eucalyptus citridora sebagai antivirus terhadap virus avian influenza subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.(wst)