Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar. (Istimewa)

Penyintas Kanker Optimistis di Masa Pandemi Covid-19

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) tahun ini menyelenggarakan Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang keempat secara virtual. Walaupun acara ini dilakukan secara virtual tetapi animo para penyitas kanker payudara yang ingin hadir cukup banyak.

Sedikitnya 500 peserta dari berbagai daerah seluruh Indonesia dan mengambil tema “Tetap Optimis Dalam Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19. Kamu Bisa, Kita Bisa” pada Sabtu (24/10/2020). Acara ini diselenggarakan di bulan Oktober dalam rangka memperingati bulan peduli kanker payudara internasional, yang setiap tahun diperingati di seluruh dunia untuk kepeduliannya terhadap penyakit kanker payudara.

Tema ini  dipilih disesuaikan dengan masalah yang sedang melanda di Tanah Air dan juga seluruh dunia yaitu adanya pandemi Covid-19 dan sesuai dengan anjuran pemerintah untuk tetap optimis menyikapinya dalam adaptasi kebiasaan baru. “Hal ini dirasakan perlu untuk memotivasi para penyitas untuk tetap melakukan pengobatan di masa sulit karena pandemi Covid-19 dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan,” ujar pendiri sekaligus Ketua YKPI Linda Agum Gumelar melalui rilisnya.

Dengan dilakukannya kegiatan ini secara virtual semoga tidak mengurangi semangat para penyitas (survivor) kanker payudara se-Indonesia yang sudah lama tidak saling menyapa dan kebersamaan untuk menjadi ajang melepas saling rindu .

Linda yang juga survivor kanker payudara menambahkan, kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. Menurutnya jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal maka kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup  yang lebih lama adalah sekitar 98 %.

Tak sedikit penyintas yang menyesal karena tidak melakukan deteksi dini dan mendapatkan kanker sudah menyerang bagian tubuh. Angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosa kanker adalah yang paling tinggi (sekitar 30,9 %). “Angka kematian karena kanker payudara juga cukup tinggi di Indonesia. Hal ini terjadi karena pasien pada umumnya datang memeriksakan diri ke dokter hampir 70 % sudah dalam stadium lanjut, imbuh Linda.

Screenshot para penyitas kanker payudara. (Istimewa)

Selanjutnya mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini menegaskan,  pentingnya deteksi dini kanker payudara melalui SADARI dan SADANIS. Saat ini diperkirakan dalam 9 menit ditemukan satu orang terkena kanker payudara, kalau dalam 1 jam sekitar 6 orang terdeteksi terkena kanker payudara.

Lebih lanjut Linda menjelaskan bahwa selama pandemi covid-19, YKPI tetap melaksanakan berbagai kegiatan secara virtual dari bulan Juni sampai dengan Oktober telah melakukan 10 kali seri webinar tentang masalah kanker payudara, 6 kali sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara untuk wilayah Indonesia Timur, Indonesia Tengah, Jawa Tengah dan DIY, 1 kali sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara untuk Mahasiswa dan Pelajar.

Pengaruhi Progresitivitas

Kejadian pandemi Covid-19, yang saat ini terjadi melanda seluruh dunia telah berpengaruh kepada kegiatan pelayanan essensial lainnya, termasuk dalam pelayanan dan upaya penanggulangan kanker karena prioritas dilakukan pada penanggulangan Covid-19, namun penting untuk disadari bahwa prevalensi pengorbit dengan totality  rate yang cukup tinggi.

“Hal ini dapat mempengaruhi progresitivitas dari penderita covid sehingga pelayanan terhadap penyakit yang menjadi pengorbit tetap harus terus diupayakan tanpa mengabaikan  pencegahan pada faktor resiko penyakit,” kata dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian  Kesehatan RI.

Dakam kesempatan yang sama, dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B-Onk, M.Epid selaku Pembina YKPI mengingatkan, dengan adanya  badai pandemi Covid-19 ini, dan penyakit ini sangat baru tentunya belum ada penanganan yang sudah terstandar. Beberapa hal yang sudah diketahui bahwa penyakit ini mudah menular dan ada beberapa orang yang lebih rentan terkena diantaranya  pasien kanker.

“Tetapi dengan ditundanya pengobatan kanker justru lebih memperburuk perkembangan penyakitnya itu sendiri. Jadi kita harus terus melanjutkan pengobatan kanker dengan mematuhi protokol kesehatan dan selalu berdoa semoga segalanya akan berjalan dengan baik,  tetap optimistis dan semangat,” kata dr. Sonar Soni.

Pada kesempatan acara temu penyitas ini, para penyitas berkomitmen  dengan melakukan pernyataan bersama yang isinya senantiasa menjaga kesehatan diri sesuai anjuran dokter, saling mendukung dan menguatkan sesama penyitas untuk melawan kanker payudara, tetap semangat, optimis dan selalu berdoa, senantiasa melakukan kampanye deteksi dini  dengan SADARI dan melakukan adaptasi kebiasaan baru dengan melaksanakan protokol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.