Cikeu Bidadewi saat tampil membacakan Bersatulah Pelacur Pelacur Jakarta (Foto: Dokumentasi SS #6)

Mengenang Sang Maestro Rendra

JAKARTA (IndependensI.com) – Menyebut nama WS Rendra, yang terlintas dalam ingatan kita bersama adalah seorang penyair dan dramawan yang kiprahnya selalu diawasi oleh rezim yang sedang berkuasa pada saat itu.

Karena, entah mendapat inspirasi atau bisikan dari siapa, para pejabat yang berkuasa pada saat itu menganggap bahwa WS Rendra dianggap ‘pengganggu’ stabilitas.

Padahal, apa yang dilakukan WS Rendra bukanlah gerakan politik. Hanya sebuah gerakan kebudayaan yang mencerahkan demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.

Patut dapat diduga karena gerakan kebudayaan yang dilakukan WS Rendra tidak (!) berbanding lurus dengan gerakan pembangunan (fisik) yang dicanangkan oleh rezim yang berkuasa pada saat itu.

Sehingga keberadaan Sang Maestro tersebut dianggap sebagai “kelilip” yang mengganggu ‘pandangan mata” para pejabat yang berkuasa pada saat itu.

Seperti yang diungkapkan oleh Maman S Mahayana, Ketua Yayasan Puisi Indonesia yang juga dosen di Universitas Indonesia, ketika membuka acara pergelaran Sastra Semesta #6 bertajuk 8ERPUI5I Rendra — antara lain — menyebut bahwa keberadaan WS Rendra sangat dihargai dan dihormati di luar negeri.

Tapi, keberadaan WS Rendra di negerinya sendiri tidak dianggap.

Sehingga semasa hidupnya ada wacana apakah tidak sebaiknya WS Rendra dianugerahi penghargaan sebagai bentuk apresiasi negara terhadap penyair dan dramawan dari Ketanggungan Wetan DIY – tidak serta merta ditanggapi secara positip.

Yang terjadi justru sebaliknya. Para pejabat pada saat itu justru mempertanyakan kontribusi apa yang telah diberikan WS Rendra terhadap negara?!

Komunitas Ruang Puisi Kita (RPK) tampil menampilkan musikalisasi puisi.

Tak Acuh

Sementara Ireng Halimun, pendiri sekaligus sebagai Ketua Komunitas Sastra Semesta, dalam pengantar tertulis sehubungan dengan pergelaran Sastra Semesta #6 yang berlangsung di Pasar Seni Gembrong, Cipinang, Jakarta Timur pada Sabtu (7/11/20) lalu, mengungkapkan kenapa pihaknya dalam pergelaran Sastra Semesta #6 mengusung tema “8ERPUI5I Rendra”, karena jika saja Maestro WS Rendra masih hidup pada 7 November 2020 ini dia berusia 85 tahun.

“Inilah cara kami mengenang, merespek dan menggaris-bawahi catatan indah sang pahlawan kebudayaan seni-budaya WS Rendra,” ujar Ireng Halimun.

Sebab, katanya lebih jauh, bagaimana mungkin masyarakat awam dapat mengenali, membingkai dalam ingatan dan menghargai perjuangan para pahlawan seni-budaya kalau peseni tidak acuh pada peninggalan bernilainya?

Andal

Sesuai dengan tema yang diusung, puisi yang dibacakan oleh para penampil, semuanya karya WS Rendra.

Seperti puisi berjudul Sajak Orang Lapar, Sajak Sebatang Lisong, Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia, Sajak Perjuangan Abimanyu, Sajak Ini Pertemuan Bermutu, Bersatulah Pelacur Pelacur Jakarta, Perjalanan Bu Aminah, Sajak Pertemuan Malam dan lain-lain.

Selain dibacakan oleh para penampil yang handal dalam olah vocal, intonasi, ritme dan interpretasi yang baik dan benar, juga ada puisi yang dibaca oleh penampil dengan iringan musik (musikalisasi puisi) berjudul Kangen, Gerilya, Doa Serdadu Sebelum Perang dan Gugur.

Menyimak puisi karya WS Rendra dalam acara pergelaran Sastra Semesta #6 yang dimulai pada pukul 15.15 WIB dan berakhir pada pukul 20.30 WIB, benar-benar menggetarkan hati sekaligus menginspirasi.

Oleh karena itulah maka menjadi sangat wajar bila acara pembaca puisi kala itu, baik yang digelar di kampus-kampus maupun di pusat-pusat kesenian, selain dipadati pengunjung dari berbagai kalangan, juga dipantau sejak awal hingga akhir oleh aparat keamanan (yang menyamar) dari rezim yang berkuasa pada saat itu.

Kesaksian

Seperti pergelaran SS #1-SS#5, pada Sastra Semesta #6 juga digelar Diskusi Budaya dengan pembicara Jose Rizal Manua dan Radhar Panca Dahana dengan moderator Eddy Pramduane.

Dalam diskusi tersebut baik Jose maupun Radhar memberi kesaksian tentang kedekatan mereka dengan WS Rendra.

Radhar mengungkapkan bahwa kedekatannya dengan Sang Maestro lebih banyak diwarnai “keributan”.

Yang “diributkan” oleh mas Willy (sapaan akrab WS Rendra) dan Reza (demikian WS Rendra menyebut nama Radhar) adalah sesuatu yang berhubungan dengan masalah seni-budaya.

Sungguhpun per-”temu”-an antara mas Willy selalu diwarnai “keributan, mas Willy tetap peduli terhadap Radhar, yang saat itu masih berstatus pelajar dari sebuah SMA Negeri ternama di Jakarta Selatan.

“Saya tetap diberi honor ketika Bengkel Teater Rendra mementaskan lakon Panembahan Reso – padahal keterlibatan saya dalam produksi pementasan tersebut lebih banyak membuat Rendra tersinggung karena selalu saya kritik,” ujar Reza… eh, Radhar Panca Dahana.

Sayang sekali, usai memberikan kesaksian tentang kedekatannya dengan WS Rendra, Radhar harus lebih dulu meninggalkan tempat acara Sastra Semesta #6 berlangsung, karena ada acara lain yang harus dihadirinya

Dilempar Bom

Meskipun begitu sesi Diskusi Budaya dalam kaitannya dengan pergelaran Sastra Semesta #6, sama sekali tidak kehilangan greget.

Karena, Jose Rizal Manua, pembicara berikutnya dalam kesaksiannya menceritakan suatu kejadian yang sangat mencekam dan menegangkan saat WS Rendra dilempar bom asap.

Seperti diketahui, dalam suatu penampilan baca puisi di panggung Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu, acara tersebut terhenti karena ada orang yang tidak bertanggungjawab melempar bom asap ke arah podium saat WS Rendra membacakan puisi hasil karyanya.

“Setelah saya dan beberapa sahabat akan mengamankan mas Willy meninggalkan Teater Terbuka, sontak mas Willy kembali ke mimbar.”

“Dan, lewat mikrofon mas Willy bertanya kepada para penonton yang masih belum beringsut dari tempat duduknya. Mas Willy bertanya: saudara-saudara acara ini dilanjutkan atau berhenti sampai di sini… Penonton langsung berdiri dan menjawab serempak bersahutan: lanjutkan… lanjutkan!”

Pertunjukkan baca tersebut dilanjutkan kembali, dan sampai pertunjukkan berakhir, tidak ada lagi oknum yang melempar bom asap ke panggung Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki.”

Disamarkan Menjadi Satpam

Pertunjukan baca puisi memang sudah berakhir. Tapi bukan berarti berakhir pula segalanya.

“Paling tidak, saya dan teman-teman bingung bagaimana membawa keluar mas Willy dari area Taman Ismail Marzuki selamat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.”

“Kenapa? Karena selain masih banyak penonton yang bergerombol, petugas keamanan yang menyamar juga masih banyak yang berkeliaran di area Taman Ismail Marzuki.”

Lalu, bagaimana cara Jose dan kawan-kawan membawa ke luar WS Rendra dari area Taman Ismail Marzuki, sambil tersenyum getir Jose Rizal Manua mengungkapkan pada malam itu dia meminjam seragam Satpam yang bertugas di Teater Terbuka.

“Saya kenal dengan Satpam tersebut. Kalau saya tidak keliru Satpam tersebut namanya Malik… Lalu saya meminjam seragam yang dipakai Malik, dan dengan seragam Satpam itulah saya dan teman-teman membawa mas Willy ke luar dari area Taman Ismail Marzuki dan selamat sampai di kediaman mas Willy di Pejambon…”

Dikondisikan

Dalam kesaksiannya tentang kedekatannya dengan WS Rendra, Jose Rizal Manua tak hanya sebatas mencatat peristiwa dramatis yang mencekam kalbunya; Akan tetapi, banyak juga kenangan yang sangat sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan (human interest) dari seorang Maestro yang bernama Willy Bordus Surendra Rendra.

Jose menangkap ada “sesuatu” yang dimiliki oleh WS Rendra yang tidak dimiliki oleh seniman seangkatannya.

“Tadi, Radhar, dalam kesaksiannya bercerita bahwa kalau dia bertemu mas Willy yang muncul adalah keributan dan eyel-eyelan.”

“Saya menduga itu memang sengaja dikondisikan, karena mas Willy tahu bahwa Radhar yang disapa dengan panggilan akrab Reza oleh mas Willy, memiliki potensi menjadi seorang pribadi yang kritis.”

Dan, lucunya, kata Jose Rizal Manua, meskipun kalau ketemu selalu “ribut” dan “eyel-eyelan”, tapi kalau Radhar lama tak tampak batang hidungnya di Cipayung, semua orang Bengkel Teater ditanya tentang keberadaan Reza.”

Hal lain yang membuat Jose Rizal Manua sangat terkesan dengan WS Rendra, “Dia sangat peduli dan memperhatikan setiap orang yang namanya tercata sebagai anggota Bengkel Teater,” tukas Jose Rizal.

Selain peduli, mas Willy juga tahu potensi yang dimiliki oleh pribadi lepas pribadi orang-orang yang berhimpun di Bengkel Teater.

Tanpa menyebut nama, Jose Rizal Manua mengungkapkan bahwa ada beberapa anggota Bengkel Teater, yang awalnya ingin menjadi aktor – tapi setelah WS Rendra tahu bahwa anggota tersebut memiliki potensi di bidang lain, oleh WS Rendra dia disuruh melanjutkan kuliah dengan biaya yang semuanya ditanggung oleh sang Maestro tersebut.

Dan, anggota yang disuruh melanjutkan kuliah tersebut — dalam kapasitas yang berbeda dengan Radhar Panca Dahana — di kemudian hari namanya juga dikenal secara luas di negeri ini. (Toto Prawoto)