YPA-MDR Gelar Talkshow dengan Tema “Bangun Sikap Adaptif dan Inovatif, Hadapi Era Disruptif, Siapkan Generasi Cerdas”

Loading

JAKARTA  (Independensi.com) – PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) menggelar Forum Komunikasi Sekolah Binaan (FKSB) ke- VII dengan mengusung tema “Bangun Sikap Adaptif dan Inovatif, Hadapi Era Disruptif, Siapkan Generasi Cerdas” tanggal 24 dan 25 November 2020.

Acara ini digelar dalam nuansa Hari Guru Nasional yang diperingati pada 25 November seraya tindak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan tahun lalu, acara kali ini diselenggarakan secara virtual dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Seiring dengan bertambahnya daerah binaan YPA-MDR dan mengingat situasi dan kondisi global yang dinamis maka sikap adaptif dan inovatif menjadi penting, untuk itu Forum Komunikasi Sekolah Binaan (FKSB) sangat perlu dan penting untuk diselenggarakan demi terjalin komunikasi dua arah dalam meningkatkan sinergitas yang baik antara YPA-MDR, Pemerintah dan Sekolah.

“Menapaki tahun ke-7 rangkaian penyelenggaraannya, kegiatannya ini diselenggarakan sebagai wadah dan forum untuk mendorong peningkatan kualitas dan prestasi sekolah binaan sehingga kemajuan pendidikan disuatu wilayah menjadi ‘Bechmark’ atau model di wilayah yang lainnya bahkan di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) dan pada gilirannya menjadi ‘Sekolah Kebangggaan Bangsa’,” kata Ketua Pengurus YPA-MDR, Herawati Prasetyo.

Pihaknya akan melakukan evaluasi pencapaian terhadap komitmen sekolah binaan yang telah dibuat tahun lalu dan juga pemaparan Komitmen yang akan dilakukan oleh sekolah binaan di tahun 2021, ujar Herawati .

Komitmen tersebut merupakan tanggung jawab sekolah yang harus dicapai selama satu tahun kedepan, sehingga harus disusun dan diimplementasikan dengan benar, yang disaksikan dan dapat didukung juga oleh Pemerintah Daerah dan Komite Sekolah binaan.

“Harapan kami, seluruh komitmen tersebut dapat meningkatkan kinerja, reputasi dan prestasi sekolah binaan sekaligus pencapaian prestasi Pemerintah Daerah di dunia pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, dalam acara ini YPA-MDR menghadirkan berbagai narasumber inspiratif yaitu keynote speech Koordinator Hukum, Tatalaksana dan Kepegawaian, Direktorat Jendral Paud Dikdasmen, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Suhartono Arham, M.Si.

selaku pembicara Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru Henny Supolo dan seorang Pegiat Seni dan Pendidikan Dian Sastrowardoyo, .

Pada kesempatan yang sama, YPA-MDR juga memberikan Apresiasi dan penghargaan kepada sekolah binaan diantaranya Kepala Sekolah Inspiratif, Guru Inspiratif, Siswa Inspiratif, Implementasi webinar terbaik, Sekolah dengan K3 Terbaik, Komite Sekolah Produktif dan Rumah Pintar serta Juara Umum Sekolah Binaan.

Kategori Juara umum ini diberikan oleh YPA-MDR kepada Sekolah Binaan memenuhi semua aspek dalam pilar pembinaan yang kami lakukan.

YPA-MDR mengajak semua pihak yang terkait untuk turut mewujudkan generasi muda yang mandiri dan mampu membangun daerahnya.

Sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara” sebagaimana cita-cita para pendiri Astra yaitu “Sejahtera Bersama Bangsa”.

Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim yang berdiri sejak tahun 2009 merupakan salah satu yayasan dari 9 yayasan yang dimiliki PT Astra International Tbk yang bergerak di bidang layanan pendidikan, sebagai salah satu pelaksana kontribusi sosial yang berkelanjutan khususnya pilar Astra untuk Indonesia Cerdas.

Visi, misi dan goal YPA-MDR adalah menjadi lembaga yang mewujudkan Sekolah Unggul di daerah prasejahtera dan yang mampu mencetak SDM berkualitas sebagai agent of change menuju masyarakat sejahtera.

Pola pembinaan yang dilakukan berdasarkan 4 Pilar, yang meliputi Pilar Akademis, Pilar Karakter, Pilar Kecakapan Hidup dan Pilar Seni Budaya.

Sekolah binaan YPA-MDR hingga saat ini telah tersebar di 12 Kabupaten dengan membina hampir 100 sekolah, yang terletak di Kabupaten Lampung Selatan, Serang, Tangerang Selatan, Bogor, Kapuas, Kutai Barat, Barito Utara, Bantul, Gunung Kidul, Pacitan, Kupang & Rote Ndao dengan jumlah guru mencapai 1300 orang.

Sementara itu Dr. Suhartono Arham menyampaikan soal kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Menurutnya, pertimbangan kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah menjadi fokus utama saat kebijakan belajar tatap saat masa pandemi dijalankan.

Suhartono mengungkapkan sejumlah dampak negatif yang terjadi karena pembelajaran tatap muka tidak dilakukan. “Pertama, ancaman putus sekolah. Risiko putus sekolah dikarenakan anak “terpaksa” bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi Covid-19. Persepsi orang tua, banyak orang tua yang tidak bisa metihat peranan sekolah dalam proses belajar mengajar apabila proses pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka,” ujarnya.