Ketua MPR Minta Pemerintah Fokus Bangun Infrastruktur 5 G

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo meminta agar Pemerintah semakin fokus membangun infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk teknologi 5G.

Pasalnya, dikutip dari berbagai sumber, disebutkan bahwa diperlukan ketersediaan spektrum 2,6 GHz demi efektivitas 5G, dengan bandwidth di kisaran 100 MHz. “Karena kemampuannya seperti itu, teknologi 5G bisa mewujudkan tidak hanya pabrik cerdas, tetapi juga mewujudkan rumah pintar, alat medis pintar hingga transportasi cerdas,” ujar Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam siaran pers, Rabu (24/3/2021).

Wakil Ketua Umum DEPINAS SOKSI ini menilai, teknologi 5G akan membangun dan mewujudkan kebudayaan baru. Banyak pekerjaan, dari yang rumit sampai yang paling sederhana, tidak lagi butuh otak dan peran tenaga manusia.

Menurutnya, Era 5G menjanjikan kehidupan yang lebih mudah, tetapi juga mengeliminasi begitu banyak pekerjaan yang sebelumnya butuh peran manusia.

“Sebagaimana diingatkan oleh Kepala Pusat Inovasi 5G di Universitas Surrey, Inggris, professor Rahim Tafazolli, ada harga yang harus dibayar manusia ketika sebuah pembaruan atau kemajuan terwujud,” paparnya.

Bamsoet mengatakan, sebagai negara yang diproyeksikan menjadi salah satu dari lima raksasa ekonomi dunia dengan total Produk Domestik Bruto 7 triliun dolar AS, transformasi digital di era 5G menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakoni bangsa ini.

“Bukankah Indonesia ingin menjadi bangsa yang tangguh dengan mewujudkan misi Indonesia Maju di tahun 2045?,” tanyanya.

Di sela-sela proses menyiapkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN), Bamsoet menyebut, MPR juga peduli pada proses dan progres transformasi digital di dalam negeri. Gonjang-ganjing isu jabatan presiden sampai tiga periode tak lebih dari skenario halu dari kelompok-kelompok yang lebih mementingkan syahwat kekuasaan.

Dengan peduli pada proses transformasi digital di semua sektor, MPR ingin mengingatkan semua elemen masyarakat bahwa ada tantangan besar yang harus segera direspons demi masa depan anak-cucu; mulai dari Generasi Y (lahir dalam rentang waktu 1981 – 1994), Generasi Z (1995 – 2010) hingga Generasi Alpha (lahir setelah tahun 2010).

“Tantangan riel ini harus dijawab dengan pemikiran-pemikiran visioner dari generasi orang tua saat ini,” katanya.

“Siap atau tidak siap, Indonesia harus bisa menyiapkan infrastruktur digital bagi masa depan Generasi Z, Y dan Generasi Alpha yang juga sering disebut iGeneration, generasi net atau generasi internet,” sambungnya.

Selain itu Bamsoet menambahkan, MPR akan banyak menyentuh kepentingan iGeneration dan Generasi Alpha. Menurutnya, sudah menjadi fakta bahwa percepatan transformasi digital tak terhindarkan karena faktor pandemi Covid-19.

Dia merasa masyarakat kian terbiasa dengan aktivitas daring, dari mulai belanja, proses belajar-mengajar hingga bekerja di rumah atau WFH (Work From Home). Pola hidup baru di tengah pandemi juga mendorong semua komunitas makin fokus dan peduli pada masa depan iGeneration dan Generasi Alpha.

“Jangan sampai mereka gagap karena ketidaksiapan negara mengadopsi teknologi 5G, menyiapkan talenta digital, dan merumuskan regulasi yang mumpuni,” tuturnya.